Chapter - 81

4.5K 146 10
                                        

Sepasang tangan melingkari tubuh Lili dari arah belakang saat dirinya sedang menghapus riasannya di meja riasnya. Wajah tampan milik suaminya langsung mencari ruang di ceruk lehernya. Mengecup Lili beberapa kali hingga wanita itu kembali ke alam sadarnya. 

"Don't bother with it." suara Atlas masuk ke telinganya. Mata keduanya bertemu pada cermin di hadapan mereka. Lili mendengarnya dan menyunggingkan senyum tipisnya. Atlas balas tersenyum sembari mengecup singkat pipi istrinya dengan penuh kasih. 

Tangan pria itu terulur, mengambil kapas dari genggaman Lili, lalu dengan lembut mengambil alih tugas istrinya membersihkan riasan di wajahnya. "I have to make sure that you're okay," gumam Atlas seraya menyapukan sentuhan lembutnya dibeberapa sisi wajah Lili. Sedang si wanita sudah berubah posisi menghadap suaminya dengan tangan melingkari pundak prianya dengan mata yang terpejam. 

Lili membuka matanya, iris keduanya bertemu. Wanita itu tahu betul jika suaminya sedang mengkhawatirkannya. Lili tersenyum seraya menatap wajah yang selalu ia damba itu. Lantas mengikis jarak diantara mereka dan mengecup suaminya tepat pada bibirnya. "I'm okay," ujarnya meyakini sang suami. Atlas tersenyum. Pandangannya menyapu setiap sudut wajah cantik istrinya. 

"Sayang?" panggil Atlas seraya mengusap surai istrinya. Menyelipkan beberapa rambut Lili yang mencuat dari tempatnya ke belakang telinga wanita itu. "Hm?" Lili bergumam dengan ibu jarinya yang sibuk mengusap kedua sisi rahang suaminya. "I'm all ears you know? Kamu bisa cerita semua yang ada di kepala kamu kalau kamu mau," ujar Atlas dengan lembut. 

Lili tersenyum dibuatnya. Namun ia memilih untuk menggelengkan kepalanya dan berkata, "Aku cuma butuh tidur Mas," gumam Lili pada akhirnya. Ditempatnya, Atlas mengukir senyumnya. Ia tahu apa yang terjadi di acara tadi pasti mengganggu pikiran istrinya. Namun, ia tak mau memaksa Lili karena bisa saja wanitanya merasa tak nyaman saat membahas hal itu. 

Jadi, tanpa banyak kata, ia membawa istrinya dalam gendongannya. Rasa tak tega menggerogoti hatinya saat melihat kaki Lili yang membengkak. Salahnya karena membiarkan Lili menemani dirinya tadi. Atlas berjalan mendekat ke arah ranjang, lantas meletakkan istrinya dengan perlahan sebelum akhirnya ikut berbaring di sisi yang lain.

Keduanya saling memandang satu sama lain. Tangan Atlas tanpa bosan terus menyisir surai Lili, membuat si empunya lama kelamaan merasa mengantuk. Lili lantas mendekat ke arah suaminya, mengikis jarak antara keduanya sebelum akhirnya bersembunyi di dada prianya, tangannya memeluk Atlas dengan lengan pria itu sebagai bantalnya.

"I'm sorry for bringing you there," bisik Atlas pada akhirnya. Sejenak ia merasakan sebuah gelengan dari istrinya. "This isn't anyone's fault—not yours, not mine." ujar Lili seraya mengangkat pandangannya hingga keduanya saling bertatapan lagi. Senyum keduanya saling bersapa. Atlas lantas mengakhiri hari mereka dengan mengecup kening istrinya.

- - - 

Atlas tak mampu menahan senyumnya saat ini. Sejak keduanya terbangun dari tidur mereka, Lili tak sedetikpun melepaskan genggamannya pada ujung kaus polos yang membalut tubuh Atlas. Entah ketika Atlas pergi untuk menggosok giginya atau sekedar mengambil air karena ia merasa haus.

Tangan pria itu terulur untuk meraih tangan istrinya yang sejak tadi terus memilin kaus yang dipakainya. Lantas menautkan jemari mereka hingga mereka saling menggenggam. "Bukankah seperti ini lebih baik, hm?" tanyanya dengan senyum yang menggoda namun jahil di saat bersamaan. Lili ikut tersenyum dibuatnya. "Apa anak kita ingin sesuatu?" tanya Atlas saat keduanya saling berhadapan.

Lili terlihat berpikir. Ia diam cukup lama sebelum akhirnya dikejutkan oleh kecupan singkat suaminya yang mendarat tepat di bibirnya. "Sepertinya tidak ada," jawab pria itu lebih dahulu. Lili meringis karena suaminya berhasil membaca pikirannya. "Kalau begitu..." lanjut Atlas, "Apa istri cantikku ini menginginkan sesuatu?" tanya pria itu seraya menjawil puncak hidung Lili. 

The ManTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang