Yuta kembali melangkah keluar dari kamarnya. Kali ini lebih pelan, lebih hati-hati. Pintu kamar ditutup perlahan tanpa suara, dan pandangannya langsung menyapu ke segala penjuru lorong yang sunyi.
Sepi.
Namun bukan berarti aman.
Setiap langkahnya dihitung, setiap nafas ditahan, seolah dinding-dinding rumah ini bisa mengawasinya.
Ia menyusuri lorong dengan gerakan ringan, nyaris seperti bayangan. Kali ini, Yuta tidak hanya berjalan tanpa tujuan. Ia berencana--menghafal setiap lekuk rumah ini, mengingat letak tangga, pintu samping, jendela, dan jalur pelarian lain yang mungkin bisa ia gunakan jika... jika suatu saat nanti kesempatan itu datang.
Dan jika saat itu datang, ia tak boleh ragu.
Begitu sampai di lantai utama, ia berhenti sejenak. Kedua matanya kembali bergerak cepat, menilai suasana. Tak ada suara. Tak ada pelayan yang melintas. Tak ada Jaemin. Tak ada Haechan.
Bagus.
Yuta menuruni tangga utama dengan langkah nyaris tak terdengar, tubuhnya sedikit menunduk, dan kedua kakinya melangkah jinjit agar tak menimbulkan suara sekecil apa pun. Ia bergerak dari balik bayangan ke bayangan, menempel pada sisi dinding, menghindari area terbuka sebisa mungkin.
Begitu tiba di bawah, matanya menelusuri segala arah--lantai marmer yang dingin, chandelier besar yang menggantung di langit-langit tinggi, jendela tinggi dengan tirai tebal, serta lorong panjang yang entah menuju ke mana.
Ia mencoba mencatat semuanya dalam kepalanya. Satu demi satu. Semua detil.
Namun, begitu tangannya menyentuh kusen pintu di ujung lorong, tanpa sempat berpikir panjang, Yuta mendorongnya perlahan.
Ceklik.
Pintu terbuka dengan suara ringan.
Dan di baliknya...
Yuta langsung membeku.
Sebuah ruangan terbuka luas, dengan langit-langit tinggi dan interior mewah. Di tengahnya, Haechan duduk santai di sofa kulit gelap, dikelilingi oleh beberapa pria asing berpenampilan mencolok-jas mahal, sikap arogan, tatapan sinis.
Seketika tubuh Yuta menegang kaku. Ia tak mampu menggerakkan kakinya. Pandangannya terpaku pada Haechan yang kini menatap ke arahnya... dan tersenyum tipis.
"Kebetulan sekali kau datang, sayang," ucapnya sambil merentangkan kedua tangan, seolah menyambut kedatangan yang sudah ia rencanakan sejak awal. "Kemarilah," lanjutnya, "dan perkenalkan dirimu."
Suara itu lembut, namun penuh tekanan. Senyum Haechan terlihat tak pernah menjanjikan kehangatan. Lebih tepat disebut ancaman yang dibungkus manis.
Yuta masih terpaku. Matanya panik menelusuri wajah-wajah asing yang kini menatapnya--beberapa tertarik, sebagian lain menilai, dan sisanya memandangnya seperti barang baru yang hendak dijajal.
"Sayang?" Suara Haechan kembali terdengar--kali ini sedikit lebih tajam.
Yuta langsung menoleh. Ia menelan ludah dengan susah payah, lalu memaksakan langkahnya masuk ke ruangan, menyusuri lantai yang memantulkan gema kecil dari langkah gugupnya.
Haechan memperhatikannya dengan mata yang tak berkedip.
Yuta akhirnya berhenti di sisi pria itu. Kepalanya menunduk dalam-dalam. Jemarinya mencengkeram ujung baju dengan kuat, seperti berusaha menahan getaran tubuhnya.
"Ayo. Perkenalkan dirimu, sayang." Suara Haechan nyaris terdengar seperti perintah.
Yuta menarik napas. Lidahnya kelu, tenggorokannya kering.
KAMU SEDANG MEMBACA
Step Brother Na Yuta
FanfictionSi kembar yang tak terima jika Yuta menjadi kakak tiri mereka.
