Lili melangkahkan kakinya dengan perlahan setelah beberapa jam lalu mendekam di kamarnya. Sebelah tangannya membawa botol minum berisikan air mineral sedang rambutnya ia gulung sehingga membentuk messy bun. Wajahnya baru saja ia bilas dengan air dingin sehingga menghadirkan kesan yang lebih segar.
Langkahnya menuju ke arah dapur, berniat untuk mengisi botol minumnya yang hampir kosong serta mengambil camilan dari dapurnya. Kakinya sempat tertahan begitu mendengar suara suaminya yang sepertinya sedang rapat online di area meja makan.
"Kenapa bisa laporannya baru masuk sekarang? Kalian sudah telat dua hari dari timeline awal." ucap Atlas mengintimidasi.
"Maaf Pak, tapi kami sempat terkendala untuk data dari divisi-"
"Kenapa baru diinformasikan sekarang? Kalau kalian tahu akan terlambat kenapa gak diinformasikan dari awal?" potong Atlas lagi sembari berdecak.
Rambutnya ia sisir ke belakang dengan rautnya yang frustrasi. Sial. Karena berdebat dengan istrinya, suasana hatinya menjadi buruk seperti saat ini.
"Si Bapak kenapasi tumben banget marah - marah-"
"Mel! Mute dulu !! Lo masih on mic-"
Atlas berdecak sekali lagi. Berniat untuk berpura - pura tak mendengar karyawannya. Suara helaan nafasnya yang kasar memenuhi pendengaran Lili yang sedang membuka kulkas di seberangnya.
"Maaf pak," ucap wanita yang dipanggil dengan sebutan Mel dari seberang panggilan.
Lili mengambil dua tangkap roti tawar dari atas kitchen island, tangannya yang lain dengan sibuk mengambil toples selai kacang untuk ia baluri ke roti polos itu.
Diambilnya pisau bersiap untuk mengoleskan selai kesukaannya pada roti di hadapannya. Sial seribu sial, toplesnya sangat sulit untuk Lili buka. Berkali - kali tangannya memutar tutup toples itu, tetap tidak ada tanda - tanda akan terbuka.
Lili berdecak. Dengan sebal meletakkan toples yang digenggamnya barusan dengan kasar. Sebuah dengusan keluar dari hidungnya. Kesal rasanya karena ia tidak bisa menikmati selai kesukaannya.
Wajahnya terangkat, tak sengaja bertabrakan dengan manik mata suaminya yang ternyata sudah memperhatikannya sedari tadi. Ah, Lili malas mengakui ini. Tapi ia masih kepalang gengsi jika harus meminta bantuan Atlas.
Tapi Lili benar - benar mengidamkan selai kacang itu sekarang! Entahlah sepertinya bayi yang dikandungnya sedang berkhianat. Atlas sudah mengakhiri panggilannya, pria itu berdiri seraya membawa laptopnya dan berjalan mendekat ke arah Lili.
Pria itu tidak berkata apapun. Yang dilakukannya hanyalah duduk di kitchen stool tepat disebrang Lilinya. Kemudian pria itu kembali menyibukkan diri dengan laptopnya. Tidak. Atlas tidak membantu Lili membukakan toples selai kacangnya. Padahal Lili kira suaminya itu akan melakukannya.
Jadi yang terjadi adalah Lili yang justru mengoleskan mentega diatas rotinya, kemudian menaburkan meses diatasnya kemudian membawa roti itu ke ruang keluarga untuk ia santap sembari menonton TV, meninggalkan suaminya yang barusan duduk tepat dihadapannya.
Lili mendudukan dirinya di sofa dengan susah payah. Tangannya dengan kesulitan meraih remot yang ada pada meja didepan nya. Kemudian setelahnya, wanita hamil itu dengan tenang menyantap rotinya.
Namun yang terjadi setelahnya adalah Lili mendengar suara dering ponselnya yang berbunyi. Seseorang baru saja meneleponnya. Ck! Tapi ponselnya tertinggal di kamarnya. Lelah sekali kalau Lili harus bangkit dari duduknya yang nyaman ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Man
Roman d'amourWARNING !! Cerita ini bakal bikin kamu salting brutal dan senyam senyum sendiri!!! *Short Chapter Warning* - - - "Aku gak percaya kalau kamu cuma pernah pacaran saat kamu SMA." gumam Lili seraya menatap pria tampan didepannya, Atlas. "Kenapa gak per...
