Setelah cukup lama di luar, Yuta dan Jaehyun akhirnya kembali ke apartemen. Udara segar dan suasana luar membuat perasaan Yuta terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya.
Sementara itu, Jaehyun merasa lega melihat Yuta bahagia, meski di sisi lain ia tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya jika Jeno sampai tahu.
"Jaehyun, terimakasih sudah membawaku keluar hari ini," ucap Yuta, tulus.
"Hm, bukan masalah," balas Jaehyun singkat, dengan nada sedikit cemas.
Yuta lalu masuk ke kamar dan meletakkan Aeri yang tertidur pulas. Sejak tinggal di sini, Aeri tumbuh menjadi bayi yang semakin aktif.
Bahkan saat mereka di luar tadi, tawa cerianya tak henti terdengar, membuat orang orang yang lewat ikut gemas dan menyapa dengan senyum hangat.
Yuta benar benar merasa senang, sampai sampai senyum yang terukir di wajahnya tak mampu ia tahan begitu mengingat momen momen tadi.
Rasanya sudah lama ia tidak melihat dunia luar dan menikmati hari tanpa tekanan. Aeri pun juga tampak puas setelah seharian tertawa dan bermain.
Setelah memastikan Aeri tertidur dengan nyaman, Yuta keluar dari kamar. Ia langsung mendapati Jaehyun duduk di ruang tengah, menatap layar televisi kosong, seolah pikirannya melayang entah ke mana.
"Kau menonton apa?" tanya Yuta, berjalan mendekat.
Jaehyun tersentak kecil, lalu tersenyum tipis. "Hanya serial biasa di TV," jawabnya, berusaha menyembunyikan kecemasan yang menggelayuti pikirannya.
Yuta duduk di sampingnya, ikut menatap layar tanpa benar benar tahu apa yang ditonton. Keheningan menyelimuti ruangan hingga suara Yuta memecahnya.
"Jaehyun ..." panggilnya, pelan.
"Hm?" sahut Jaehyun tanpa menoleh.
Yuta terdiam sejenak, sebelum akhirnya menatap wajah lalu bahu Jaehyun dari samping. "Boleh aku bersandar di bahu mu?"
Pertanyaan itu berhasil membuat Jaehyun menoleh ke arah Yuta yang menatapnya dengan begitu dalam. "Eh?"
Tanpa menunggu sebuah jawaban, Yuta langsung meletakkan kepalanya di bahu Jaehyun, membuat si Valentine tersentak dan jantungnya sedikit berdebar.
"Wah, bahu mu terasa nyaman. Sangat berbeda dengan bahu Jeno yang keras," kata Yuta yang sedikit dibumbui candaan.
Meski tubuh Jaehyun menegang, sebisa mungkin ia mencoba untuk tenang agar Yuta merasa nyaman.
"Jaehyun, sejujurnya aku pernah menaruh rasa cemburu kepadamu," kata Yuta.
Jaehyun terdiam. Bibirnya terasa kelu untuk membalas ucapan Yuta.
"Bahkan aku juga iri kepadamu karena kau sudah terlebih dahulu dekat dengan Jeno. Dan aku tidak menyukai itu. Aku juga sempat berpikir kau adalah orang yang menyebalkan dan kaku."
Jantung Jaehyun semakin berdebar dan tubuhnya semakin menegang. Namun, ia tetap mempertahankan posisinya untuk terlihat biasa saja.
"Aku sempat mendengar percakapan kalian di balkon saat pertama kali tinggal di sini. Kau ... mengutarakan perasaanmu pada Jeno."
Bagai di sambar petir, Jaehyun semakin tidak tahu lagi harus bagaimana untuk bereaksi.
"Awalnya, aku ingin marah lalu menjauhkan mu dari Jeno. Tapi, setelah menghabiskan waktu bersamamu, aku jadi tahu bahwa kau orang yang baik."
Untuk sesaat, Jaehyun merasa dirinya mulai melunak. Debaran jantungnya perlahan kembali normal.
"Aku merasa bahwa kaulah orang yang selama ini Jeno butuhkan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Step Brother Na Yuta
FanficSi kembar yang tak terima jika Yuta menjadi kakak tiri mereka.
