78

195 4 1
                                        

Yuta dan Jaehyun kini berada di ruang tengah, dengan rencana keberangkatan yang telah mereka susun. Jaehyun tampak sibuk memasukkan sebagai keperluan ke dalam tas, gerak geriknya terfesa dan penuh tekanan.

Sementara itu, yuta hanya berdiri diam, menatap pria Februari itu yang mondar mandir mengambil barang barang dan emasukkanya ke dalam tas.

Dalam hati, Yuta merasa semua ini tidak seharusnya terjadi. Ini adalah masalah pribadi, urusan keluarganya-namun justru Jaehyun yang terlihat paling sibuk dn paling terpukul.

Yuta tidak ingin Jaehyun semakin terlibat dalam permasalahannya. Apalagi mengingat tragedi lalu yang menybabkan hilangnya dua nyawa hanya karena dirinya. hal itu memperkuat keyakinannya bahwa ia harus menghadapi semuanya sendirian.

Saat Jaehyun membleakanginya, berdiri di dekat rak, sebuah ide gila tiba tiba muncul di benak Yuta. pandangannya tertuju pada kursi pantry yang berada di sampingnya.

Perlahan, Yuta meraih kedua isi kursi itu, menggenggamnya erat, lalu mengangkatnya dengan hati hati. Tanpa suara, ia melangkah mendekat, mendekati Jaehyun yag tengah mencari sesuatu di antara tumpukan barang

"Di mana aku meletakkan kunci mobil tadi?" gumam Jaehyun pada dirinya sendiri, tanpa menyadari Yuta kini berdiri tepat di belakangnya.

Tanpa ragu, Yuta mengangkat kursi itu lebih tinggi, napasnya terengh karena campuran panik dan tekad. Sekilah wajah Jaehyun yang tenang terlintas d pikirannya-seeorang yang selalu membantu, melindungi, bahkan saat tak diminta. Tapi pikiran itu segera ditepis.

"Maaf, Jaehyun ..." bisik nyaris tanpa suara.

Dengan satu hentakan kuat, Yuta mengayunkan kursi itu ke arah punggung Jaehyun. BRUKK!

Suara keras itu menggema di ruang tengah.. Tubuh Jaehyun limbung seketika, tak sempat menoleh, lalu jatuh tersungkur menbrak lantai. Kepalanya membentur sisi meja, membat tubuhnya terkulai dan tak bergerak.

Kursi kayu itu tergelincir dari tangan Yuta, jatuh ke lantai dengan dentuman lemah. Yuta berdiri terpaku, nepasnya memburu, matanya membelalak menatap tubuh Jaehyun yang tak bergerak.

"Maaf ... aku tidak punya pilihan ..." gumam Yuta peln, suaranya bergetar oleh rasa bersalah.

Yuta segera berlutut, memeriksa napas Jaehyun-masih ada, meski lemah. Setidaknya, dia hanya pingsan.

Tanpa membuang waktu, Yuta bangkit dan meraih kunci mobil yang ternyata berada di tangannya. Yuta diam diam menyembunyikan kuncinya terlebih dahulu.

Dengan langkah tergesa dan tubuh gemetar, ia berlari keluar dari apartemen, meninggalkan Jaehyun yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai.

Malam semakin pekat. Dan Yuta, kini melaju sendirian ke tempat yang bahkan ia sendiri belum tahu apa yang menatinya di sana.

Selama perjalanan, Yuta melaju dengan kecepatan tinggi, memeblah jalanan yang semakin sepi. Bahkan, ia menerobos lampu meah tanpa sedikipun menginjak rem. Hatinya telah dikuasai kecemasan, pikirannya hanya terpusat pada satu hal.

Menyelamatkan Jeno.

Sampai di lokasi. Yuta menghentikan mobilnya dengan rem mendadak di depan sebuah bangunan tua di pinggiran kota. Tempat itu nampak sepi, gelap, dan mencurigakan.

Satu satunya sumber cahaya hanyadari lampu gantung yang berkedip di dekat pintu masuk. Jantung Yuta semakin berdebar, seolah tubuhnya memberi peringatan akan bahaya yang menanti di dalam.

Tanpa membuang waktu, Yuta membuka pintu mobil dan berlari mendekati bangunan itu. Ia endorong pintu tua yang sudah berkarat, dan seketika pandangannya terpaku pada sosok di tengah ruangan tanpa sekat.

Step Brother Na YutaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang