Setelah diajak berkeliling ke seluruh penjuru mansion, mereka akhirnya tiba di tujuan akhir. Haechan dan Jaemin membuka pintu besar berwarna hitam, memperlihatkan sebuah kamar luas dengan interior mewah dan elegan.
Yuta dipersilakan masuk. Langkah kakinya pelan, matanya menelusuri setiap sudut ruangan dengan waspada.
"Ini kamar kita, Yuta," ujar Jaemin sambil tersenyum tipis. "Jauh lebih baik dari yang sebelumnya, bukan?"
Yuta tak menjawab, hanya berdiri di tengah ruangan, mencoba mencerna semuanya. Ranjang berukuran king dengan seprai putih bersih berdiri megah di tengah kamar, dikelilingi furnitur mahal dan jendela besar yang menghadap taman belakang.
Haechan mendekat, membuka pintu lemari di sisi kiri ruangan. "Kami sudah menyiapkan pakaian untukmu. Nanti malam, kau akan mengenakan yang ini," katanya sambil menarik keluar setelan putih gading yang tergantung rapi di sana.
Jaemin melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Yuta. Tubuhnya menempel rapat, kedua lengannya perlahan melingkari perut ramping Yuta, sementara wajahnya ia dekatkan ke leher sang pria.
Tubuh Yuta sontak menegang saat merasakan hembusan napas hangat menyentuh kulitnya.
"Kami akan membiarkanmu beristirahat sejenak," bisik Jaemin di telinganya, nadanya tenang namun dalam.
Melihat itu, Haechan ikut mendekat, berdiri tepat di hadapan Yuta. Tubuhnya turut menempel tanpa celah, satu lengannya melingkari pinggang Yuta, sementara tangan satunya terangkat, menyentuh lembut dagu pria itu.
"Kami akan mengurus semua persiapan. Begitu semuanya siap, kami akan datang menjemputmu," ujarnya.
Tanpa memberi waktu untuk bereaksi, Haechan menunduk dan menempelkan bibirnya ke bibir Yuta. Lembut namun mendalam, usapannya disertai sapuan ringan lidah yang menciptakan geli yang membakar.
Belum sempat Yuta bereaksi, Jaemin segera merebut momen itu. Tangannya memaksa Yuta menoleh ke belakang, lalu mengecup bibirnya dengan sentuhan yang lebih tajam, hampir menuntut.
Setelah ciuman singkat itu, keduanya perlahan melepaskan diri. Jaemin menatap Yuta dengan sorot yang sulit diartikan-antara kepemilikan dan kekaguman yang terbungkus dingin. Haechan tersenyum tipis, lalu membenarkan kerah bajunya seolah tak terjadi apa-apa.
"Kami pergi dulu," ucap Haechan datar, sebelum berbalik menuju pintu.
Jaemin menyusul, namun sempat menoleh satu kali. "Istirahatlah, sayang. Malam ini akan panjang."
Pintu besar kamar itu pun tertutup perlahan di belakang mereka, meninggalkan Yuta sendirian di dalam ruangan luas itu. Hening langsung menyelimuti, hanya terdengar suara jam berdetak pelan dan hembusan pendingin ruangan.
Yuta berdiri terpaku. Matanya menatap kosong ke arah pintu, sebelum akhirnya terjatuh di lantai. Ia tak lagi sanggup berpura-pura tegar.
Ingin rasanya lari sejauh mungkin dari tempat ini-meninggalkan semua yang membelenggunya-dan kembali ke pelukan keluarga kecil yang begitu ia rindukan.
Air mata mulai jatuh dari sudut matanya, mengalir tanpa henti. Isak tangisnya terdengar lirih, menggema di kamar luas yang kini terasa sunyi dan dingin.
Kedua tangannya terangkat, meremas kuat bagian depan bajunya hingga kusut, seolah ingin meredam sesak yang menekan dadanya.
"Jeno... aku mau pulang..." bisiknya, nyaris tak terdengar, tercekik di antara tangis yang pecah tanpa bisa ia bendung lagi.
***
Selesai dengan semua dekor yang sudah terpasang, dan baju pernikahan yang sudah terpasang di tubuh mereka. Haechan meminta kembarannya untuk menjemput Yuta di kamar mereka, karena ia harus menyambut tamu dan pendeta yang sebentar lagi akan datang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Step Brother Na Yuta
FanfictionSi kembar yang tak terima jika Yuta menjadi kakak tiri mereka.
