Pagi ini Jaehyun tengah sibuk menyiapkan sarapan yang kali kini tak hanya untuk dirinya sendiri. Dapur yang biasanya sunyi kini terasa lebih hidup dengan suara alat masak yang beradu dan aroma masakan yang harum memenuhi ruangan.
Di tengah kesibukan Jaehyun menyiapkan sarapan, terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Jeno muncul dari arah kamar dengan penampilan santai dan rambutnya masih acak acakan. "Hyung ... selamat pagi," sapanya, menguap kecil, berdiri di depan meja pantry. garis kantuknya masih terlihat jelas di wajahnya.
Untuk sesaat, Jaehyun menolehkan kepalanya lalu kembali fokus pada aktivitasnya. "Pagi," balasnya singkat. "Kenapa kau keluar sediri? Istrimu masih tidur?"
Jeno mengangguk pelan dengan matanya yang kembali tertutup. "Sepertinya dia kelelahan semalam. Aku tidak tega membangunkannya."
Masakan sudah siap, dan satu persatu dihidangkan di meja pantry oleh Jaehyun. "Sudah pastinya dia kelelahan-" ucap Jaehyun sembari meletakkan piring terakhir. Namun, saat ia menatap Jeno, matanya langsung menangkap bekas gigitan samar di leher pemuda itu.
Jaehyun mengangkat alis, ekspresinya berubah. "-Karena kalian terlalu bersenang senang sampai lupa kalau kalian berada di rumah ku," katanya dengan nada sedikit kesal.
Mendnegar itu, Jeno terdiam sejenak. Matanya yang semula tertutup kembali terbuka lebar. Ia menatap Jaehyun dengan senyum canggung di wajahnya, mencoba mencari kata kata untuk meredakan situasi, tapi tak ada satupun yang muncul di benaknya. "Hehehe ... "
Mendapat respon yang seperti itu, Jaehyun menghela napasnya. "Mentang mentang sudah menjadi suami istri, kalian bisa melakukannya juga di rumah orang lain? Aku juga punya batas tolerensi, kau tahu?" ujarnya dengan tenang namun tegas.
Seketika Jeno langsung mengangguk cepat, wajahnyan terlihat sedikit memerah. "Maaf, hyung. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
Jaehyun menatapnya dengan tatapan tajam, seakan mencari setitik kebohongan melalui sorot matanya. "Aku tahu kau selalu memegang janjimu. Tapi, kalau aku sampai mendengar suara suara aneh lagi, aku akan mengusirmu keluar!"
"Ya, ya! Aku berjanji!" jawab Jeno cepat, sambil menegakkan tubuhnha seperti seorang prajurit yang menerima perintah.
"Sekarang, basuhlah wajahmu lalu sarapan. Aku akan menyimpan bagian Yuta untuk nanti." kata Jaehyun sambil menatap ulang lagi mejanya.
Segera Jeno menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Air dingin yang menyentuh kulit lerlahan menghilangkan sisa sisa kantuknya, setelahnya merasa lebih segar, ia kembali ke dapur di mana Jaehyun masih berada di sana.
Jeno duduk di tempatnya sedangkan Jaehyun berada di sisi lain. Kini suasana di antara mereka terasa lebih ringan, meski masih ada sedikit keheningan yang menyelimuti.
Jaehyun menatap Jeno sejenak, kemudian melanjutkan makannya. "Hari ini kau akan melayat ke keluarga Lucas dan Jungwoo?" tanya Jaehyun setelah beberapa saat.
Jeno mengangguk di sela sela mengunyah makanannya. "Tentu, aku harus ke sana. Mereka bawahan yang paling bisa ku andalkan dalam menjaga Yuta." jawabnya dengan suara yang tenang.
Jaehyun mengangguk pelan sambil terus menikmati makanannya, seakan mencerna kata kata Jeno. "Kalau begitu, titipkan salam ku untuk mereka. Meski aku tidak terlalu dekat, sesekali aku pernah mengobrol dengan Lucas dan Jungwoo."
"Tentu, aku akan menyampaikan salammu," balas Jeno dengan senyum tipis di wajahnya.
Selesai sarapan, Jeno beranjak untuk mengurus bayinya terlebih dahulu. Ia memandikannya dengahati hati, memastikan si kecil tetap nyaman, lalu memberikannya makan dengan penuh kasih sayang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Step Brother Na Yuta
FanfictionSi kembar yang tak terima jika Yuta menjadi kakak tiri mereka.
