73

275 11 0
                                        

Suasana makan alam kali ini terasa begitu berbeda dari biasanya. Di meja makan yang terletak di tengah ruangan, dengan cahaya kuning temaram memancarkan kehangatan namun tak mampu mengusir keheningan yang menyelimuti.

Tak ada gelak tawa atau obrolan santai seperti sebelumnya, hanya terdengar dentingan alat yang saling bertabrakan, menyusun irama yang terasa asing.

Jeno duduk dengan sikap tenang, matanya sesekali melirik Yuta yang makan dengan perlahan. Tak biasanya Yuta makan dalam diam seperti ini, dia selalu menyelipkan obrolan yang tercampur dengan candaan. Namun malam ini, Yuta lebih banyak diam.

Wajahnya menunjukkan kehampaan dengan mata yang terlihat lelah tapi masih berusaha untuk terlihat baik baik saja demi menenangkan hati Jeno.

Jaehyun, yang duduk di ujung meja, memperhatikan pasangan suami istri itu dalam diam keeningan yang sedikit canggung. Ia tahu, suasana hati mereka belum sepenuhnya pulih, tapi tetap ingin mencairkan suasana. "Bagaimana masakanku? Apa sesuai dengan selera kalian?" tanyanya, memecah keheningan diantara mereka.

Jeno melirik ke arah Yuta terlebih dahulu, memastika istrinya menikmati masakan Jaehyun. Yuta mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis. "Makanannya terasa enak, Jaehyun-sshi," jawabnya dengan nada lirih namun tulus.

"Masakan Jaehyun hyung, memang tiada tandingnya. Sejak dulu, Jaehyun hyung selalu memasak untuk kami." sahut Jeno, sedikit menceritakan masa lalunya.

Jaehyun terkekeh, sedikit merasakan kenangan di masa lalunya. "Kau terlalu berlebihan, aku hanya memasak seadanya sesuai buku resep." balasnya merendah.

Yuta diam memperhatikan obrolan suami dengan sekretarisnya itu. Nada ringan dalam percakapan itu mengalir begitu saja, mengusir keheningan dan kecanggungan di antara mereka, membuat Yuta merasa terhibur dengan gurauan yang mereka selipkan.

Sesekali senyum tipis muncul di wajah Yuta saat mendengar gurauan kecil dari Jeno dan Jaehyun. Hingga tanpa disadari, suara tawa kecil keluar dari bibirnya saat mereka melontarkan candaan.

Suara tawa yang tulus membuat Jeno dan Jaehyun terdiam sejenak, lalu saling bertukar pandang. Keduanya merasa lega melihat Yuta yang kini terlihat lebih cerah dari sebelumnya.

Tak ingin menghilangkan senyum istrinya, Jeno kembali melontarkan candaan yang dibalas langsung oleh Jaehyun. Suasana makan malam kini terasa lebih hangat. Yuta pun sesekali memberikan komentar di sela sela candaan mereka.

Beban yang diraskan mulai terangkat, digantikan dengan gelagat tawa yang berasa dari mereka bertiga. Malam ini menjadikan momen yang sederhana, namun bermakna--sebuah jeda dari semua kekacuan yang sebelumnya menyelimuti hidup mereka.

***

Udara malam yang terasa dingin menyelimuti dengan keheningan yang khas. Angin lembut yang berhembus menyapu asap putih yang keluar dari mulut Jaehyun yang tengah duduk di balkon sambi menghisap rokoknya. Wajahnya terlihat tenang, namun matanya memandang jauh ke arah sinar bulan yang terang.

Secangir kopi hangat ada di meja kecil sampingnya, uap tipis menguarkan aromanya yang khas di udara malam. Jaehyung menarik napas dalam dalam, menghembuskannya perlahan bersama asap rokoknya.

Di tengah menikmati kesendiriannya, suara langkah lembut terdengar dari arah dalam. Jeno muncul dari balik pintu balkon, tubuhnya diselimuti bayangan malam. Jaehyun, begitu menyadari kehadirannya dengan sigap mematikan rokoknya di asbak.

"Jaehyun hyung ... Aku tidak tahu kalau kau merokok," kata Jeno, sedikit canggung namun bernada penasaran.

Jaehyun tersenyum tipis, tangannya terangkat mengusap leher belakangnya seolah menghilangkan rasa bersalahnya. "H-hanya sesekali", jawabnya, sedikit tergagap.

Step Brother Na YutaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang