Chapter - 74

3.7K 128 4
                                        

Pria tampan dengan setelan kantoran itu masih menatap manik istrinya dengan dalam. Dihadapannya ada sarapan yang ia makan dengan setengah hati tanpa sedikitpun rasa ketertarikan.

Berbanding terbalik dengan sang istri yang sedari tadi duduk diseberangnya dan menyantap sarapannya dengan lahap sembari mengusap perut telanjangnya dengan sebelah tangan dan kedua mata yang terpaku pada serial kartun pada layar iPad dihadapannya.

Sesekali sang istri, Lili, tertawa karena adegan yang ditontonnya. Meskipun tak bisa dipungkiri helaan nafas halus dari suaminya yang ada disebrangnya terus menghampiri pendengarannya.

"Atlas, u need to finish your breakfast. You're already late." tegur Lili seraya turun dari kitchen stool dengan susah payah sembari memegangi perutnya.

"Hey, it's not nice to talk to your husband like that," ucap Atlas dengan dahinya yang berkerut. Seketika makanannya ia tinggal saat dirinya melihat Lili hendak mencuci piring yang telah ia pakai.

Lili berdecak saat Atlas mengambil alih pekerjaannya. Punggungnya ia sandarkan pada kitchen cabinet sembari tangannya terlipat didepan dada. "You're annoying," gerutu Lili sembari sesekali mengusap kulit perutnya yang terasa gatal.

Atlas menghentikan kegiatannya. Menatap mata istrinya sehingga membuat Lili salah tingkah karena ditatap suaminya yang rupawan itu.

"Tell me, which part of me annoys you most?" tanya Atlas dengan satu alisnya yang terangkat. "Every parts of you." bisik Lili tanpa melihat suaminya. Matanya menahan tangis karena rasa kesal yang menggunung di hatinya.

"Well, that hurts," Atlas bergumam seraya melepaskan sarung karetnya setelah piring Lili selesai ia bersihkan. Lili tak berkata apapun lagi, wanita itu beranjak mengambil iPadnya dan menuju ke kamarnya dengan langkah yang perlahan.

Ditempatnya Atlas terpaku. Memang akhir - akhir ini, istrinya itu jauh lebih sensitif. Atlas tentu mencoba mengerti, pasti tidak mudah untuk beradaptasi dengan hormon kehamilan gadis itu apalagi diikuti dengan perubahan fisik istrinya yang juga membuat wanita cantik itu kesulitan melakukan berbagai kegiatannya.

Namun yang tidak Atlas mengerti, kenapa Lili berbicara seperti itu padanya? Wanitanya selalu baik dan bertutur manis. Baru kali ini, Atlas merasa benar - benar sakit saat mendengar perkataan istrinya.

Atlas melirik arlojinya, menghela nafasnya karena Lili benar, dia sudah terlambat untuk ke kantor. Tapi pada dasarnya, pria itu memang tidak berniat untuk ke kantornya. Ck! Kalau saja bukan karena agenda rapat offline hari ini yang memaksanya, tentu Atlas tidak sudi meninggalkan istrinya sendirian.

Tanpa peduli, Atlas membawa langkahnya menuju kamar mereka. Masa bodo dengan terlambat atau rapat hari ini. Yang paling penting adalah istrinya.

Begitu pintu kamar terbuka, Atlas melihat Lili yang sedang melipat beberapa bajunya. Lemari kamar mereka terlihat terbuka dengan sebuah koper yang sedikit terisi terletak diatas kasur.

"Sayang," panggil Atlas masih belum beranjak di depan pintu. Lili tak menyahut, namun suara cairan dihidungnya yang berkali - kali wanita itu tarik menyadarkan Atlas bahwa Lilinya sedang menangis.

"Princess, do you hear me?" panggil Atlas lagi tanpa bergerak dari posisinya. Lili masih mengabaikannya membuat Atlas menghela nafasnya dan beranjak mendekat ke arah istrinya. Bukan, bukan untuk memeluk istrinya atau sekedar mengajak wanita itu bicara seperti biasanya.

Sebaliknya, Atlas justru menuju ke arah lemari mereka, meraih beberapa helai bajunya dan melipatnya menjadi bagian yang lebih kecil kemudian ikut memasukannya ke koper yang sama.

The ManTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang