164. Agni (2)

63 4 2
                                    

Semenjak kami semua tinggal bersama Mak Lampir, kami semua diharuskan melatih kemampuan kami untuk bertarung.

Aku tak tahu apa alasannya meminta kami melakukan hal itu, tapi kami tetap melaksanakan perintahnya dengan baik. Karena bagi kami, Mak Lampir adalah sesosok pahlawan yang telah menghilangkan rasa kesepian dan kehampaan yang kami rasakan.

Setiap hari, kami terus berlatih dengan baik. Kami melatih kemampuan mengendalikan api yang menjadi sumber dasar bagi eksistensi kami.

Kami melatih api yang kami miliki, mengubah bentuknya menjadi berbagai benda dan senjata, sesuai dengan kebutuhan kami dalam pertarungan.

Sehingga api yang kami miliki dapat digunakan sebagai kekuatan untuk bertarung jarak dekat maupun jarak jauh.

Terkadang, kami juga diharuskan untuk bertarung melawan bangsa jin di sekitar Gunung Marapi untuk melatih insting dan pengalaman bertarung kami, agar kemampuan bertarung kami bisa terasah dengan baik.

***

Selama bertahun-tahun, kami terus melatih kemampuan bertarung dengan baik. Hingga tanpa sadar, kami yang sekarang sudah menjadi layaknya saudara yang saling menyayangi satu sama lain.

Dari yang ku ketahui, kami semua umumnya memiliki masa lalu yang mirip. Selalu mengembara tanpa tujuan, dan merasa kesepian, hingga akhirnya ditemukan oleh Mak Lampir.

Itulah yang membuat kami semua saling merasa dekat. Bahkan aku sendiri cukup dekat dengan mereka semua, terutama pada Geni, yang sejak awal memang memiliki hubungan dekat denganku.

Hubungan kami sendiri cukup unik, siapa yang terkuat, akan menjadi kakak. Dan siapa yang lemah, akan menjadi adik. Itu yang membuat Geni secara otomatis menjadi adikku, dan tak ada diantara kami yang bermasalah dengan aturan itu.

Hingga di suatu malam, kami semua sedang berkumpul di halaman luas. Menikmati indahnya langit malam di tengah kebersamaan yang hangat ini.

Secara tiba-tiba, salah satu saudariku bertanya pada kami semua, "Semuanya, bagi kalian Mak Lampir itu apa?" tanyanya.

Dia adalah Lara, sang Kakak tertua kami. Dia adalah Banaspati terkuat di tempat ini.

Kami semua terdiam mendengar pertanyaan Kak Lara, hingga kemudian saudaraku yang lain pun menjawab.

"Bagiku, dia adalah seorang Ibu, jadi aku ingin berbakti padanya, dan menuruti segala perintahnya!" jawabnya, dilanjut dengan jawaban saudaraku yang lain, yang ternyata cenderung memiliki pemikiran dan perasaan yang sama.

Malam itu, aku menyadari satu hal, bahwa Mak Lampir adalah sosok yang sangat berharga bagi kami semua. Kami semua sama-sama ingin berbakti padanya, karena bagi kami dia adalah seorang Ibu yang menyatukan kami semua.

Suasana malam ini begitu tenang, seolah-olah kedamaian akan abadi di tempat ini. Aku ingin terus berada di momen seperti ini, menikmati hidup bersama para saudara-saudariku, tanpa harus mengalami tragedi yang menyakitkan.

Kami semua pun bersumpah, bahwa kami akan setia pada Mak Lampir. Kami akan mematuhi segala perintahnya, selayaknya seorang anak yang patuh pada ibunya.

Itu adalah sumpah yang seharusnya tak kami ucapkan. Karena sumpah itulah, tragedi yang mengerikan pun terjadi pada kami.

***

Suatu pagi, Mak Lampir pun mengumpulkan kami semua di halaman. Wajahnya begitu serius, memandang kami dengan tatapan tajam.

"Anak-anakku, aku memiliki tugas yang sangat penting untuk kalian semua," ucapnya, membuat kami semua menjadi tegang.

"Tugas seperti apa itu Mak?" tanya Kak Lara dengan penasaran.

IndagisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang