Heavenly's POV
"Mas... cant you stop? Aku malu," aku berucap protes saat mendapati suamiku tengah menatapku terang - terangan. Senyumnya terus tersungging dengan sangat mempesona sedang tatapannya tak terputus sejak aku menunjukkan kepadanya gaun yang akan aku pakai malam ini.
"Apa sayang? I didn't do anything," kilahnya seraya berjalan mendekat ke arahku dalam balutan jas formalnya. Kedua tangannya kemudian memelukku dari belakang beberapa saat kemudian. Bibirnya dengan jahil menciumi ceruk leherku dengan penuh kelembutan.
"Kamu ngeliatin aku terus dari tadi. Aku malu," protesku lagi seraya menahan debaran hatiku yang bertalu tak karuan atas perlakuan dan tatapannya. Dari sisi bahuku, aku melihat suamiku itu tertawa seraya menumpukan dahunya pada bahuku.
"Kenap harus malu? You literally look so gorgeous princess." ucap suamiku lagi. Aku merasakan pipiku memanas saat mendengar pujiannya itu. Lantas saja aku membalikkan tubuh untuk menghadap ke arahnya sebelum memeluknya demi menyembunyikan wajahku di dada bidangnya.
Huft... Kami bahkan sudah ingin beranak satu, tapi aku masih seperti remaja tanggung yang baru jatuh cinta begini
Dari atas puncak kepalaku, aku mendengar Atlas tertawa geli sebelum tangannya beranjak untuk mengusap pinggangku membuatku merasa lebih rileks.
"Kamu serius mau temani aku malam ini?" bisikan lembut itu menyapa gendang telingaku saat aku menikmati pelukan hangat suamiku. Aku mendongak, menatap maniknya yang selalu membuatku tenggelam dalam cintanya. Bibirku mencebik seperti anak kecil, mulai jengah dengan pertanyaan itu yang mungkin sudah ku dengar seribu kali malam ini.
"Iya Mas," rengekku yang lebih terdengar seperti orang yang sedang mengeluh. "Tapi janji sama aku kalau lelah kita harus langsung pulang, ok?" tanya suamiku seraya mengelus kedua pelipisku dengan ringan.
Aku mengangguk sebelum kembali memeluknya sekali lagi. Ah beginilah kalau sudah dalam pelukan suami. Rasanya enggan untuk disudahi.
"Tumben kamu mau ikut?" tanya Atlas lagi seraya mengusap suraiku. Aku kemudian melepaskan pelukan kami, kenapa sih Mas Atlas bertanya hal - hal yang membuatku justru berpikir ia enggan mengajakku pergi ke acara malam ini?
"Dari tadi kamu tanya - tanya terus kaya gitu seakan mau bikin aku batalin keinginanku buat ikut deh Mas." protesku dengan raut berubah kesal. Senyum diwajah suamiku mendadak hilang secara perlahan.
"Mana mungkin aku punya pemikiran kaya gitu sayang? Udah ya, kamu jangan mikir begitu. I just wanna make sure that you and our baby is ok. Kadang meskipun di rumah, aku suka kasihan ngelihat kamu terlalu banyak bergerak. Pasti rasanya capek dan pegal. Makanya dari tadi aku berulang kali mastiin hal itu karena aku cuma mau pastiin kalau kalian nyaman." Atlas berucap panjang lebar setelah membawaku duduk di sofa walk in closet kami dengan tangannya yang dengan sabar dan telaten memakaikan sepasang flatshoes di kedua kakiku.
Kalau Mas Atlas pasang wajah tanpa senyum begini. Aku jadi suka berpikir bahwa seringkali aku mungkin menyakiti perasaannya. Kadang pikiranku terlalu jahat untuk suamiku yang terlalu baik itu.
"Baby, don't cry," alunan suara yang lembut itu membuatku mendongak. Tanganku kemudian diselimuti oleh genggaman dari suamiku. Wajahnya terlihat khawatir saat melihat mataku yang berkaca.
"Maaf ya Mas," ucapku sedikit parau. "Kadang aku suka mikir jahat sama Mas," lanjutku lagi dan kali ini tak bisa menahan air mataku. Aku gak tega dengan suamiku itu. Tapi aku juga gak selalu bisa mengatur perasaan hatiku yang rasanya sangat labil semenjak hamil.
Atlas langsung menarikku dalam pelukannya seraya berulang kali berucap it's ok seakan ia mengerti bagaimana polaku berpikir. "Udah ya, masa istriku udah secantik ini malah nangis sih?" bujuk suamiku dengan wajahnya yang penuh ketulusan yang justru membuatku semakin merasa tak enak dan berakhir kembali menangis.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Man
RomanceWARNING !! Cerita ini bakal bikin kamu salting brutal dan senyam senyum sendiri!!! *Short Chapter Warning* - - - "Aku gak percaya kalau kamu cuma pernah pacaran saat kamu SMA." gumam Lili seraya menatap pria tampan didepannya, Atlas. "Kenapa gak per...
