Di hadapan Yuta saat ini terparkir sebuah jet pribadi berwarna hitam mengkilap, dengan garis emas elegan yang mempertegas lekuk bodinya. Kilau pesawat itu begitu menyilaukan di bawah lampu landasan, tampak begitu tegas dan mengintimidasi.
Haechan menggenggam tangan Yuta, menuntunnya menaiki tangga jet. Setiap langkah terasa begitu berat bagi Yuta, seolah setiap tapaknya menjauhkan dirinya dari dunia yang selama ini ia kenal.
Begitu mereka masuk ke dalam kabin, aroma kulit mewah dan parfum mahal menyeruak memenuhi udara. Interior jet itu didominasi hitam dan emas, memancarkan kemewahan sekaligus ancaman yang mengintai di baliknya.
Jaemin mengikuti dari belakang, memastikan tak ada celah bagi Yuta untuk kabur. Ia menutup pintu jet hingga berbunyi "klik" yang terdengar menyesakkan di telinga Yuta, seolah mengunci takdirnya bersama mereka selamanya.
Haechan mempersilahkan Yuta duduk di salah satu kursi, lalu memasang sabuk pengamannya dengan gerakan lihai dan lembut. Haechan mendongak, menatap Yuta yang terus menunduk lalu ia tersenyum.
"Mulai detik ini, kita akan bersama selamanya, sayang," kata Haechan yang terdengar lembut, namun membuat Yuta bergidik ngeri.
Jaemin duduk di sebrangnya, menyilangkan kaki dengan santai, matanya terus menatap ke arah Yuta, mengawasinya seperti seekor serigala yang menjaga buruannya.
Tak lama kemudian, suara pilot terdengar melalui speaker, mengumumkan bahwa pesawat siap lepas landas. Mesin mulai meraung, menandai perjalanan baru yang kelam untuk Yuta.
Yuta menunduk, mengeratkan tangannya di atas pangkuan. Hatinya terasa hampa, namun ia memaksakan diri untuk tetap kuat. Demi Jeno. Demi anak mereka. Demi keluarganya.
Kemudian, pesawat perlahan mulai bergerak, meninggalkan landasan kosong yang dingin di belakang mereka.
***
Setelah lama tak sadarkan diri, perlahan Jaehyun mulai membuka kedua matanya. Rasa pening langsung menyerang kepala, membuatnya mengerang pelan. Tangannya terangkat, memegangi pelipis dan memijatnya perlahan, mencoba meredakan sakit yang menusuk.
Untuk beberapa saat, ia hanya terdiam, menatap langit-langit sambil mencoba mengembalikan ingatannya yang sempat kabur. Namun ketika semuanya mulai jelas, kepanikan segera menyergapnya.
Jaehyun langsung bangkit dari posisi tergeletaknya, tubuhnya sedikit limbung tapi tak mengurungkan niatnya untuk berdiri. Pandangannya menyapu sekeliling apartemen yang kini tampak sepi dan hening, terlalu hening.
Tanpa membuang waktu, ia melangkah cepat menuju kamar tamu. Di sana, hanya ada seorang bayi yang tertidur pulas di atas kasur, napasnya tenang seakan tak menyadari kekacauan yang sedang terjadi.
Lalu, Jaehyun keluar. Dari atas, ia menatap ke bawah-ke jalanan sunyi yang tersapu cahaya lampu kota-hatinya digerus rasa cemas yang semakin menyesakkan dada.
Jaehyun kembali masuk ke dalam apartemennya. Wajahnya pucat, tubuhnya terasa lemas dibalut kecemasan yang terus menekan. "Bagaimana ini..." gumamnya pada diri sendiri, panik mulai merayap dari dada hingga ke ujung kaki.
Tak berselang lama, suara pintu yang terbuka mengejutkannya. Ia segera menoleh, berharap Yuta yang muncul dari balik ambang. Namun, harapannya runtuh ketika ia melihat sosok Jeno berdiri di sana-dengan wajah merah padam penuh luka dan alis yang menukik tajam, penuh amarah.
Tanpa sepatah kata pun, Jeno melangkah cepat. Nafasnya memburu, matanya menyala. Dalam sekejap, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Jaehyun, suara hantamannya menggema hingga sudut-sudut ruangan.
Jaehyun terdiam, menunduk, matanya kosong memandang lantai. Kepalanya masih memproses apa yang barusan terjadi.
Tak berhenti di sana, Jeno langsung mencengkeram kerah baju Jaehyun, menariknya kasar hingga wajah mereka hanya terpisah beberapa senti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Step Brother Na Yuta
FanfictionSi kembar yang tak terima jika Yuta menjadi kakak tiri mereka.
