82.

288 22 9
                                        

Happy reading

Buster call telah tiba. Begitu banyak kapal perang keluar dari gerbang keadilan. Enies Lobby mulai dihujani dengan tembakan meriam yang siap meluluh lantahkan tempat itu beserta isi-isinya dan sekali lagi hal itu membuat Robin kembali teringat akan kenangan lama saat Ohara hilang dari peta.

"Sekarang kau tidak sendiri, Nico Robin." Nava tanpa ragu merangkul wanita yang berdiri di sampingnya. Walau takut, gemetar, ragu akan apa yang terjadi setelah ini, Nava memilih untuk menghadapinya dengan emosi yang positif.

Sambil menggengam kedua tangan Robin, Nava mencoba menyalurkan semangat dan keberanian serta percaya mereka akan melewati buster call dan kembali dengan selamat bersama seluruh kru topi jerami. "Kita akan mengamankan jalur pelarian sambil menunggu mereka menuju kemari."

Disisi lain, dari langit ada seekor burung terbang rendah, selaras dengan hembusan angin, bergerak dengan cepat menghampiri pemiliknya, Nava. Burung itu, Fuza, berdiri di samping Nava, menutupi sang pemilik dan Robin dengan tubuhnya seolah sedang melinduingi mereka.

Sepertinya tubuh Fuza bertambah besar setelah sehari saja tidak bertemu dengan Nava. Bulunya terlihat semakin lebat dan paruhnya bertambah besar. Tatapan matanya yang tajam seolah siap mengoyak mangsanya satu persatu.

"Fuza." Nava mengelus kepala Fuza dengan lembut. "Apa Chopper mengobatimu? Bagaimana lukamu? Apa masih sakit?"

Fuza hanya diam, abai dengan pertanyaan Nava sebelum akhirnya burung itu mendengus sebal seolah berkata jangan meremehkannya.

"Aku tau kau kuat, tapi kemarin itu cukup bahaya. Lucci menghajarmu cukup parah 'kan?"

Lagi-lagi Fuza abai. Burung itu lebih memilih membakar sekumpulan angkatan laut yang mengepung mereka dengan semburan api yang keluar dari mulutnya.

"Oi burung jelek! Hati-hati dengan apimu!" Tegur Franky. Dia hampir saja terbakar tadi.

Kini giliran Fuza yang marah. Burung jelek?! Siapa yang hentai itu panggil jelek? Sebagai peliharaannya Nava, Fuza punya kebanggaan tersendiri karena dirinya kini terlihat tampan dan berwibawa dibandingkan burung-burung lain.

"Kakkkk!" Suara pekikan terdengar dari dari Fuza. Burung itu membusungkan dadanya sambil mengepakan sayapnya tanda dia sedang marah.

"Berhenti Fuza!" Nava memperingatkan.

Boom!

Di saat Nava lengah, menara pertama beserta kapal perang yang ada di sana ditembak dengan meriam, berniat membunuh Luffy yang sedang bertarung dengan Lucci di sana.

Nava terperangah. "Mereka menembaki menara pertama ...."

"Baru saja kapal perang itu ditembak hingga hancur berkeping-keping bersama mugiwara!" Spandam tertawa puas. "Kapten kalian sudah mati! Ini adalah kekuatan buster call! Ini adalah keadilan!"

"Sekarang, cepat serahkan Nico Robin dan Nava, Cutty Flam! Dengan begitu, semua kesalahanmu akan diampuni. Lagipula, kenapa kau membantu para bajak laut? Kau 'kan bukan bajak laut. Selain itu, pemerintah dunia mengabdi untuk melindungi masyarakat biasa sepertimu jadi kenapa kau percaya pada wanita berbahaya yang punya darah iblis di dalam tubuhnya seperti mereka berdua?!"

"Jika menentang kami, kau akan sama seperti Tom-"

Franky sudah muak mendengar celotehan Spandam. Tinjunya melesat dengan cepat, menghajar wajah Spandam sampai bengkak. Wanita iblis lah, darah Ohara lah, atau apapun itu, dia tidak peduli. Dia tidak akan menilai orang dari luarnya saja seperti sebelumnya. Setelah tahu cerita Robin, Franky percaya kedua wanita itu berbeda dengan rumor di luar sana.

My Queen [One Piece X Oc]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang