Heavenly's POV
Tubuhku menggeliat, sensasi tak nyaman dari daerah punggung membangunkanku. Rasanya pegal, pegal yang sangat tak tertahankan dan mengganggu. Lebih terasa lagi di daerah pinggul. Mataku terbuka, membangunkanku dari tidurku.
Aku membalikkan tubuhku, menemukan sosok suamiku yang ternyata masih terlelap tidur. Semalam saat aku tidur, ia belum bersamaku. Atlas masih dalam perjalanan menuju Jakarta setelah sebelumnya melakukan perjalanan bisnis ke Bandung. Aku pikir dia akan pulang esok atau lusa, tapi ternyata ia pulang lebih cepat, membuat aku mengukir senyuman ku pagi ini karena kehadirannya.
Aku menyingkirkan selimut, kemudian secara perlahan bangun dari posisi berbaringku dengan susah payah. Tangan kiriku menopang berat badanku sedang tangan lainnya memeluk perutku yang semakin membesar. Aku baru saja memasuki minggu ke 29 kemarin. Satu minggu lalu kami sekeluarga mengadakan acara 7 bulanan untuk mendoakam bayi kami.
Rasanya sangat menyenangkan, hatiku terasa penuh mengetahui seberapa disayangnya anak kami ini bahkan sebelum ia lahir ke dunia. Atlas bahkan menangis saat sesi berdoa, sebelah tangannya membentuk posisi berdoa sedang tangan satunya dengan gemetar terus menerus mengusap perutku bahkan setelah sesi berdoa berakhir.
Sepertinya itu pertama kalinya aku melihat ia menangis di depan banyak orang setelah tangis harunya saat kami menikah dulu. Kalau dipikir - pikir, soal anak, Atlas memang selalu mendambakan dirinya menjadi seorang Ayah. Bahkan sebelum kami menikah, ia sudah punya nama sendiri untuk anak kami.
Aku terkekeh, hatiku sekali lagi menghangat setiap kali nama atau cerita tentang suamiku terlintas di kepalaku. Dengan perlahan aku berjalan menuju ke kamar mandi. Mematut diriku di cermin dengan balutan dress tidur berwarna putih yang mencetak jelas perutku.
Aku kemudian membasuh wajahku, membersihkannya dengan sabun sekaligus menggosok gigiku sebelum akhirnya mengeringkannya dengan handuk. Kemudian aku mengambil sisir untuk merapikan suraiku, sebelum akhirnya kembali berjalan keluar meninggalkan kamar mandi.
Hal pertama yang aku lihat setelahnya adalah suamiku yang sudah membuka matanya. Senyumnya terbit saat ia melihatku keluar dari kamar mandi itu. Tanpa mengubah posisinya, ia merentangkan tangannya, kemudian dengan suara seraknya ia berkata,
"Hey baby," tuturnya disambut dengan senyumku, "Good morning sleepy head," balasku saat kami bertukar senyuman.
"Do you wanna come cuddle?" tanyanya lagi seraya memberikan ruang untukku disisinya. Aku tidak menjawab apapun, namun tanpa paksaan aku mendekat ke arahnya dan masuk ke dalam pelukannya.
Kami tidak mengatakan apapun, hanya saling berbagi hangat satu sama lainnya. Saling merasakan cinta kami meski tak mengatakan apapun. Aneh, aku merasa panas. Padahal biasanya kami bisa diam dalam posisi ini dalam waktu yang cukup lama.
Aku kemudian menarik diriku, menatap suamiku curiga sebelum akhirnya meletakkan punggung tanganku pada dahinya untuk memeriksa suhunya. Benar saja, suamiku demam.
"Mas sakit?" tanyaku walaupun aku sudah tahu betul jawabannya. "Engga sayang," ucapnya serak sembari menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku.
"Badan Mas panas," ucapku lagi diiringi dengan nada khawatir. Tanganku mengusap surainya penuh sayang. Apa ini yang membuatnya pulang lebih awal?
"Aku udah minum obat kok semalam, sekarang udah mendingan," gumamnya lagi. Aku berdecak, betul kan dia sakit!
"Kerjanya jangan terlalu di forsir dong Mas.." ucapku setengah memohon. "Harusnya kamu di Bandung itu kan tiga hari Mas, kenapa harus dipaksa diselesain di satu hari sih?" tanyaku lagi mulai menggerutu.
