Akhirnya update, setelah daku bertarung hebat dengan kemalasan yang rajin sangadh berkunjung. Gak kyk doi yang gak pernah berkunjung. g
***
Ada yang harus kau pastikan dalam hubungan. Kau dicintai karna sayang, kasihan, atau karna kebutuhan permainan.
***
"FARISSS!!!" seru Ilya.
Faris mendongak, menatap Ilya dengan tatapan bertanya.
"Kita telatt... Ini gimana dongg?" Ilya bertanya dengan gestur tubuhnya yang jelas menunjukkan bahwa gadis itu sedang gelisah.
"Ya gak gimana gimana." balas Faris santai.
"Ih kok gak gimana gimana sih?!" ujar Ilya sedikit kesal dengan Fris yang terlihat seperti tak ada beban. Padahal mereka sudah terlambat 20 menit.
"Ya terus lo mau nya gimana?"
"Ya mau masuk kelas lah" ujar Ilya. "Tapi gue takut." cicit Ilya.
"Yaudah gak usah masuk, mending ngantin." ujar Faris berjalan mendahului Ilya yang kini tingkat ke kesalannya sudah meningkat tinggi.
"Gue tuh mau ke kelas Faris! Bukan mau ke kantin! Ish." kesal Ilya.
Faris membalik badannya. "Terus kalau udah dikelas mau ngapain? Mau belajar?"
"Ya iyalah. Emang elo, ke sekolah cuma menuhin absen doang." sindir Ilya.
"Mau belajar juga gak bisa. Gurunya gak ada, pada ikut rapat sama bokap gue." ujar Faris.
Baru saja Ilya ingin membuka mulutnya, namun di dahului oleh suara Faris yang kembali terdengar.
"Apa? Mau bilang gue bohong? Mau bilang gue ngerjain lo? Mau bilang lo gak percaya sama gue?" ujar Faris mendahului Ilya.
"Ya emang gue gak percaya sama lo. Lo kan tukang bohong, gak bisa dieprcaya." balas Ilya tak mau kalah.
Faris mengambil tangan Ilya, lalu menariknya lembut. Mengikuti langkah panjangnya. "Kalau kantin rame, berarti gak ada guru. Tapi kalau kantinnya sepi berarti ada guru. Kita liat siapa yang menang. Dan kalau gue yang menang lo-" ujar Faris dengan tangannya menggenggam tangan mungil Ilya.
"Apa? Gue harus ngikutin semua apa kata lo? Lo bilang ini, itu, gue harus ikutin semuanya?" Ilya melepaskan tangnnya. "Lo tuh ya, dikit dikit taruhan, dikit dikit taruhan. Gak ada yang lain apa?"
"Jangan jangan gue juga bahan taruhan?" sungguh demi apapun, kalimat ini meluncur indah dari mulut Ilya.
Faris nampak terkejut dengan respon yang Ilya berikan. Tadinya ia hanaya berniat untuk bercanda, tapi Ilya menganggapnya serius.
"Eh? Kok bawa bawa elo sih?" ujar Faris dengan sedikit kerutan di keningnya.
"Ya siapa tau kan?" Ilya berujar dengan sedikit sinis. Sebenarnya, ia tak ingin membahas ini, tapi mulutnya tak ingin di ajak kerja sama. Dan respon Faris yang terlihat mencurigakan membuat otak Ilya bekerja lebih cepat menghasilkan beberapa prasangka.
"Kita ngomongnya disana aja ya." Faris menunjuk sebuah kursi yang berada di pojok kantin. "Gak malu diliatin banyak orang? Yuk." ujar Faris berjalan di depan dengan Ilya yang mengekor di belakangnya.
Ya, memang mereka sudah berada di kantin sekarang. Jarak dari kantin dan taman belakang memang bisa dikatakan sangat dekat.
Ilya duduk dikursi di depan Faris. Lelaki itu kini terlihat bingung. Dan terlihat sedikit gelisah.
KAMU SEDANG MEMBACA
ILYA
Fiksi Remaja"I Love You Always. ILYA." Ilya Kinansya Putri. Seorang gadis cantik yang ceria, dan keras kepala. Selalu mendapat rangking 3 besar paralel. Ilya punya 2 sahabat yang selalu bersamanya. Dunia Ilya hanya tentang dirinya, keluarga, dan sahabat. Hidup...
