"Pagi Sunshine." Jin memelukmu dari belakang mengecup pipimu pelan lalu berjalan melewatimu dan duduk tepat dihadapanmu.
Kegiatan membacamu terhenti sebentar kala Jin menciummu. "Hmm Morning Oppa." Ucapmu lalu fokus ke buku yang kau pegang.
"Maafkan Oppa Manis, Oppa terlambat ya." Jin mendekatkan wajahnya kearahmu.
Melirik jam dilenganmu, kamu menjawab. "30 Menit aku menunggu." Lalu fokus kembali ke bukumu.
"Oppa tidak tahu jalanan akan macet." Dia mengacak suraimu. "Sudah pesan ?"
"Hmm."
"Hey, jangan marah dong." Jin menarik dagumu paelan. Melepas semua fokusmu yang semula pada buku sekarang pada wajahnya.
"Oppa ih ganggu." Kamu melepas tangan Jin pelan, berniat tidak mengkasarinya.
"Baca apa sih." Jin menatapmu erat.
"Novel."
"Kayaknya semua pacar Bangtan lagi ketularan hobi yang sama deh." Jin menyilangkan kedua lengannya depan dada.
Kamu meliriknya meminta penjelasan.
"Baca Novel, dimulai dari pacarnya Taehyung, Suga, kemudian Jimin, sekarang pacarku gilirannya."
Kamu terkekeh mendengarnya. Sebelumnya Jin pernah menceritakan bahwa pacar-pacar Bangtan sedang terkena demam membaca novel. Namun ia tidak pernah menyangka bahwa pacarnya sendiri terkena demam itu.
"Oppa sudah sarapan ?" Tanyamu menutup buku bersampul merah mudah itu. Tentu ini menarik perhatian Jin yang memang suka warna pink.
"Sudah, judulnya apa ?" Jin menunjuk novelmu.
"Sunshine becomes You."
"Hmm ? Matahari terbit ?"
"Yupp."
"Seru ?"
Kamu mengangguk. Sebetulnya jika Jin datang lebih telat setengah jam lagi, kamu akan menyelesaikan novel ini. Ya kamu berada di penghujung cerita.
"Tell me."
"Sebaiknya kau baca sendiri Oppa." Kamu menggeleng lalu melanjutkan membaca.
"Yaakk."
"Oppa tau ih aku ga pandai bercerita."
"Garis besarnya ajaaaa. Intinya Maniss."
"Pemeran wanita jatuh cinta pada pemeran pria."
"Isshhh." Jin gemas mencubit pipimu keras.
"Sakiiitt." Tatapmu meminta pertanggung jawaban atas pipimu yang memerah.
"Salahmu."
"Tega.." Lagi kau menatapnya memelas.
"Salah siapa intinya kaya gitu."
"Kenyataan !!"
Jin memijat keningnya pelan, masalah ini tidak akan selesai. "Sini Oppa baca." Jin merebut novel ditanganmu.
"Ini kisah yang terjadi di bawah langit New York, tentang harapan yang muncul di tengah keputusasaaan, tentang impian yang bertahan di antara keraguan, dan tentang cinta yang memberikan alasan untuk bertahan hidup." Jin membaca kalimat di belakang novel yang ia pegang.
Kamu menyesap tehmu yang dingin karena dipesan setengah jam lalu.
"Awalnya, Alex Hirano lebih memilih jauh-jauh dari gadis itu -malaikat kegelapan yang membuatnya cacat. Kemudian Mia Clark tertawa, dan Alex bertanya-tanya bagaimana ia bisa berfikir gadis yang memiliki tawa secerah matahari itu adalah malaikat kegelapan." Jin terdiam sejenak. "Tokoh utama pria Alex Hirano dan wanitanya Mia Clark ?"
Kamu mengangguk.
Kemudian Jin melanjutkan, "Awalnya, mata hitam yang menatapnya dengan tajam dan dingin itu membuat Mia gemetar ketakutan dan berharap bumi dapat menelannya detik itu juga, kemudian Alex Hirano tersenyum, dan jantung Mia yang malang melonjak dan berdebar begitu keras sampai-sampai Mia takut Alex bisa mendengarnya." Jin membalik novelnya menuju cover, "Jadi, Alex jatuh cinta sama Mia ?"
"Yupp."
"Selesai ?"
