74.

192 16 4
                                        

Udah tahun 2025 aja 😭😭😭 seingetku, pertama kali aku nulis cerita ini 2021 dan sampai sekarang masih belum selesai juga 😭😭 maap ya gess terima kasih buat yang masih mau nungguin cerita ini dan cerita-ceritaku yang lain.

Happy reading

Luffy dengan wajah antusias yang tak bisa dia sembunyikan mendekati Nava. Wajah termenung gadis itu tak membuatnya ragu untuk mengajaknya bicara. "Nava, apa kau ingin melihat-lihat?" Ajak pria itu dengan senyum sumringah di wajahnya.

Nava dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Aku sedang tidak mood, Luffy chan," jawabnya.

Mendengar jawaban Nava, senyum di wajah Luffy perlahan luntur. "Ada apa, Nava?"

Dengan ekspresi wajah yang masih sama, Nava menjawab. "Aku sedang memikirkan Robin," katanya berterus terang. "Bagaimana pun dia memiliki banyak musuh. Pasti akan ada orang yang mengincarnya seperti Aokiji kemarin.

"Robin sangat cerdas sehingga dia bisa melarikan diri setiap kali terjebak masalah, tapi tetap saja aku mencemaskannya."

Diam-diam seulas senyum kecil kembali terlukis di wajah Luffy. Pemuda itu sempat terkekeh sebelum merangkul Nava dengan cukup mesra di depan banyak orang. Tatapan mata yang hanya tertuju pada sang gadis seketika membuat jantung Nava berdebar-debar. Pipinya membara seolah ia terbakar saat Luffy terus mengikis jarak di antara  mereka. "Walau kau sering tak acuh pada Robin, tapi sebenarnya kau sangat peduli padanya ya, Nava," ujarnya diiringi dengan kekehan kecil lolos dari mulutnya.

"Huh?" Nava kehabisan kata-kata. Isi pikirannya kosong selama beberapa detik saat Luffy yang biasanya konyol kini tiba-tiba berubah serius. "A-aku tidak peduli padanya."

"Kau khawatir dengannya barusan. Kalian pasti sangat dekat sebelumnya."

Nava mencoba menetralkan detak jantungnya sebelum itu membunuhnya. Mengabaikan rona wajah yang kian memerah, Nava mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia tidak berani menatap wajah Luffy lama-lama dari jarak sedekat ini.

"Kami tidak dekat Luffy chan. Hanya pernah bekerja sama untuk beberapa urusan. Itu saja," jawab Nava tanpa ragu.

Ditengah-tengah perbincangan Luffy dan Nava, Kaku kembali setelah menginspeksi kapal Merry Go dengan ekspresi wajah yang kurang menyenangkan, tetapi melihat keadaannya yang baik-baik saja itu artinya Fuza tidak melakukan hal aneh-aneh pada pria itu.

"Ah, di mana Ussop?" Tanya Luffy. Dia baru sadar salah satu krunya menghilang.

"Sepertinya tadi dia ada di sekitar sini," ungkap Nami. Sedari tadi dia celingak celinguk mencoba menemukan keberadaan Ussop yang entah ada di mana.

Di tengah kebingungan yang melanda, seorang pria datang menghampiri Luffy sambil membawa dua koper di tangannya. "Oi, kalian!" Pekiknya. "Ini tas kalian 'kan?" Tanyanya memastikan.

Nami dan Nava saling menatap satu sama lain dengan wajah terheran. Kedua koper itu seharusnya dibawa oleh Ussop sejak sebelum mereka masuk ke galangan kapal Dock 1.

"Iya itu milik kami," jawab Luffy dengan santai. Kedua koper itu kini berpindah ke tangannya. "Terima kasih ya," ungkap pria itu.

Nami terlihat berang. "Tapi, di mana Ussop? Dia meninggalkan uang kita yang berharga!"

"Uang?" Sang pria tadi terheran. Muncul garis halus di keningnya yang berkerut.

"Ya, di dalam koper ini berisi 200 juta berry," jawab Luffy dengan nada santai.

"200 juta berry?" Pria itu pun tertawa tanpa ragu. Suara tawanya terdengar cukup keras dan menjengkelkan untuk Nami dan Nava. "Tidak mungkin. Selamat tinggal!"

My Queen [One Piece X Oc]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang