Jujur saja rasanya mustahil bagiku. Ini bagaikan mimpi indah yang tak kunjung menemui akhir. Semuanya terasa bagaikan impian yang sepertinya diinginkan setiap gadis. Terlebih lagi gadis biasa sepertiku.
"Bee (baca: bi), kamu dari tadi ngelamun ya?"
"Ah!" Aku terkejut tatkala Jimin melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. Ah sepertinya aku terlalu asyik berfikir sampai-sampai mengabaikan Jimin.
Aku baru saja hendak menanggapi Jimin, namun sepertinya aku kalah cepat karena telapak tangannya sudah menyapu permukaan wajahku dengan lembutnya.
"Kamu akhir-akhir ini suka banget ngelamun, Bee. Ada apa sih? Cerita coba sama aku."
"Oh iyakah? Ah--itu cuma perasaan kamu aja kok."
"Kalo kamu ada masalah, seengaknya biarin aku juga ikut dalam masalah itu ya. Aku gak mau kamu berat sendirian."
"Enggak. Aku baik-baik aja kok. Park Jimin ga usah alay ya kamu. Ckckck."
Aku menunjukkan senyum terlebar yang aku bisa padanya. Aku harus terus tersenyum di depannya. Setidaknya jangan sampai ia merasa terbebani karena sikapku yang memang belakangan ini seringkali melamun.
"Bee.. kamu tuh ya! Ahli banget buat aku khawatir."
"Ya siapa suruh kamu terlalu baik sama aku."
"Kalo aku jahat sama kamu, terus siapa yang bakalan kamu sumpah serapah? Apa orang jahat bakalan rela digituin?" Aku tertegun.
Benar. Apa yang dikatakan Jimin baru saja adalah kebenaran. Aku selalu mengumpat kotor kepadanya. Kenapa? Alasannya karena ia sendiri yang menginginkan itu. Jimin selalu berkata, "Gadis manis kayak kamu gak boleh mengumpat selain ke aku. Paham? Jangan sampe orang lain tau jeleknya kamu. Cukup aku yang tau. Oke, Bee?"
Lagi-lagi aku selalu merasakan beban yang berat ketika mengingat hubungan diantara kami. Jimin, seorang superstar yang digilai banyak kaum hawa diluar sana bersanding denganku yang hanyalah gadis biasa. Aku bukan seorang selebriti sepertinya. Aku hanya anak rumahan biasa yang tak sengaja bertemu keberuntungan melimpah.
"Bee? Tuh kan, kamu udah lebih dari tiga kali diemin aku lho."
"A--aku minta maaf. Aku lagi gak bisa fokus. Maafin aku."
"Kamu kecapekan ya? Aku anterin pulang sekarang, mau? Oh atau kita beli obat dulu?"
"Gak usah. Aku gapapa kok. Cuma lagi banyak fikiran aja. Hehehe."
Aku jadi merasa tak enak dengan Jimin kalau begini terus. Aku tahu pasti butuh perjuangan yang keras baginya demi meluangkan waktunya untuk bertemu denganku. Dan sekarang ketika kami sudah bertemu, aku malah dengan bodohnya melamun mengabaikannya. Aish! Bodoh!
"Bee, kamu bosen gak pacaran sama aku?"
Heol! Bisa-bisanya dia berfikiran seperti itu! Ya tentu tidaklah!
"Hm, kok kamu tanya itu?"
Dari matanya, aku melihat ada keraguan. Apakah ia sudah lelah? Apa ia berniat memutuskanku? Ia akan menyudahi semua ini sekarang? Oh tidak! Kumohon...
"Aku mau ngomong sesuatu soal itu."
"O--oh ka--kamu mau ngomongin apa? Ngomong aja gapapa."
Sialan! Kenapa aku jadi gugup begini?! Semoga ini bukan yang tidak aku inginkan. Kumohon...
"Bee, aku mau minta maaf sebelumnya--" Jimin menggantung ucapannya. Menambah keteganganku dibalik meja yang menutupi gemetar tanganku.
"Aku siap dengerin apapun itu kok." Aku menyadarkan Jimin kalau aku terus mendengarkannya melanjutkan perkataannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BTS IMAGINE
RomantikKumpulan IMAGINE BTS x you Karya all admin BTS_WORLD . . . . Baca aja jamin gak nyesel deh p.s Mimin naronya asal, tapi nanti di akhir suka ada perapihan, jadi kalau mau tau sudah baca apa belom, tandain dengan vote atau comment yaa, sebagai penghil...
