Happy reading
Kapan terakhir kali kamu berpikir dirimu gila?
Mungkin untuknya, setiap kali dia menatap langit, melihat bayangan wajahnya di cermin, saat makan, atau bahkan di dalam tidurnya, Doflamingo selalu berpikir dirinya gila.
Ada sebuah pepatah mengatakan isi hati seseorang bisa terlihat dari matanya, tapi apakah sungguh begitu? Karena jika iya, tolong beritahu Doflamingo seperti apa dirinya di mata orang-orang.
Dihantui bayang-bayang penyesalan selama bertahun-tahun membuat Doflamingo mulai melangkah tak tentu arah. Hanya wine yang bisa menghilangkan isi pikirannya. Rencananya menjadi bajak laut sedikit demi sedikit luntur akibat kegilaan yang menggerogotinya akibat kehilangan orang-orang yang berharga baginya. Ibunya meninggal karena sakit, adiknya menghilang, lalu Minerva dan juga Nava pergi tanpa sedikit pun jejak tertinggal. Semua orang meninggalkannya dan itu semua salah manusia.
"Doffy ...." Suara langkah kaki Trebol terdengar lebih senyap dari biasanya. Pria yang sering kali terkekeh itu menghampiri ruangan pribadi Doflamingo dengan raut wajah yang sulit untuk dijelaskan.
"Jika tidak ada keperluan, jangan ganggu, Trebol!" Doflamingo menegur dengan nada tegas. Dia masih abai pada kehadiran Trebol lantaran dirinya tengah begitu mabuk akan wine.
Kendati pergi, Trebol kembali berkata dengan sedikit keraguan terselip dalam kalimatnya. "Wanita itu, Minerva Snow, dia ... sudah tiada."
Detik itu juga, Doflamingo berada dalam titik terendah hidupnya. Sekali lagi 'itu' hilang. Sesuatu yang seharusnya dia genggam erat-erat kini terlepas lagi dan tak akan pernah kembali.
"Info itu sudah pasti benar?"
"Ya."
"Bagaimana dengan Nava?"
"Hal itu masih belum diketahui."
"Cari dia!"
《☆》
Jembatan keraguan, sedikit lagi menuju gerbang keadilan dan sampai saat ini situasi belum berubah. Spandam dengan dibantu oleh senjatanya, Funkfreet, menyeret Nava dan Robin yang terantai dan sempat mencoba melarikan diri. Dia seorang saja tidak bisa menarik dua wanita keras kepala bersamaan.
Sejujurnya, Nava sedikit menyesali tindakannya. Dia tidak berpikir akan sulit menemukan jalan keluar dalam situasi ini. Tangannya yang terborgol batu laut menghambatnya untuk lari. Belum lagi Rpbin yang selalu berada diambang keraguan dan ketakutan sebelumnya membuat Nava sulit meyakinkan wanita itu untuk kabur bersamanya di saat ada kesempatan. Lucci juga selalu saja mengawasinya tadi jadi sama sekali tidak ada celah. Sial!
Perkataan Marco yang sering mengejeknya saat dia bertindak ceroboh sekilas terlintas dibenaknya dan itu membuat Nava kesal. Dia akui kali ini dia tidak memikirkan apapun. Dari saat pertama kali dia tau Robin dibawa oleh CP9, dia hanya berpikir untuk menyusup ke sana. Tidak ada rencana, tidak ada komunikasi dengan teman-temannya. Jika saja Luffy dan yang lainnya tidak datang, Nava pasti akan diserahkan ke pemerintah dunia cepat atau lambat. Robin sudah pasti akan kehilangan nyawanya begitu pemerintah merasa dia tidak lagi berguna.
Disaat yang bersamaan, jauh dari pandangan mata, seorang pria dengan ketapel di tangannya berdiri di atas puncak menara. Sambil menyanyikan lagu kebanggaannya, pria itu siap membidik incarannya kapan saja. Disisinya, seekor burung besar, Fuza, terbang sambil tak berhenti memperhatikan mangsanya. Cakarnya yang tajam terasah siap mengoyak tubuh lawan. Ini waktunya pembalasan. Dia masih tidak terima dihajar oleh seekor kucing besar waktu itu.
"Fuza, setelah aku melemparkan kuncinya, kau harus langsung menyelamatkan Nava dan Robin."
Fuza terlihat memalingkan wajahnya tanda tak acuh. Tidak perlu diberi perintah pun, dia pasti akan menyelamatkan Nava.
"Oi, kau harus melakukannya dengan benar atau kita tidak bisa menyelamatkan mereka berdua," ungkap Ussop. Sejauh penglihatannya, saat ini ada ratusan angkatan laut yang bersiaga diujung jembatan keraguan dengan kapal-kapal besar mereka. Jika Nava dan Robin dibawa kapal itu ke gerbang keadilan maka semuanya akan sia-sia.
"Ingat Fuza, nanti akan ada Franky kun yang membebaskan borgol Nava dan Robin. Di saat itu, kau bebas menghajar siapapun tapi jangan merusak kapal mereka. Kita akan menggunakan kapal angkatan laut untuk melarikan diri nanti."
