83

132 8 0
                                        

Tiba di kamar mereka, Haechan meletakkan tubuh Yuta perlahan di atas kasur, seolah takut jika gerakan terlalu cepat akan memecahkan sesuatu yang rapuh. Tak butuh waktu lama, ia kemudian menaiki ranjang, menempatkan dirinya di atas Yuta, mengurung pria Jepang itu yang kini terisak, memohon lirih.

Haechan menikmati setiap ekspresi yang terukir di wajah Yuta--tatapan menggoda yang terselubung dalam kepasrahan, serta suara lembut yang tertahan di tenggorokan, nyaris menyerupai bisikan.

Dada Yuta naik turun, napasnya tersengal, tubuhnya perlahan menggeliat kecil seiring sensasi yang terus menghantam, tak memberinya ruang untuk benar-benar tenang.

Oh, beruntungnya Haechan malam ini menjadikan Yuta sebagai istrinya.

Dengan punggung tangannya, Haechan mengusap wajah Yuta yang basah oleh peluh, lalu gerakannya turun perlahan ke leher, sebelum satu per satu kancing baju itu ia buka dengan sentuhan lembut dan penuh perhatian.

Begitu kain terbuka, tampak jelas dada Yuta yang kini tak lagi tertutup apa pun. Puting kecilnya menegang, kulitnya sedikit memerah, sementara garis tulang rusuk yang menonjol mempertegas tubuhnya yang kurus namun terawat.

Pandangan Haechan lalu jatuh ke perut Yuta--rata, dengan garis halus vertikal yang memanjang di bawah pusarnya. Ia terpaku sejenak, dan untuk alasan yang tak sepenuhnya bisa ia jelaskan, ada rasa sesak menghantam dadanya.

Dengan sentuhan samar, Haechan menyusuri kulit Yuta, jari-jarinya akhirnya berhenti di sebuah bekas luka yang tersembunyi di bawah perut. Perlahan, ia membuka kancing celana Yuta, lalu menurunkan pakaian itu bersama dalamannya dengan hati-hati. Garis vertikal bekas luka itu cukup panjang, hampir mencapai pangkal penisnya.

Bekas luka ini, sangat mengganggu pemandangan indah tubuh Yuta. Namun, ia juga tak bisa menyalahkan Yuta sepenuhnya.

Haechan menyamakan lagi posisinya seperti semula, menatap cukup dingin ke arah Yuta. Haechan merendahkan tubuhnya, mengikis jarak sampai tak ada sisa di antara mereka.

"Haechanhhh ..."

"Hm?" sahutnya pelan, nyaris seperti desahan, tapi dingin. Jarak di antara mereka sudah tak bersisa, tubuh mereka saling menempel, dan napas Yuta yang tak teratur terasa langsung di kulitnya.

"Aku mohonhhh..."

Suara itu lirih, terengah, nyaris tercekat di kerongkongan. Mata Yuta berkaca-kaca, wajahnya memerah, memohon dengan cara yang tak sepenuhnya ia pahami.

Tubuhnya menggeliat di bawah Haechan, tak bisa diam, tak bisa tenang.

Tapi Haechan hanya menatapnya dari atas, dingin dan penuh kendali. Ia mengamati Yuta seakan sedang menilai sebuah karya seni yang belum selesai, mencari makna di balik tiap detail.

"Kau memohon apa, sayang?" bisiknya, hampir manis jika bukan karena nada sinis yang samar terdengar di ujung suaranya.

Ia merendahkan tubuhnya, membiarkan napas hangatnya menyapu kulit leher Yuta, lalu bibirnya menempel di sana, mencium perlahan namun dalam, meninggalkan bekas merah yang segera muncul di kulit pucat itu.

"Aaaaahhh... Haechaaanhhh..."
Suara Yuta pecah, tubuhnya menegang, lalu melentur lagi seperti ombak yang terus dihantam angin. Pinggulnya sedikit terangkat, gelisah, mencari sesuatu--kelegaan, pelepasan, atau sekadar pengakhiran.

"Tolonghhh... keluarkanhhh..." katanya lagi, nyaris seperti menangis. Kedua tangannya mencengkeram seprai, jari-jarinya gemetar hebat.

Haechan membiarkan satu tangannya meluncur turun, menyentuh perut bagian bawah Yuta dengan gerakan lambat, lalu berhenti tepat di tempat itu--di antara selangkangan Yuta, tempat vibrator kecil masih bekerja tanpa ampun, berdenyut lembut namun konstan.

Step Brother Na YutaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang