Langkah Yuta terasa teramat berat seiring semakin dekatnya ke ujung altar sana. Suit dres yang dikenakannya, terasa begitu membebani dirinya untuk melangkah, seperti rantai yang mengikat di seluruh tubuhnya.
Tangannya masih menggenggam erat buket bunga, tapi telapak tangannya terasa membeku, lembab oleh keringat. Ditambah, semua mata tertuju padanya, membuat rasa takut dan gugup semakin menguasai dirinya.
Tiba di ujung altar, Yutaberdiri di tengah antara Haechan dan Jaemin. Musik yang mengakun lembut itu terhenti, dan suara tepuk tangan serta bisikan pun ikut senyap.
Sang pendeta, memandang mereka bertiga. Suasana hening menggantung sejenak sebelum ia membuka suaranya.
“Saudara-saudari yang terhormat, hari ini kita berkumpul untuk menyaksikan penyatuan tiga insan…”
Yuta nyaris tidak mendengar sisanya. Dunia di sekitarnya memudar, hanya suara gemuruh jantungnya yang terdengar. Dan ketika pertanyaan sakral itu dilontarkan—“Apakah kau, Nakamoto Yuta, dengan penuh kesadaran menerima Na Jaemin dan Na Haechan sebagai suamimu?”
Yuta diam.
Dapat Yuta rasakan semua mata semakin tertuju padanya, seakan menuntutnya untuk segera menjawab. Nafasnya tercekat, suaranya tak ingin keluar dari kerongkongannya, dan pada detik itu, hatinya memanggil satu nama:
Jeno.
Bayangan wajah Jeno, tiba tiba muncul dalam benaknya. Begitu nyata, seakan pria April itu benar benar berdiri di hadapannya. Wajah senyum hangat yang sampai ke matanya, menciptakan bulan sabit di kedua mata itu.
Tawa kecilnya.
Pelukan hangat yang membuatnya merasa nyaman.
Rasa rindu yang kini tiba tiba muncul menyeruak tanpa ampun dalam diri Yuta.
Melihat Yuta yang tak kunjung memberikan jawabannya, Jaemin diam diam memasukkan satu tangan ke dalam saku celananya. Di dalam saku itu, ia menekan sebuah tombol di ujung paling atas.
Dan seketika itu juga—
"Aaahhh..." desah Yuta lirih. Tubuhnya limbung, nyaris jatuh jika Haechan tak segera menangkapnya tepat waktu.
Para tamu undangan dan sang pemimpin upacara sontak terkejut melihat Yuta yang tiba-tiba melemah. Beberapa orang mulai berbisik, sementara suasana menjadi tegang dan tak menentu.
Yuta sendiri pun terperanjat. Sebuah sensasi aneh mulai bergetar di dalam tubuhnya—halus namun intens, merayap dari dalam, membuat lututnya lemas. Ia mencoba tetap berdiri, tapi kakinya tak sanggup menopang tubuhnya.
Haechan menatap kembarannya yang terlihat biasa saja, dan segera menyadari perbuatan kembarannya barusan yang membuat Yuta hampir terjatuh.
Haechan membantu Yuta berdiri, tapi getaran di tubuhnya membuat kedua kakinya lemas. "Hngghhh ..."
Sungguh, Yuta juga ingin segeracberdiri dan mengabaikan sensasi aneh di tubuhnya, tapi entah mengapa, getaran itu semakin kuat dan membuat tubuhnya semakin lemas.
"J-Jaeminhhh ..." Yuta menatap Jaemin dengan mata berkaca kaca, napasnya tercekat. Getaran itu masih terasa, membuat pikirannya kabur.
Haechan mencoba memberikan sinyal pada adik kembarnya untuk segera menghentikan aksinya. "Jaemin!" bisiknya, tajam memanggil nama kembarannya.
Jaemin menoleh, mehatap datar nan dingin ke arah Yuta. Ia mendekatkan wajahnya, menyisakan beberapa senti saja di antara mereka. Dengan suara pelan, nyaris tak terdengar oleh orang lain, ia berbisik, "Jawab atau aku akan membuatmu semakin tak berdaya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Step Brother Na Yuta
FanfictionSi kembar yang tak terima jika Yuta menjadi kakak tiri mereka.
