Happy reading
"Luffy, aku bukan lagi anggotamu. Maaf atas semua masalah yang kusebabkan. Kapal ini milikmu karena kau adalah kapten. Jadi, aku menantangmu berduel, Monkey D Luffy!"
"Eh, chotto, apa yang kau katakan?!" Nami tidak terima. Duel? Untuk apa semua itu?! Jika dibicarakan baik-baik, masalah ini bisa terselesaikan.
"Hari ini, pukul sepuluh, aku akan datang lagi kesini! Kita akan bertarung untuk memperebutkan Merry Go. Aku akan mengalahkanmu dan membawa Merry Go bersamaku. Setelah itu, ini akan menjadi akhir pertemanan kita!"
Hari berganti malam, setelah deklarasi duel itu, Ussop pergi meninggalkan kapal. Dia menginap di sebuah penginapan dan enggan bertemu siapapun termasuk Chopper yang berniat mengobati lukanya.
Luffy bahkan mengurung dirinya didalam kamar sejak tadi. Nami yang hendak berbicara padanya pun ikut diusir.
"Nava, apakah benar-benar tidak ada cara lain untuk menghentikan mereka?" Nami mengalihkan pandangannya, menatap Nava dengan mata berkaca-kaca. Air matanya bisa tumpah kapan saja.
Jika ditanya, Nava pun tidak tahu harus berkata apa. Dia ... bingung.
Sampai jam 10 malam, Nami, Nava, juga anggota kru yang lain hanya bisa menunggu sambil menatap langit malam. Banyak hal yang kini terbesit dipikiran mereka.
Jam 10 tepat dan Ussop datang sesuai janjinya. Sesuai permintaan Luffy, semua orang diminta untuk tidak ikut campur, jadi apapun hasilnya, Nava, Nami, atau siapa pun tak bisa mengubah hasilnya.
Pertarungan itu begitu sengit. Ussop sudah menyiapkan rencananya matang-matang walau kondisi tubuhnya penuh luka dan lawan duelnya adalah Luffy, seseorang yang jelas lebih kuat darinya.
Pria itu menggunakan banyak trik juga senjata agar Luffy lengah dan bisa dia serang dengan leluasa. Bahkan, Ussop juga memanfaatkan kondisi tubuhnya yang sedang terluka agar mendapat celah untuk menyerang Luffy dari jarak dekat.
Nekad, tapi pada akhirnya Ussop memenangkan duel itu. Lebih tepatnya Luffy membiarkan Ussop memiliki Merry. Seluruh kru topi jerami terpaksa meninggalkan kapal juga Ussop yang terkapar lemah di atas tanah setelah pertarungan.
Sampai pagi, Luffy tidak bisa tertidur. Kamar yang seharusnya dia tempati setelah mereka menyewa kamar dipenginapan kini kosong. Pria itu memilih duduk sendirian di loteng sambil menunggu datangnya matahari terbit. Wajahnya murung, terlihat dengan jelas pria itu kewalahan.
Harinya terasa amat berat dan kenyataan terasa begitu menyakitkan.
"Kenapa kau tidak tidur, Luffy?" Nava datang menghampiri pria itu dengan selimut tebal di tangannya. Dia tidak ingin menganggu, hanya ingin menemani sang kapten yang sedang terpuruk. Lagipula, Nava juga merasa tidak bisa tidur malam ini dan mungkin beberapa orang juga berpikir hal yang serupa dengannya.
Gadis itu memilih duduk di samping Luffy, lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal, kemudian membiarkan sang kapten menyederkan kepala di bahunya.
"Ternyata menjadi kapten itu berat, Nava," ungkap Luffy dengan suara amat pelan. Ia melingkarkan tangannya pada pinggang sang gadis, memeluknya erat-erat sambil menyembunyikan wajah serta air mata yang tumpah diantara ceruk lehernya.
"Ya, Luffy," jawab Nava.
"Apa keputusanku sudah tepat?"
"Ya, Luffy," jawab Nava.
"Apa kau akan terus ada disisiku, Nava?"
"Ya, Luffy," jawab Nava.
Luffy yang sekarang seperti anak kecil. Sang gadis sesekali memberinya usapan di kepala seolah mencoba meredakan emosi yang saat ini bergejolak di hati pria dalam pelukannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Queen [One Piece X Oc]
FanfictionSeorang gadis kecil telah berjanji akan bertemu kembali dengan bocah bertopi jerami itu saat mereka dewasa nanti. Rasa suka dan kagumnya pada bocah itu memberikannya tujuan dan perjalanan baru. Lantas bagaimana kisah perjalanannya di lautan yang lua...
![My Queen [One Piece X Oc]](https://img.wattpad.com/cover/276611251-64-k946988.jpg)