"Oi, Sogeking, kalau kau terlalu bawel, burung itu akan mematukmu sampai mati lho," Tegur Zoro.
"Hah?"
"Dia terlihat sangat marah saat ini ...."
Ussop melihat ke arah Fuza. Zoro benar. Jika diperhatikan baik-baik Fuza terlihat sangat jengkel. "Mo-mohon bantuannya ya, Fuza Kun."
Fuza sekali lagi mengabaikan pria itu. Dia memilih terbang menjauh. Mengambil posisi sambil mengintai mangsanya sementara Ussop beberapa kali menembak ke arah angkatan laut yang mencoba menembak Nava dan Robin.
"Nico Robin, awas!" Mencoba mengelak dari rentetan tembakan yang diarahkan padanya saat ini sangat sulit. Tidak ada tempat bersembunyi atau berlindung. Kekuatan buah iblis mereka juga saat ini terkunci. Sial!
"Yo, princesses, sepertinya aku datang tepat waktu."
"Franky!"
Dengan begitu heroik, Franky menjadikan tubuhnya sebagai benteng tak tergoyahkan. Ia datang melindungi Nava dan Robin dari tembakan, lalu membukakan borgol di tangan mereka begitu Ussop melemparkan kunci yang kru topi jerami dapatkan setelah mengalahkan anggota CP9.
Spandam mengacak-acak rambutnya frustasi. "Tidak mungkin! Itu artinya kalian mengalahkan semua anggota CP9 yang ada di menara keadilan?!" Pekiknya tak percaya. "Tidak mungkin! Kalian pasti mencurinya kan?!"
Nava mendengus sebal. "Huft, bilang saja kau takut Spandam."
Di sisi lain, Franky menghubungi kru topi jerami yang ada di menara. Mengabari dia berhasil menyelamatkan dua tuan putri yang diculik. Selain itu, dia juga diminta mengamankan kapal untuk melarikan diri dari Enies Lobby di saat yang lain akan sesegera mungkin menyusul ke sana.
Robin pun mengambil denden mushi dari tangan Franky. Dengan seulas senyum terbit di wajah, dia berkata. "Hidung panjang kun, terima kasih ya," ungkapnya pada denden mushi yang terhubung dengan Ussop yang ada di atas menara.
"Terima kasih, Sogeking." Nava ikut menyahut di sela-sela aktivitasnya meregangkan tubuh. Akhir-akhir ini Nava sepertinya kurang banyak menggerakan tubuh. Dia juga jadi lebih gegabah, bertindak sembarangan tanpa memikirkan akibatnya. Nah, pas sekali ada lawan yang bisa dia jadikan samsak.
"Kalian bisa berterima kasih nanti saat semuanya sudah selesai." Ussop menutup panggilan begitu percakapan mereka usai.
"Robin, apa kau mau menghajar Spandam?" Nava menjadi lebih bersemangat setelah mendapatkan kembali kebebasannya.
"Ya, berikan dia padaku."
"Okay, sisanya untukku, ya?"
"Boleh."
Nava menolehkan wajahnya. Memandang Franky lamat-lamat sebelu akhirnya berkata. "Franky, kau tidak perlu ikut campur." Nava sudah siap. Ditubuhnya muncul tatto berwarna merah gelap diikuti dengan tanduk dan sayap yang membuatnya layak dipanggil kijin oleh orang-orang.
Gemetar, takut, gelisah, khawatir, mungkin sebagian dari pasukan angkatan laut yang berdiri dihadapannya akan merasa begitu. Menghadapi buronan seperti Nava dan Robin adalah mimpi buruk untuk mereka, tapi berarti sebaliknya bagi kedua wanita itu.
"Seis fleur slap." Begitu Robin menyilangkan tangannya di depan dada, beberapa pasang tangan muncul di tubuh Spandam dan langsung menamparnya berkali-kali sampai pria itu kehilangan keseimbangan, lalu terjatuh.
Nava terkejut melihatnya. "Kau pendendam juga ya, Nico Robin," ungkap sang gadis diikuti dengan senyum seringai di wajah.
"Aku tidak ingin mendengar hal itu darimu," balas Robin sambil ikut tersenyum.
"Borgol para tahanan terlepas! Kita harus menangkap mereka lagi!"
"Menangkap kami?" Lagi-lagi senyum seringai terlukis di wajah Nava. "Memangnya kalian bisa menangkap kami?!"
To be continued
Maaf sekali sudah lama aku nggak update 😭😭😭
KAMU SEDANG MEMBACA
My Queen [One Piece X Oc]
FanfictionSeorang gadis kecil telah berjanji akan bertemu kembali dengan bocah bertopi jerami itu saat mereka dewasa nanti. Rasa suka dan kagumnya pada bocah itu memberikannya tujuan dan perjalanan baru. Lantas bagaimana kisah perjalanannya di lautan yang lua...
![My Queen [One Piece X Oc]](https://img.wattpad.com/cover/276611251-64-k946988.jpg)