Kalau boleh diingat - ingat, sepertinya baru kali ini Atlas melihat istrinya seterpuruk ini. Lili yang dikenalnya sangat jauh dari kata menyedihkan. Tapi hari ini berbeda, sepertinya datang bulannya benar - benar mempengaruhi perasaannya.
Meski begitu, Atlas tak keberatan sama sekali. Ia tak keberatan menemani Lili berulang kali ke kamar mandi karena terus memuntahkan isi perutnya sebab ia melewatkan makan malamnya. Ia tak keberatan meski harus berulang kali menghela nafasnya karena merasa ikut merasakan kesedihan yang Lili rasakan.
Atlas memang selalu ingin menjadi seorang Ayah, memiliki anak - anak yang lucu hasil cinta dengan orang yang sangat dicintainya. Tapi, kalau harus melihat Lili seterbebani ini, rasanya tidak adil jika Atlas masih menuruti egonya untuk kehadiran seorang anak. Baginya, kebahagiaan istrinya nomor satu, bahkan melebihi kebahagiaannya sendiri.
Atlas tidak pernah mau kalau keinginannya itu justru membuat Lili merasa tertekan seperti ini. Sekali lagi, Atlas menuntun Lili ke tempat tidurnya. Sekarang wanita itu mengeluh kepalanya pening dan tubuhya lemas. Tubuh wanita itu sudah meringkuk di sisi tempat tidurnya, sesekali ringisan terdengar keluar dari bibirnya.
"Sebaiknya kita ke dokter sekarang." titah Atlas mulai khawatir. Dengan gusar kakinya melangkah menuju walk in closet untuk mengambil mantel Lili.
"I'm ok. Aku memang selalu begini setiap datang bulan, remember?" tolak Lili saat Atlas memakaikan mantel padanya. Atlas berdecak, perasaannya tidak enak. Melihat Lili begini membuatnya gusar dan tak nyaman.
"Kamu harus mendengarkan aku kali ini. You're suffering Lili and i dont like to see that." tegas Atlas setelahnya. Lili pun akhirnya berdiri, mengikuti langkah Atlas yang menuntunnya untuk keluar dari kamar. Sebelum akhirnya seluruh pandangannya mendadak gelap gulita dan ia merasakan dirinya yang hampir jatuh ke lantai jika saja Atlas tidak meraih pinggangnya lebih dulu. Dan setelahnya, tidak ada lagi yang bisa dilihat atau didengarnya. Hanya kegelapan yang menguburnya.
- - -
Atlas terduduk di sisi ranjang rumah sakit yang sedang dipakai Lili berbaring. Wanita itu masih belum sadarkan diri hingga sekarang. Atlas meraih tangan wanitanya itu yang sekarang tertancapkan infus. Berulang kali Atlas mengecupi punggung tangan itu. Sesekali ia menyeka air matanya yang tanpa bisa ia cegah keluar begitu saja dari ujung matanya.
"Eungh.." suara lengguhan dari Lili membuat Atlas terjaga. Lelaki itu lantas berdiri dan melihat mata istrinya perlahan terbuka dan bertemu pandang dengannya.
"Sayang, akhirnya kamu bangun." ucap Atlas lega yang pertama kali terdengar oleh Lili. Lelaki itu menyambut kesadarannya dengan sebuah pelukan yang amat lembut. Mengusap kepalanya berulang kali dan meninggalkan kecupan di dahi istrinya.
"I'm sorry to ruin your birthday," bisik Lili ditelinga Atlas. Suaranya terdengar lirih dan tak bertenaga. Atlas sontak menggeleng. Tak setuju dengan apa yang baru saja didengarnya.
"You're not ruining anything sayang. You even make my birthday special." ucap Atlas seraya mengusap pipi Lili berulang kali. Tubuh pria itu sudah terduduk di sisi ranjang Lili. Membuatnya lebih dekat dengan istrinya itu.
"Kamu gak perlu bilang begitu cuma untuk membuat aku merasa lebih baik Mas." gumam Lili dengan matanya yang mulai berkaca. Namun Atlas justru tersenyum. Pria itu meraih tangan Lili yang terbebas dari infus dan membawanya ke atas perut Lili.
"Your gift is already arrived," ucap Atlas yang membuat dahi Lili mengkerut. "There's no way. Aku bahkan sedang datang bulan Mas, remember?" sergah Lili tak percaya.
Atlas menggelengkan kepalanya dengan mata yang sudah berkaca. Sebisa mungkin menahan air mata harunya yang sudah siap meluncur dari matanya. "Dokter bilang itu pendarahan sayang." mendengar perkataan Atlas justru membuat tubuh Lili menegang dan hal itu tertangkap jelas di pandangan Atlas.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Man
RomansaWARNING !! Cerita ini bakal bikin kamu salting brutal dan senyam senyum sendiri!!! *Short Chapter Warning* - - - "Aku gak percaya kalau kamu cuma pernah pacaran saat kamu SMA." gumam Lili seraya menatap pria tampan didepannya, Atlas. "Kenapa gak per...