"Yuhu."
"Sayang kau tidak berbakat menceritakan kembali." Jin menghela nafasnya lelah.
"Oppa kan sudah aku bilaang." Rengekmu meminta pengertiannya.
"Tempatnya terjadi di New York." Ucapan Jin membuat kamu mengangguk mengiyakan. Ya, latar tempat yang diambil adalah di negeri Paman Sam.
"Harapan yang muncul di tengah keputusasaaan ?"
"Jadi, Mia ga sengaja mematahkan tangan Alex dan oh Oppa, Alex seorang pianis." Kamu menjawab pertanyaannya.
"Patah ?"
"Iya, Mia ga sengaja jatuh dari tangga tepat dibawahnya ada Alex dan yaa tangan Alex patah tertimpa Mia." Sekali lagi kamu menjawab pertanyaannya.
"Hubungannya sama harapan ?"
"Alex waktu itu punya Tur dunia Oppa, bertunjukan pianisnya terpaksa di batalkan karena tangan Alex yang patah, yaaa walaupun kata dokter itu bukan patah tulang permanen."
Jin mendengarmu berbicara.
"Tapi tentu saja, Alex masih berharap bisa melangsungkan pertunjukannya itu, jadi dia terus berlatih dengan satu tangannya yang tidak dibebat. Masih ada harapan bukan untuk sembuh walaupun dia benar-benar putus asa akibat patah tulang yang disebabkan malaikat kegelapannya."
Jin mengangguk. "Lalu impian yang bertahan ditengah keraguan ?"
"Mia itu seorang penari berbakat, dia pernah mempunyai mimpi berada diatas panggung menari sebagai tokoh utama, namun sayang, Mia punya penyakit jantung sehingga dia harus membuang semua mimpinya.
"Alex yang tahu akan hal itu membantu Mia mencapai mimpinya. Tentu saja tidak sendiri, Mia punya beberapa rekan yang dapat membantunya berdiri diatas panggung seperti mimpinya dulu, walaupun dia ragu, kondisinya sudah terlalu lemah terakhir kali dia cek ke dokter. Apakah mungkin mimpinya akan terwujud dengan penyakit yang ia derita ?"
Jin kembali mengangguk lalu membaca kalimat terakhir. "Cinta yang memberikan alasan untuk bertahan hidup ?"
"Mia tau dia akan meninggal cepat atau lambat."
"Lalu dia bertahan lebih lama untuk cintanya Alex ?" Jin kembali bertanya.
"Ya, keajaiban itu datang, ada pendonor yang memberikan jantungnya untuk Mia, Mia selamat, namun alam berkehendak lain." Kamu kembali menyesap tehmu, mengambil novel di tangan Jin. "Mia tetap meninggalkan Alex bagaimanapun juga."
Jin mengangguk, membiarkan bias mentari masuk menerangi kedai yang menaungi kalian berdua.
"Sunshine, Mia itu seperti matahari terbit bagi Alex, tawanya, sikapnya, semua yang ada didiri Mia bagaikan sebuah matahari pagi yang menyinari membuat hangat sekitarnya." Kamu kembali bercerita walaupun kali ini Jin tidak bertanya. "Sunshine becomes You itu judul lagu yang Alex ciptakan ketika membayangkan Mia menari di padang rumput hijau di bawah langit biru yang luas, rumput-rumput yang bergoyang ditiup angin, dan musim semi."
Jin kembali mengangguk tersenyum menatapmu. "Kamu juga seperti Sunshine bagiku Y/n-ah."
Kamu hendak protes disamakan oleh Mia, maka kamu mempunyai penyakit jantung.
"Tidak, bukan seperti Mia." Merasa Jin bisa membaca pikiranmu kamu terdiam. "Kamu secerah mentari, sehangat sinarnya ketika pagi menyapa."
Semburat merah menjalar dipipimu.
"Seperti itulah kamu, matahari pagiku."
=END=
KAMU SEDANG MEMBACA
BTS IMAGINE
RomanceKumpulan IMAGINE BTS x you Karya all admin BTS_WORLD . . . . Baca aja jamin gak nyesel deh p.s Mimin naronya asal, tapi nanti di akhir suka ada perapihan, jadi kalau mau tau sudah baca apa belom, tandain dengan vote atau comment yaa, sebagai penghil...
