Chapter - 77

3.5K 135 14
                                        

Serius, aku gak mau tamatin cerita ini. I'm too in love with them, ku ga rela kalo harus berpisah sama mereka, please ini gak cuma aku doang kan?

- - - -

Heavenly's POV

Tanganku yang berada diatas pangkuanku kini saling meremas satu sama lain. Sudut mataku sesekali melirik seseorang yang sedang berada di balik kemudi. Raut wajahnya terlihat tenang tapi ia lebih sedikit berbicara sejak beberapa menit lalu.

Aku meraih kain kemeja yang mengantung di siku maskulin itu. Membuat sosok di balik kemudi itu yang tak lain adalah suamiku beranjak menoleh dan menatapku dengan tatapan hangat yang selalu diberikannya.

Ia bergumam, seakan bertanya "ada apa?". Suaranya mengalun lembut tanpa ada sarat kesal atau marah sedikitpun.

"Mas masih marah ya?" tanyaku hampir terdengar seperti bisikan. Atlas, suamiku, ia meraih tanganku, jemarinya mengisi rongga jemariku. Tatapannya masih berfokus pada jalanan di depannya. Ia tersenyum tapi aku sempat mendengarnya menghela nafas.

Seakan memvalidasi bahwa jawaban dari pertanyaanku adalah benar tapi disaat yang bersamaan juga tak ingin mempermasalahkannya.

"Mas mau kita putar balik aja?" tanyaku kembali ragu - ragu. Namun Atlasku diam saja. Jemarinya justru sibuk mengusap punggung tanganku.

"Mas..." aku merengek, meminta jawaban darinya dengan putus asa. Suamiku lantas menoleh. Sebuah senyum hangat yang tetap terlihat tulus baru saja terbit di wajahnya. Sangat berbanding terbalik dengan mataku yang mulai memanas. Merasa tak enak karena membuat suamiku jadi pendiam begini.

"It's ok sayang, i'm not mad." jawab suamiku dengan nada yang tenang dan lembut seperti biasanya. "But you're ignoring me," protesku dengan air mata yang akhirnya menggenang.

Ck! Dasar hormon!

"I'm not ignoring you princess," ucap suamiku lagi seraya mengecup punggung tanganku. Tapi lagi - lagi tatapannya justru menghadap ke jalanan di depannya.

"You're not even looking at me Mas," tuturku dengan suara bergetar. Resmi sudah air mataku terjun melewati kedua pipiku. Suamiku menoleh, lantas terlihat panik dan segera menepikan mobil kami.

Aku menangis, berisik, sedikit terisak. Mirip seperti anak kecil yang tak dibelikan balon. Bahuku naik turun dengan tanganku yang meremas genggaman tangannya.

"Sayang... kenapa nangis?" tanya suamiku seraya menarik diriku masuk ke pelukannya. Aku melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya, memeluk suamiku erat karena aku yang membuatnya merasa sedih tadi.

"I'm sorry..." rengekku lagi dengan suara yang terdengar dramatis. Suaraku terdengar bergetar. Dadaku terasa berat. Sedikit kesal karena suamiku bahkan tidak merajuk atau marah saat aku membuatnya sedih.

Atlas, hanya Atlas. Entah ia terbuat dari apa. Entah bagaimana pola pikirnya terbentuk. Tapi... manusia mana yang sedang kesal namun tetap tersenyum begitu sih?!

"Gak apa sayang... Astaga, now i'm the one who feels sorry" ucap suamiku setelah menarik tubuhnya menjauh. Tangannya menghapus air mataku dan kemudian bibirnya menghujani kedua kelopak mataku dengan kecupan.

The ManTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang