Wanita cantik itu beranjak dari posisi duduknya. Sebelah tangannya memeluk sang buah hati yang ada di dalam perutnya. Kakinya meraba permukaan dibawahnya, beranjak mengenakan alas kakinya sembari kedua mata indahnya menatap lurus pada pintu kamar mandi yang terbuka.
Dengan langkahnya yang mulai terasa sulit karena usia kehamilannya yang semakin menua, Lili berhasil menggapai gagang pintu walk in closet nya. Matanya berbinar begitu melihat sang suami sedang menata rambutnya dengan sangat serius.
Dari samping pria itu Lili memeluknya. Menghirup dalam aroma suaminya yang sangat menenangkan batinnya. Matanya terpejam seraya tangannya melingkar erat pada pinggang suaminya yang telah berbalut tuxedo hitam yang elegan.
"Sudah bangun?" ucap Atlas setelah mengecup kening istrinya dengan singkat. Tangannya meletakkan sisir yang sebelumnya ia genggam. Beralih memusatkan seluruh perhatiannya pada sang pujaan hati.
Dengan mudah Atlas meletakkan kedua tangannya pada kedua sisi tubuh Lili sebelum akhirnya mengangkat tubuh wanitanya dan mendudukkan Lili di atas meja rias berbahan marmer di ruangan itu.
Tangan Lili beralih melingkar di leher suaminya. Sekarang kedua mata mereka saling bertatap dengan tinggi yang sejajar. "You're so handsome," bisik Lili terdengar sedikit menggoda di telinga Atlas.
Atlas melepas kekehannya. Matanya menatap Lili dengan sorot menantang. "Because i'm your husband," respon Atlas membuat Lili bersemu.
Mata Atlas beralih menyorot kedua kaki istrinya. Sekarang kaki itu terlihat membengkak dari biasanya. Pasti bukan hal yang mudah untuk mengandung dan membawa buah cinta mereka kemanapun ia pergi.
Tangan Atlas beranjak meraih sebelah kaki istrinya. Memijatnya tanpa pamrih sehingga membuat Lili bersandar pada bahunya dengan tangan yang masih melingkari lehernya.
"Aku akan batalkan kepergianku. Biar aku bisa menemanimu disini," gumam Atlas. Hatinya merasa khawatir saat memegang kedua kaki Lili yang terasa sangat tegang dan keras.
Gesekan di bahunya saat Lili menggeleng membuat Atlas secara tak sadar menghela nafasnya. "Jangan, pasti banyak tamu nungguin kedatangan kamu Mas," ucap istrinya pelan.
Atlas berdecak dengan tangannya yang masih belum berhenti memberikan pijatan halus di kedua kaki istrinya. "I honestly dont really give a f-"
Cup!
"Watch your word Mas. Bukan cuma kita berdua yang ada disini." perintah Lili saat sudah memprediksi apa yang akan suaminya lontarkan.
Di depannya Atlas sekali lagi menghela nafasnya. Tangannya beranjak membuka tuxedonya. Lengan kemejanya pria itu gulung hingga ke siku. Dasi kupu - kupu yang sebelumnya melingkar di kerah kemejanya juga ikut ia lepaskan.
Dari pandangannya Lili melihat Atlas merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya dari dalam sama di menit berikutnya.
"Halo Bunda?" ucap Atlas pertama kali saat sambungan telepon yang ia inisiasi dijawab oleh si penerima.
Lili menghela nafasnya, sebuah ringisan keluar dari bibirnya saat dirinya mencoba untuk turun dari meja rias yang ia duduki. Dengan sorotnya yang sangat protektif, Atlas memegang paha istrinya. Hal itu membuat Lili kemudian menghentikan niatannya untuk turun begitu melihat gelengan tegas suaminya yang tak mengizinkannya.
"Bunda, Atlas minta maaf. Tapi Atlas benar-benar gak bisa tinggalin Lili." ucap lelaki itu dengan nadanya yang lembut. Terdengar santai namun Lili tahu suaminya itu sedang gusar.
"Lili baik - baik saja. Tapi Atlas gak tega meninggalkannya sendirian." lanjutnya lagi seraya matanya menyorot Lili dan tangannya mengusap surai istrinya dengan sangat lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Man
RomanceWARNING !! Cerita ini bakal bikin kamu salting brutal dan senyam senyum sendiri!!! *Short Chapter Warning* - - - "Aku gak percaya kalau kamu cuma pernah pacaran saat kamu SMA." gumam Lili seraya menatap pria tampan didepannya, Atlas. "Kenapa gak per...
