Chapter - 80

3.9K 145 6
                                        

Atlas menoleh ke sisi kirinya. Dalam sekejap ia mendapati keberadaan istri cantiknya yang sedang duduk di sampingnya dengan pandangan ke luar jendela mobil. Tangan lembut pemilik paras cantik itu masih di dalam genggamannya, tapi entah hanya perasaannya saja atau memang permukaan kulit di genggamannya itu terasa sedikit berkeringat?

"Is my wife ok?" tanya Atlas seraya menurunkan wajahnya untuk mendekat ke hadapan istrinya. Lili menoleh, menyajikan senyumnya yang terlihat gugup yang langsung terpotret dalam pandangan Atlas.

Lili mengangguk. "A bit nervous. Just a bit." ucap Lili disertai kekehannya yang terdengar canggung. Lantas Atlas dibuat tersenyum oleh karenanya, sebuah tawa ringan terlepas dari bibirnya.

"Apa yang membuat si cantik ini gugup? Hm?" tanyanya seraya membawa istrinya ke dalam dekapannya. Dari telinganya, Atlas mendengar Lili menghela nafasnya singkat.

"Gak tahu. Mungkin karena sudah lama gak datang ke acara seperti ini?" gumam Lili di dadanya seraya memainkan ujung jas milik suaminya.

"We can turn around if you want to," ucap Atlas memberi solusi sedang tangannya tak berhenti mengusap surai istrinya demi memberikannya ketenangan.

Dalam waktu singkat, si cantik itu melepaskan pelukan mereka lalu menatap suaminya dengan wajah yang sungkan. "Gak apa kok Mas, kita juga udah hampir sampai," ujar Lili seraya menatap suaminya lagi.

Lili tidak mau kalau suaminya harus membatakalkan kehadirannya lagi pada acara - acara besar seperti ini hanya karenanya.

Dan disinilah mereka berakhir, di sebuah ballroom hotel tempat dimana acara yang mereka hadiri dilaksanakan. Lili menarik nafasnya dalam seraya satu tangannya mengusap perut buncitnya untuk mengumpulkan ketenangan di dirinya.

"There's too many people," bisiknya pada sang suami. Atlas terkekeh seraya mengusap punggung Lili dengan lembut. "Rileks sayang, take a deep breath." ucap Atlas padanya seraya tersenyum.

"I already did that Mas," gerutu Lili. Mereka kemudian melangkah lebih jauh. Tangan Atlas tak pernah berhenti melingkari pinggang istrinya. Atlas benar - benar membawanya kemanapun ia pergi. Mengenalkannya pada setiap koleganya dan bahkan tak segan memujinya di depan investornya.

Atlas menoleh pelan saat merasakan pegangan Lili di lengannya sedikit mengerat. Istrinya itu masih menunjukkan seulas senyumnya tapi Atlas tahu ada sesuatu yang lain di dalam benak istrinya itu.

"Maaf Pak Rama. Sepertinya kami harus izin kembali ke meja kami. Istri saya tidak bisa terlalu banyak berdiri." ucap Atlas seraya menyunggingkan senyumnya pada salah satu rekan bisnisnya itu. Lili tertawa seraya meringis pelan, merasa tak enak karena suaminya ternyata menyadari ketidaknyamanannya.

"Oh! Iya iya! Silahkan Pak Atlas." ujar Pak Rama mempersilakan. Keduanya lantas pamit menuju table mereka. "Bukannya tadi kamu udah janji untuk bilang ke aku seandainya kamu lelah?" tanya Atlas. Huft, sudah lama Lili tak mendengar nadanya yang mengintimidasi itu. Ia tahu suaminya mungkin termakan khawatir.

"Mas, aku cuma gak enak untuk interupsi percakapan kamu tadi-" bela Lili seraya melirik suaminya saat Atlas menarikkan kursi untuk ia tempati.

"That's not our deal princess," potong suaminya itu seraya menghela pelan nafasnya meski senyum tetap tak luntur dari wajah tampannya itu.

"I'm sorry..." pinta Lili seraya menatap manik dengan sorot khawatir suaminya. Atlas meraih jemarinya, membawanya ke dalam genggamannya sebelum akhirnya mengecup punggung tangan istrinya dengan lembut.

Ia menggeleng, "Harusnya aku yang bilang maaf. I'm sorry for making you feel like now princess. Kita bisa pulang sekarang kalau kamu mau, setidaknya mereka sudah liat kehadiranku tadi-" Hati Lili menghangat.

"Aku gak apa Mas. Lagi pula sebentar lagi acara nya selesai, jadi kita bisa disini sebentar lagi. Ok?" ujar Lili. Dari sorot matanya, Lili tahu suaminya itu tak sepenuhnya setuju. Namun akhirnya pria itu memenuhi keinginannya.

"Atlas?" sebuah suara yang datang dari belakang mereka membuat keduanya menoleh. Disana, Lili mendapati seorang wanita cantik dengan auranya yang elegan. Terbalut dalam gaun berwarna merah dengan segelas white wine yang terapit di jemari kanannya.

"Abigail right?" ujar Atlas balik bertanya dengan nadanya yang tak yakin. Kepalanya sedikit ia miringkan seakan ia tak yakin. Dalam pandangannya, Lili melihat sebuah senyum cerah terbit di wajah cantik wanita bernama Abigail itu. Sebelum dengan santainya ia beranjak mendekat untuk mengecup kedua pipi suaminya.

Hah? Sebenarnya apa yang sedang Lili saksikan ini?

Untungnya, kecupan itu tak pernah terjadi. Atlas secara spontan menarik dirinya menjauh seraya mengangkat tangannya sebagai pembatas untuk keduanya. "Oh my God! It's been so long isn't it?" wanita bernama Abigail itu menarik kursi di samping Atlas untuk mengabaikan fakta bahwa ia baru saja ditolak.

Atlas hanya mengangguk dengan canggung. "Abigail, ini istriku." ujar Atlas yang membuat Abigail akhirnya menyadari keberadaan Lili. "Ah! I know. Semua orang sudah membicarakan kalian sejak tadi. Especially you Atlas, of course," ujar Abigail seraya tersenyum.

Astaga, dia bahkan tak mau repot - repot berbasa - basi dengan Lili atau sekedar menanyakan siapa namanya.

"I'm very glad to see you again Atlas. Sudah lama sekali sejak terakhir kali kita bertemu ya?" lanjut Abigail kembali berucap. "It was like years ago," ucap Abigail lagi.

Atlas hanya tersenyum dengan tipis untuk menanggapinya. Dari gesture nya Lili tahu suaminya merasa tak nyaman. "You're here alone?" tanyanya basa - basi. Tangannya masih belum terlepas menggenggam Lili yang sekarang bahkan merasa dirinya hanya pajangan diantara keduanya.

"Going somewhere alone is not really my thing Atlas. Kamu harusnya tahu itu," jawab Abigail lagi. "Pretty sure, he is somewhere in this room." lanjut wanita itu lagi disertai dengan senyumannya.

Atlas mengangguk singkat, sebelum akhirnya merasakan ujung lengan kemejanya seperti sedikit ditarik. Siapa lagi pelakunya jika bukan istrinya?

Atlas lantas menoleh. Menyunggingkan senyumannya pada sang istri seraya tangannya beranjak pada pucuk kepala Lili dan mengusap surainya penuh kasih.

"Yes princess?" tanyanya lembut seraya tangannya uang lain mengusap punggung tangan Lili dengan sama lembutnya.

"Is it her name?" suara yang menginterupsi itu datangnya dari Abigail. Lantas saja keduanya sama - sama menoleh ke sumber suara.

"Ah, namaku Heavenly, Lili." jawab Lili menanggapi.

"It is her name." Atlas tersenyum, matanya tak lepas dari Lili nya. "She's the only one i called with that name, because she's the only one who ever truly owned it." tambah Atlas lagi yang tanpa sungkan menunjukkan sayangnya pada istrinya.

Abigail terkekeh seraya menggelengkan kepalanya. "Ah, princess. You look a little tired. Long day huh?" tanya Abigail lagi berbasa - basi. Atlas menoleh ke arah istrinya yang hanya terdiam ditempatnya. Tangannya terangkat untuk membawa istrinya ke dalam dekapannya. Sebelum berkata, "She's glowing to me and she also carrying our baby. But thank you for your concern i guess?"

Abigail tersenyum tipis. Sebelum akhirnya berpamit diri dan meninggalkan kedua sejoli itu setelah aura mengintimidasi dari Atlas terpantau diradarnya.

"Can you take me home now?" pinta Lili yang matanya mulai berkaca.

TBC

The ManTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang