84

167 8 0
                                        

Cengkeraman tangannya pada sprei mengencang, tubuhnya melengkung seiring putingnya digigit dan diisap dengan rakus oleh si kembar. Di bawah sana, penisnya dipompa naik turun tanpa jeda, sementara lubangnya dikoyak bersamaan dengan gerakan yang makin liar.

"Aahhh--! S-stop... ahh... nngh--!"

Namun mereka tak memberinya jeda. Yuta kembali meledak, tubuhnya memanas, penuh cairan dan basah oleh campuran peluh serta jejak nafsu yang tak berkesudahan.

"Hhh... hhh... aahh..."

Cairannya masih menetes dari ujung penisnya, bahkan sebelum tubuhnya sempat beristirahat, mulut salah satu dari si kembar sudah menyambarnya--menjilatnya bersih, menyedot sisa yang masih hangat hingga Yuta kembali terjerembab dalam kejang samar.

"J-Jaeminhh... t-tunggu... hh--!"

Namun tak satu pun dari mereka mengindahkannya.

Haechan naik ke atas tubuhnya, menjepit lengan Yuta ke atas kepala, bibirnya mencuri ciuman dalam dengan lidah yang masuk paksa, membelit dan menuntut. Sementara Jaemin menyusup ke antara paha Yuta yang basah dan sudah terlalu lelah untuk merapat.

Satu jari masuk, lalu dua. Tanpa peringatan, mereka menekan titik dalam tubuhnya dengan presisi yang membuat Yuta menjerit tertahan.

"Ahh--Nngh! J-jangan--!"

Pinggul Yuta otomatis terangkat, mencari dan menghindar dalam waktu bersamaan. Tapi mereka terlalu lihai, tahu di mana harus menyentuh, di mana harus menggigit, dan kapan harus memperlambat sebelum kembali menghantamnya lebih dalam dan lebih dalam lagi.

Tubuhnya berkeringat, kulitnya penuh bekas gigitan dan jejak air liur. Napasnya terputus-putus, bergetar antara kenikmatan dan kelelahan, namun setiap goyangan, setiap jilatan, setiap tusukan, justru membangkitkan gelombang baru dalam dirinya.

Dan saat Haechan dan Jaemin mulai memasukkan penis mereka yang keras, panas ke dalam lubang Yuta--pelan, mendesak masuk sepenuhnya--Yuta hanya bisa menggigit bibir, matanya berkaca, suara erangan tertahan yang memalukan lolos dari tenggorokannya.

"Ahh... k-kalian... aahhh!"

Tubuh Yuta terdorong ke atas kasur seiring gerakan itu--keras, penuh tekanan. Haechan menahan kedua pahanya lebar-lebar, membuatnya terbuka sepenuhnya tanpa celah. Jaemin mendorong masuk lebih dalam lagi, sampai dinding dalamnya meregang paksa, memaksa Yuta menjerit.

"AAH--AHH! S-sakit...!"

Tapi permohonan itu hanya disambut cengiran penuh nafsu. Kedua tangan Yuta ditahan di atas kepala, sementara pinggulnya dihantam berulang, ritmenya cepat, kasar, liar--seolah mereka sengaja ingin membuatnya hancur.

Tubuhnya terombang-ambing mengikuti irama brutal itu, setiap dorongan membuat ranjang berderit, membuat lututnya lemas, dan bagian terdalamnya berdenyut hebat.

Haechan mencengkeram rahang Yuta, memaksa mulutnya terbuka, lalu mendorong jarinya masuk--membiarkan air liur Yuta melumuri seluruh ruas jari itu, sementara mulutnya yang lain sibuk mengisap puting Yuta dengan rakus.

Tak lama, Jaemin menyusul. Ia menyusu di puting satunya, serakah dan tak kenal ampun, sementara tangannya memompa penis Yuta dengan kecepatan yang brutal--basah, licin, dan menghanyutkan.

Kedua mata Yuta terbalik, maniknya juling ke atas, napasnya tersangkut di tenggorokan. Gelombang nafsu itu tak kunjung reda, malah terus mendaki, menggulung tubuhnya tanpa ampun.

Dan ketika puncaknya datang, Haechan dan Jaemin mempercepat gerakan pinggul mereka. Erangan Yuta bercampur dengan suara basah yang menggila. Hingga akhirnya--dalam satu hentakan terakhir--mereka menyemburkan cairan panas mereka ke dalam tubuh Yuta secara bersamaan.

Step Brother Na YutaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang