80

262 7 1
                                        

Sebuah jet pribadi mulai menurunkan ketinggiannya perlahan. Roda roda logamnya menyentuh landasan pacu dengan suara gesekan khas, lalu melaju mulus hingga benar benar berhenti.

Suara desis hidrolik terdengar, pintu jet perlahan mulai terbuka. Tangga otomatis pun dengan gerakan lambat namun pasti bergerak turun.

Haechan muncul pertama. Langkahnya berat dan penuh intimidasi, jas hitamnya menari nari mengikuti arus angin sore yang berhembus. Kacamata hitam bertengger di hidungnya menutupi sorot mata yang dingin akan kekusaan di setiap gerakan.

Di belakangnya, Yuta melangkah dengan gerakan ringan dan tubuhnya yang gemetar pelan. Tatapan kosongnya menyapu sekitar, terasa begitu asing dan tak pernah ada dalam ingatannya.

Yang terakhir, Jaemin menyusul, senyum samar yang membuat bulu kuduk meremang terukir di wajahnya. Matanya menatap lurus ke depan, seakan siap menghabisi siapapun yang berani melangkah langkah mereka.

Di ujung landasan, beberapa anak buah berdiri berjajar, membungkuk hormat menyambut kedatangan kedua tuannya. Satu dari mereka segera menghampiri, "Selamat datang kembali, Tuan."

Haechan dan Jaemin mengangguk singkat. Tanpa sepatah kata, dengan langkah mantap, Haechan dan Jaemin berjalan menuju limousin hitam legam yang telah menunggu tak jauh dari sana.

Pintu di buka, memperlihatkan interior mewah bernuansa gelap yang lebih menyerupai singgasana dari pada kabin mobil. Haechan masuk terlebih dahulu siluetnya menyatu sempurna dengan kemewahan yang mencekam, lalu Yuta menyusul di belakangnya dengan langkahnya ragu dan berat.

Matanya masih menyapu sekitar sebelum masuk ke dalam, seakan mencari celah untuk melarikan diri, namun Yuta tahu bahwa semua itu sudah terlambat.

Jaemin menatap punggung Yuta yang tak bergerak, menyadari keraguan itu. Ia mendekat hampir menempelkan tubuhnya. Nafasnya menyentuh kulit Yuta saat ia berbisik tepat di telinganya. "Masuklah, Kitty," Senyum liciknya melengkung, namun dingin tanpa emosi.

Dalam sekejap, tubuh Yuta menegang, merasakan hawa dingin di balik tubuhnya. Ia menelan ludah sebelum melangkah masuk ke dalam. Aroma samar dari parfum mewah dan ketegangan yang menggantung udara menyambut indra penciumannya.

Begitu semua telah masuk, pintu ditutup rapat. Mesin mulai menderu halus, dan kendaraan roda empat itu melaju meninggalkan landasan pacu, menyusuri jalanan sore yang kini kosong dan mati.

Di dalam, hanya keheningan yang menemani. Sesekali suara roda dan samar radio memecahya. Yuta duduk diam di kursi kulit yang empuk untuk situasi yang dingin.

Di hadapannya Haechan bersandar santai. Jaemin duduk di sebelahnya dengan tangannya merangkul tubuhnya. Dan, sebuah perjalanan baru telah dimulai.

Sebuah perjalanan yang bukan menunjukkan kebebasan, namun menuju dunia di mana ia harus menyerahkan segalanya.

***

Limousin hitam itu akhirnya tiba di tempat yang dituju. Mereka berhenti di depan mansion ala eropa yang dipenuhi ukiran marmer dan jendela kaca pantry yang berwarna.

Sebuah bangunan yang berdiri angkuh di tengah lahan rumput hijau yang luas dengan di kelilingi pepohonan rindang dan penjagaan ketat di setaip sudut.

Suara deru mesin terhenti, menciptakan keheningan yang mencekam seketika. Seorang pria berjas hitam datang membukakan pintu.

Haechan keluar terlebih dahulu, dengan langkah tegap dan penuh dominasi. Di belakangnya, Jaemin, dan yang terakhir, Yuta. Pandangannya menyapu sekitar mencari celah yang tentunya mustahil untuk ditembus.

Step Brother Na YutaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang