Chapter - 57

8.3K 208 4
                                        

Hawa dingin membuat Lili merapatkan tubuh polosnya pada suaminya yang senantiasa tak melepaskan pelukan dari tubuhnya. Suara lenguhan keluar dari bibirnya saat dirasa sebuah tangan membelai rambut dan punggungnya tanpa henti.

Dengan malas - malasan Lili membuka matanya. Menyambut sinar matahari yang menyerebak masuk ke dalam retinanya. Sebuah kecupan di kening menyapanya. Membuat Lili mendongak dengan matanya yang mengernyit.

"Good morning beautiful." sapa suaminya dengan senyum cerahnya. Lili menerbitkan senyumannya. Sepagi ini tapi hatinya sudah terasa sangat penuh karena suaminya itu.

"Good morning." sapanya kembali sembari merapatkan pelukan mereka. Tidak peduli dengan fakta bahwa kulit polos mereka saling bersentuhan. Atlas nya kembali menghujani pundaknya dengan kecupan - kecupan ringan. Membuat Lili menahan rasa geli di sekujur tubuhnya.

"Berhentilah sebelum kamu gak bisa menghentikannya lagi." gumam Lili seraya menahan tawanya.

"I dont like to be stopped." bisik Atlas di telinganya. Sengaja menggoda Lili yang sekarang sudah salah tingkah.

"Apa suamiku memang semesum ini?" tanya Lili seraya menatap wajah tampan suaminya. "Aku juga baru mengetahui itu semalam sayang."jawab Atlas yang tersenyum jenaka.

"I think you officially became my new addiction Lili." tambah Atlas lagi. Lili mencubit pinggangnya ringan, membuat Atlas mengaduh dengan cara yang berlebihan.

"Dasar gombal!" hardik Lili dengan tawa lepasnya. "Aku mau mandi, badanku lengket sekali." ucap Lili seraya mulai menguncir rambutnya membentuk messy bun.

"Boleh aku ikut?" tanya Atlas sembari memeluk pinggangnya dari belakang. "Gak boleh." jawab Lili seketika seraya menatap suaminya yang mencebikkan bibirnya seperti anak kecil.

"Kenapa gak boleh?" tanya Atlas seraya dagunya ia tumpukan pada bahu Lili yang polos. "Cause i know what's inside your head." ucap Lili diakhiri kecupan ringan pada bibir prianya.

Lili lantas menarik selimut mereka, menjadikannya kain untuk menutupi tubuh polosnya. Kakinya bergerak memakai sandalnya. Sebelum kemudian Lili mencoba beranjak berdiri.

"Shh.."

"Kenapa? Sakit ya? Apa separah itu?" Atlas bergerak untuk berlutut didepan Lili yang kembali terduduk di kasurnya.

Yang ditanya justru tertawa melihat wajah Atlas yang terlihat khawatir. Dengan lembut tangan Lili menghampiri rahang tegas prianya itu. Mengelusnya dan berkata, "I'm ok." seraya tersenyum.

"Maaf ya, aku gak tahu akan sesakit itu." ujar Atlas seraya memeluk kedua kaki Lili yang ada dihadapannya. Wajahnya mendongak menatap wajah cantik Lili.

"Aku gak apa - apa sayang." ujar Lili menenangkan. Atlas kemudian menarik tangan Lili mengecup punggungnya berulang kali sebelum berdiri dari tempatnya dan tanpa aba - aba menggendong Lili.

"Ahh! Kamu mau ngapain?" protes Lili saat tiba - tiba tubuhnya melayang di udara dan Atlas membawanya ke arah kamar mandi.

"Sepertinya memang benar kalau perkataan suami itu tidak boleh dibantah sayang. Dan sepertinya mandi bersama terdengar lebih efisien untuk kita lakukan sekarang." ucap Atlas yang entah bagaimana terdengar seperti sedang menggodanya.

"Atlasss!! Aku gak mau!!!"

- - -

Lili menggerutu dalam hatinya. Benar - benar baru tahu bahwa Atlas bisa semenyebalkan ini. Efisien apanya? Pria itu membuat mereka sarapan di jam 11 siang. Ini bahkan tidak bisa lagi disebut sarapan.

The ManTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang