Tak terasa sudah sebulan Jeno dan Yuta tinggal di kediaman Jaehyun. Belum ada tanda tanda ancaman dari si kembar yang selama ini mereka khawatirkan. Rasa nyaman di tempat ini membuat mereka seolah melupakan kejadian kelam sebelumnya.
Malam itu, mereka bertiga menikmati makan malam bersama. Seperti biasa, obrolan ringan mengisi suasana. Jeno berbagi cerita tentang rutinitas kantor yang terdengar monoton, sementara Yuta antusias menceritakan kesehariannya menghabiskan waktu bersama Aeri dan Jaehyun.
Terkadang Jeno merasa iri melihat sekretarisnya selalu berada di sisi istri dan anaknya, dan mereka terlihat begitu lebih akrab dari sebelumnya. Namun, demi keselamatan keluarga kecilnya, ia memilih menahan perasaan itu.
Jaehyun tersenyum kecil saat mendengar Yuta bercerita tentang kesehariannya. Sesekali, ia menimpali dengan candaan ringan yang membuat Yuta tertawa, menciptakan kehangatan di antara mereka.
Jeno pun larut dalam cerita sang istri. Ia tahu tidak seharusnya merasa cemburu, ia harus tetap percaya dan menahan perasaan ini, karena yang lebih penting sekarang adalah memastikan Yuta dan Aeri tetap aman.
Usai makan malam, mereka nertiga masuk ke kamar masing masing.
Di kamar, Jeno duduk di sofa, matanya terpaku pada Yuta yang berdiri dekat jendela sembari menyusui Aeri dengan penuh kelembutan. Suara senandung lembut Yuta mengalun, menenangkan sang buah hati hingga perlahan tertidur.
Begitu Aeri terlelap, Yuta merapihkan bajunya dan berjalan ke arah kasur. Dengan hati hati, ia meletakkan bayinya, memastikan tidurnya tetap nyaman. Tak lupa, Yuta membedong kembali Aeri.
Setelah selesai, Yuta mendekati Jeno dan tersenyum. "Sekarang giliran kita tidur," ujarnya.
Namun, alih alih beranjak dari tempat tidur, Jeno menarik pinggang Yuta dengan lembut, mendekatkannya. Ia menengadah, menatap manik istrinya dengan penuh arti.
"Sebenarnya, sebelum tidur, aku ingin melakukan sesuatu bersamamu," gumamnya.
Yuta memiringkan kepalanya, seakan tidak mengerti maksud dan tujuan pertanyaan tadi. "Melakukan apa?"
Jeno melingkarkan lengannya di pinggang Yuta, lalu mengusapkan wajahnya di perut rata sang istri. "Tentu saja, kegiatan rutin sebelum tidur," bisiknya dengan nada rendah, terdengar manja.
Yuta terkekeh, jemarinya mengusap rambut Jeno dengan lembut. "Kau ini ... mau dimarahi Jaehyun lagi?" godanya.
Mendengar itu, Jeno hanya mendesah pelan dan semakin mengeratka pelukannya. Ia teringat bagaimana Jaehyun memperingatkannya sebelumnya, dan kini hanya bisa mengerang pelan-suaranya yang lebih terdengar seperti rengekan bayi, membuat Yuta semakin geli.
Yuta tertawa kecil, menepuk pelan kepala Jeno yang masih bersandar di perutnya. "Sudahlah, cepat tidur. Besok kau harus bangun pagi pagi."
Jeno mendongak, bibirnya mengerucut seolah enggan melepaskan istrinya.
Yuta menghela napas sambil tersenyum, lalu membungkuk untuk mengecup dahi suaminya. "Kita bisa melakukannya lagi, kalau semua sudah kembali seperti dulu, dan kau boleh melakukanya sepuasmu. Untuk sekarang, kita langsung tidur, ya suamiku."
Dengan berat hati, Jeno mengiyakan ucapan Yuta barusan. Yuta melepas pelukan Jeno dan menariknya agar mau berdiri.
Yuta menarik Jeno ke kasur, dan ia naik terlebih dahulu, memastikan posisi Aeri tetap nyaman dan berbaring di sampingnya. Jeno pun menyusul, menarik selimut dan merangkul Yuta dari belakang.
"Selamat malam," bisik Jeno, mengecup dalam pundak Yuta.
"Selamat malam, Jeno," balas Yuta, menggenggam tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Step Brother Na Yuta
FanfictionSi kembar yang tak terima jika Yuta menjadi kakak tiri mereka.