Suamiku diam saja, hanya semakin menenggelamkan dirinya pada pelukanku. "Gak enak sayang kalau terlalu lama," tuturnya setelah kami lama saling berdiam. "Gak enak gimana sih Mas? Namanya juga kan kerja-"
"Gak ada kamunya, gak enak." potongnya lagi. Suaranya terdengar sangat kecil, seakan dia malu mengungkapkannya. Persis seperti anak kecil yang ketahuan berbohong.
Aku terdiam, tidak menyangkal bahwa hati dan pipiku menghangat disaat bersamaan. "Nanti habis kerjaannya selesai kan bisa ketemu aku Mas. Bisa video call, bisa telfon juga, atau kalau Mas mau aku bisa ikut-"
"Kelamaan sayang. Lagian kalau cuma video call sama telfon itu rasanya justru makin kangen." gumamnya lagi seraya menarik tanganku yang sempat pergi dari kepalanya untuk ia letakkan kembali disana, maksudnya agar aku terus mengusap rambutnya itu.
"Kalau kamu ikut, nanti kamu capek, kalau gak kamu bosen." lanjutnya lagi. Kali ini ia menurunkan tubuhnya, beralih untuk mensejajarkannya dengan perutku. "Halo anak papa!" sapa Atlas girang meskipun masih dengan suaranya yang serak.
"Papa habis dimarahin Mama, kok kamu gak tolongin sih?" curhatnya yang membuatku mendengus. Tak lama, karena akhirnya aku sedikit meringis karena merasakan tendangan dari anak kami. Atlas menoleh, menyadari ringisanku dan dahiku yang sedikit berkerut.
"Hey... pelan - pelan ya. Jangan buat Mama sakit." ucapnya seraya mengusap perutku lagi. Tanganku mendarat lagi pada rambutnya, sebelum kembali ku usap dan membelainya dengan lembut.
"Sayang?" panggilnya sambil menatapku. Aku berdeham sebagai jawaban. Atlas lantas mensejajarkan wajah kami, meninggalkan kecupan di dahiku, sebelum kembali menatapku dengan dalam.
Astaga, anak kami bahkan sudah sebentar lagi lahir, tapi aku masih saja salah tingkah kalau ditatapnya begini.
"Makasi banyak ya," ungkapnya tanpa memutus tatapan kami. Aku menerbitkan senyumanku, tau betul dia akan mengatakan hal apa. Karena ini, bukanlah kali pertamanya.
"Sama - sama Mas," ucapku seraya mengecup puncak hidungnya. Suamiku kemudian menarikku dalam pelukkannya dan menghujani kepalaku dengan banyak kecupan ringan. Tangannya tak berhenti mengusap punggungku, ia tahu, kalau aku sering pegal di sekitar sana. Dan sentuhan tangannya itu selalu bisa membuatku nyaman dan lebih baik.
"Makasi karena udah jadi istri aku, istri yang hebat dan sabar. Makasi-"
"-karena udah jaga anak kita dan buat dia tetap sehat. Aku sayang banget sama kamu..." lanjut kami bersamaan sambil menatap manik mata satu sama lain.
Aku sudah bilang kan? Ini bukan kali pertamanya. Aku bahkan sudah hapal setiap kalimatnya.
Kami kemudian saling tertawa. Merasa lucu karena hal sesederhana itu. Suamiku mendaratkan bibirnya pada milikku, mengecupnya lama seakan memberitahu seberapa besar perasaannya padaku.
"Ayo, kita obatin Mas dulu," ajakku begitu ciuman kami terlepas. Suamiku tersenyum cerah, tangannya terulur merapikan suraiku sebelum aku melihatnya menggeleng dengan samar.
"Aku udah sembuh kok sayang," ucapnya sembari menghujani wajahku dengan kecupan ringan. "Jangan mulai deh Mas," protesku karena tahu ia akan menggombal.
Ia tertawa puas. Tanpa ingin beranjak dari posisi kami, ia justru semakin menenggelamkan pelukannya. Membawaku masuk dalam sebuah kenyamanan yang selalu aku dambakan.
Ya Tuhan, terimakasih karena sudah mengirimkannya untukku.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
The Man
RomansaWARNING !! Cerita ini bakal bikin kamu salting brutal dan senyam senyum sendiri!!! *Short Chapter Warning* - - - "Aku gak percaya kalau kamu cuma pernah pacaran saat kamu SMA." gumam Lili seraya menatap pria tampan didepannya, Atlas. "Kenapa gak per...
