●●●
Hal yang paling dibenci kaum hawa adalah ketika mereka sedang asyik-asyiknya browsing bahkan sudah tergiur beli ini itu di online shop dan tiba-tiba ada panggilan masuk yang mengganggu.
Wanita itu tidak suka kesenangannya diganggu!
"Bee! Bukain pintu apartemen dong. Aku bentar lagi sampe."
"Masih lama kan? Nanti kubukain."
"Sekarang aja bukanya. Nanti biar aku langsung masuk."
"Astaga, nanti kalo ada maling gimana!?"
"Kamu kira apartemen kita semurah itu sampe ada maling masuk?"
"Ish iya deh iya. Lagian buka sendiri juga bisa kan. Manjanya kambuh."
"Aku bawa barang banyak banget. Aku ga mau kamu bantuin ngangkat dari parkiran. Jadi mending bukain pintu aja."
Daripada makin panjang, ya sudahlah iyakan saja.
Aku segera memutuskan sambungan lalu bergerak dari atas kasur menuju pintu depan. Oh iya, omong-omong aku belum beli bahan masakan untuk besok. Aish, ini pasti karena keasyikan lihat online shop.
"Annyeong noona! Lama gak ketemu ya!"
"Hello, nyonya Park!"
"Hi! Jieun, apa kabar?"
Aku baru saja membuka pintu dan suara manusia-manusia itu sudah bergema lantang di sepanjang koridor apartemen. Aku sebenarnya sedikit terkejut, kenapa mereka ke sini?
"Ahaha, lama tak berjumpa ya. Seketika langsung rame banget ya rasanya. Ahahaha." Aku sedikit kikuk menyapa mereka, pasalnya aku juga masih kaget dengan kedatangan mereka.
Apa jangan-jangan yang dimaksud Jimin 'bawa barang banyak' itu ya manusia-manusia berisik di depanku?
Jangan anggap aku tidak suka mereka. Aku suka mereka, aku tidak benci mereka. Hanya saja aku berusaha jujur kalau mereka itu berisik dan argh, pokoknya annoying.
Beruntung mereka itu sudah jadi bagian Jimin yang artinya juga bagian dari keluargaku.
"Ayo silahkan masuk, maaf aku belum beres-beres hehe. Silahkan duduk dulu, biar aku siapkan minum."
"Memang apa yang kalian lakukan sampai bisa dikatakan berantakan?" Pertanyaan dari Yoongi oppa membuatku tambah kikuk. Dia itu bicara apa sih? Yang namanya tempat tinggal kan tidak selalu rapi. Wajar dong?
"Noona, aku pinjam toilet ya. Di mana toiletnya?" Si member termuda bertanya padaku sambil memegangi bagian di tengah pahanya. U know what I mean. Segera aku menunjuk pintu putih di sebelah dapur.
"Em, Tae, di mana Jimin?" Tanyaku penasaran lantaran manusia itu tak kunjung menampakkan batang hitungnya.
"Tadi masih di bawah, mengurusi bayaran mungkin?"
Tak lama kemudian yang dibicarakan datang. Kedua tangannya penuh dengan bawaan. Lantas segera kubantu ia membawanya ke dapur.
Karena hanya kami berdua yang ada di dapur, aku memberanikan diri bertanya. "Kenapa kamu ga bilang kalo bakal ada tamu? Tau gitu aku bisa belanja cemilan, bisa masak buat kalian makan malam."
"Ini juga dadakan, sayang. Makanya aku belanja banyak barusan soalnya aku juga tau kamu pasti masih capek."
"Ya, tapi seengaknya bilang ke aku dong kalo mereka mau main. Untung aja lagi ga pake yang kurang bahan. Kalo misalkan aku cuma pake baju kurang bahan terus nyambut mereka, gimana huh?"
"Itu aset negara. Rahasia yang bukan konsumsi publik. Tapi sekarang kamu untungnya ga pake, kan. Ya syukurlah."
"Emang ada acara apaan sih, dadakan banget."
"Ya kan mereka belom pernah ke rumah kita sama sekali. Sedangkan aku udah ke tempat mereka. Kamu ga marah, kan Bee?"
Haaaah, mau marahpun juga tidak bisa. Tidak marah juga tidak bisa. Aish, Park Jimin coba saja dirimu pulang tanpa kantung kresek besar-besar ini, pasti sudah kuhabisi.
"Maaf ya menunggu lama. Ini silahkan diminum dulu. Semoga rasanya tidak mengecewakan, hehe"
Aku meletakkan nampan dengan beberapa gelas di atasnya, menyuguhkan kepada tamu-tamu kehormatan yang sangat ribut sejak tadi.
"Apartemen kalian rapi ya. Aku suka interiornya." Ujar Hoseok oppa.
"Kalian ga ada niatan beli rumah sendiri?" Tanya Namjoon oppa.
Aku bertukar pandang dengan Jimin. Bingung ingin menjawab apa. Sebenarnya ingin sih, tapi Jimin yang susah. "Gimana Jim? Istrimu sepertinya ngebet beli rumah tuh."
Jimin hanya cengar-cengir menjawabnya, "Nanti aja kalo udah punya anak, hehehe. Kasian kalo misal kutinggal konser tapi ga ada temen gosip."
"Lha terus kapan punya anak hyung?"
Seketika skakmat mendera Jimin.
"Ya besok kapan-kapan. Menikmati waktu intim berdua lebih penting sekarang. Nanti kalo udah hamil malah repot kekurangan asupan."
Aish, kurasa ini sudah merujuk ke obrolan para lelaki mesum. Mereka itu kalau sudah kumpul segala macam obrolan mulai dari yang receh sampai yang vulgar mancanegara akan dibahas.
"Makanya sekali bikin langsung dua kayak aku, hyung! Tersiksa lahir batin pake banget ya cuma 9 bulan itu." Bangga si maknae yang berhasil cetak dua gol sekali tendang.
"Mau punya berapa anak rencananya?"
"Aku--"
"Dua!"
Baru saja aku mau menyuarakan, tapi Jimin menyambar cepat.
"Bagi tips sekali tanam berbuah dua biji dong, Kook! Abis ini mau coba langsung."
"Bisa diatur itu, hyung. Jangan lupa transfer ya bayaran dulu. Mahal nih tips berkebun ala Jeon Jungkook."
Aku ingin rasanya menenggelamkan Jungkook apa tidak Jimin apa tidak keduanya. Rasanya telingaku yang suci ini sudah penuh dengan noda dosa karena obrolan dewasa mereka.
"Noona, nanti siap-siap sakit ya. Biasanya agak sempoyongan sama lupa cara jalan gitu efeknya."
"HIYAAAAAAAKKKKK STOPPPP!!!"
===== the end =====
KAMU SEDANG MEMBACA
BTS IMAGINE
RomanceKumpulan IMAGINE BTS x you Karya all admin BTS_WORLD . . . . Baca aja jamin gak nyesel deh p.s Mimin naronya asal, tapi nanti di akhir suka ada perapihan, jadi kalau mau tau sudah baca apa belom, tandain dengan vote atau comment yaa, sebagai penghil...
