86

108 9 0
                                        

Yuta kembali ke kamarnya, namun hanya untuk berdiri di dekat jendela. Jemarinya meremas gorden tipis, menatap tiga mobil hitam mengilap yang terparkir rapi di teras bawah.

Di sana, Haechan dan Jaemin mendongak serempak, melambaikan tangan dengan senyuman yang bahkan dari sini bisa ia bayangkan kehangatannya yang justru semakin membekukan.

Yuta diam membatu, tak membalas lambaian itu. Ia hanya menatap sendu, membiarkan tatapan sedihnya mengantar tiga mobil yang mulai melaju pelan, meninggalkan mansion megah bagai istana ini.

Begitu mobil terakhir menghilang di balik gerbang besar, dada Yuta yang sejak tadi menahan napas, mengempis lega. Kepergian si kembar bukan berarti ia harus terkurung. Ini kesempatannya.

Ia berbalik, kakinya yang jenjang dan telanjang melangkah cepat ke pintu, namun penuh kehati-hatian. Telapak kakinya menempel dingin di lantai marmer, berusaha tak menimbulkan suara.

Jemarinya meraih gagang pintu, menekannya pelan, membuka daun pintu hanya selebar tubuhnya. Yuta mengintip sebentar, memastikan lorong kosong, lalu meluncur keluar seperti bayangan.

Lorong panjang itu kembali menyambutnya. Luas, megah namun terasa sempit, mencekik, dengan dinding-dinding yang seolah terus mengawasinya.

Yuta menyusuri lorong itu, tubuhnya merapat ke dinding, napasnya dipelankan. Setiap sudut tak lepas dari pandangannya, setiap bayangan ia curigai.

Sampai di ujung lorong menuju tangga, ia berhenti. Tubuhnya menempel sempurna ke dinding, hanya kepalanya yang menoleh perlahan, mengamati.

Delapan. Ada delapan penjaga. Empat di lantai yang sama, tersebar di beberapa titik. Empat lagi di bawah sana, mengawasi area utama.

Jantungnya yang sedari tadi berdebar kencang mulai menderu. Yuta memejamkan mata, menarik napas panjang dan pelan. Harus tenang. Harus normal. Jangan mencurigakan.

Saat membuka mata, detaknya sudah jauh lebih terkendali. Tubuhnya yang tadi membungkuk, ia tegakkan. Bahunya ia tarik ke belakang. Ekspresinya ia luruskan.

Setelah merasa cukup tenang, Yuta melangkah keluar dari persembunyian, berjalan santai menuruni tangga seperti tak ada beban sedikit pun.

Keempat penjaga di lantai atas hanya melirik sekilas. Mereka ingat betul pesan bos: jangan dekati, jangan sentuh, kecuali ada gerak mencurigakan.

Dan saat ini, Yuta hanya berjalan biasa. Begitu pula empat penjaga di lantai dasar. Saat Yuta tiba di bawah, mereka mengabaikannya, menganggapnya hanya penghuni yang sedang berjalan-jalan.

Yuta melirik mereka sekilas, diam-diam menghitung posisi dan jarak, tapi langkahnya tetap mantap menuju pintu utama. Tangannya meraih gagang pintu besar itu, menariknya pelan, dan melangkah keluar.

Udara luar langsung menyambut. Tapi baru dua langkah, dua bayangan menghadang.

"Anda mau kemana?" suara berat salah satu penjaga membuat Yuta tersentak kaget. Kedua penjaga pintu itu mendekat, wajah mereka datar namun waspada.

Yuta hampir tersedak oleh detaknya sendiri. Tapi ia cepat-cepat menguasai diri. Harus biasa saja. "A-aku hanya... mau jalan-jalan. Mengelilingi tempat ini," jawabnya, berusaha keras agar suaranya tak bergetar.

Kedua penjaga saling pandang sebentar, lalu kembali menatapnya. "Kalau begitu, biar kami temani. Bos Haechan dan Bos Jaemin berpesan untuk tidak membiarkan Anda berkeliaran sendirian."

Sial! Jalan pikirannya mendadak macet. Tapi detik berikutnya, Yuta justru melihat celah di balik buntu itu. Ikuti saja. Ini kesempatan menghapal tanpa dicurigai.

Step Brother Na YutaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang