Jeno melangkah sempoyongan menuju unit apartemennya, kelelahan setelah seharian bekerja. Bukan hanya fisikyang letih, tapi pikirannya terus dipenuhi rencana yang tak kunjung tersusun. Setiap langkah terasa berat, seolah beban di pundaknya enggan untuk pergi.
Di depan pintu, ia memasukkan sandi pada gagang pintu. Begitu terdengar bunyi klik, ia membuka pintu dan berseru lelah, "Aku pulang!" Namun, tak ada jawaban, hanya suara cekikikan dan dentingan alat dapur yang terdengar.
Rasa penasaran mengalahkan lelahnya. Jeno melangkah ke dapur dan mendapati istrinya sibuk dengan peralatan dapur, sementara orang di sebelahnya memberi intruksi. Keduanya begitu fokus hingga tak meyadari kehadiran Jeno.
Jeno tersenyum melihat interaksi mereka. Tak ada rasa cemburu yang perlahan merambat di hatinya, melainkan rasa syukur melihat mereka tertawa bersama.
"Sedang bersenang senang?" tanya Jeno yang seketika menghentikan aktivias mereka berdua.
Yuta dan Jaehyun menoleh serentak. "Jeno, kau sudah pulang," ujar Yuta sambil mengangkat spatula, tersenyum.
Jaehyun mendekat, meletakkan piring di meja pantry. "Kebetulan kau sudah datang. Coba cicipi ini," katanya dengan senyum tipis.
Jeno mengambil sumpit dan mencicipi masakan itu. Jeno mengunyah pelan, memniarkan rasa masakan itu memenuhi lidahnya. Sekejap, rasa lelah terasa luruh begitu saja. Ia mengangguk kecil.
"Bagaimana?" tanya Jaehyun penuh harap.
Jeno menelan makanannya, lalu tersenyum. "Ini enak sekali," jawabnya dengan sorot mata yang berbinar.
Jaehyun dan Yuta saling pandang, seolah memastikan bahwa masakan mereka telah berhasil.
"Siapa yang membuatnya?" tanya Jeno di sela sela mengunyah makanannya kembali.
"Yuta," jawab Jaehyun. "Dia memintaku mengajarinya resep baru."
Jeno menoleh ke arah Yuta yang tersenyum bangga. Ia pun membalas dengan senyum hangat, mengapresiasi usaha istrinya.
"Makanannya sebentar lagi siap, sebaiknya kau segera bersihkan dirimu terlebih dahulu," kata Yuta.
Jeno mengangguk, meletakkan sumpitnya, lalu berjalan menuju kamar. Sementara itu, Yuta dan Jsehyun kembali melanjutkan aktivitas di dapur, tawa kecil masih menghiasi kebersamaan mereka.
Begitu masih ke dalam kamar, Jeno mendapati bayi kecilnya yang tertidur nyenyak di tengah kasur yang besar itu. Seketika langkah melambat saat ia mendekat, takut menganggu tidurnya.
Ia duduk di tepi kasur, matanya melebut melihat wajah polos sang buah hati. Rasa lelah seakan semakin menguap begitu saja. Dengan hati hati, ia membelai lembut kepala kecil itu, lalu menghela napas pelan.
Hanya dengan meoihatnya, Jeno merasa seluruh kepenatan hari ini terbayar lunas.
Jeno tersenyum tipis, jemarinya beralih mengusap pipi sang buah hati yang terasa hangat. Napas kecil yang teratur membuat hatinya terasa lebih tenang.
Ia menarik selimut, mematikan bayinya tetap nyaman. Sesaat, ia hanya duduk di sana, menikmati momen berharga ini.
Setelah beberapa menit, Jeno akhirnya bangkit dengan hati hati, beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Rasa lelahnya masih ada, tapi kini terasa lebih ringan, seolah kehangatan keluarga yang menunggunya telah menghapus semua penat yang ia rasakan.
***
Setelah acara makan malam bersama, Yuta, Jeno, dan Jaehyun masuk ke dalam kamar masing masing. Di kamar mereka, Jeno dan Yuta berbaring saling berhadapan, dengan sang buah hati berada di tengah tengah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Step Brother Na Yuta
FanfictionSi kembar yang tak terima jika Yuta menjadi kakak tiri mereka.
