"Kamu bilang apa lagi sama mama kamu?"
Phoebe baru menutup pintu mobil Barta setelah masuk, mereka janjian tidak jauh dari sekolah. Barta tidak mau ada yang mengetahui hubungan mereka yang sudah berjalan hampir satu bulan. Seperti main kucing-kucingan, keduanya bertemu di luar dan melanjutkan mainan baru yang mereka temukan.
"Bee mau belajar sama Barta."
Cewek itu bodoh. Mau aja apa yang disuruh oleh Barta. Hatinya tertutupi dari kebejatan Barta yang hanya memanfaatkannya. Cowok itu sama sekali tidak merasakan perasaan apapun terhadapnya.
Berbeda dengan Phoebe yang semakin mencintainya. Setiap Barta mengajaknya bertemu langsung kegirangan, melompat-lompat dan menahan teriakannya. Langsung mengiyakan dan mereka pun bertemu.
Selalu berakhir panas. Barta seolah tidak pernah puas dengannya. Dari awalnya hanya tiga kali seminggu, tapi akhir-akhir ini semakin menggila. Hampir setiap hari Barta mengajaknya bertemu.
Cowok itu licik. Membuat Phoebe senang di sampingnya, menuruti kemauannya dan tentu saja Phoebe semakin terlena kemudian menyerahkan dirinya tanpa berpikir dua kali.
"Bar, ini udah malam. Bee takut dimarahin mama." Cewek itu menatap Barta harap. Kedua matanya berkaca-kaca hampir mengeluarkan air mata.
Mereka ketiduran karena kelelahan. Barta kecolongan kali ini, tidak biasanya mengantar cewek itu pulang larut malam.
"Coba cek dulu, mama kamu shift malam atau nggak?" Barta mencoba untuk tenang.
Phoebe mengerucutkan bibir. "Mama sekarang nggak nentu jadwal piketnya. Kadang tiba-tiba malam gantiin temannya. Tapi seminggu yang lalu udah gantiin teman mama. Harusnya hari ini mama pulang."
Sialan. Barta bersusah payah menelan air salivanya. "Aku anter kamu pulang. Jangan takut."
"Kalau mama curiga dan nanya macam-macam gimana?" Phoebe menahan lengan Barta sehingga cowok itu berhenti hendak beranjak dari ranjang. Phoebe menatapnya polos, air matanya akhirnya meluruh.
"Kamu tenang aja!" Barta kembali menenangkan. "Sekarang kamu mandi. Jangan lama." Phoebe mengangguk dan segera beranjak ke kamar mandi. Barta pergi ke balkon setelah mengenakan celana boxernya.
Dia mulai menyalakan ujung rokoknya. Menghisap dalam lalu mengeluarkan asapnya. Dia menatap kota metropolitan yang tidak pernah tidur. Semua masih sibuk dengan urusan masing-masing. Badan jalan masih penuh dengan kendaraan.
"Bar..."
Barta mematikan rokoknya. Phoebe tidak bisa menghirup asap rokok, langsung batuk-batuk sehingga cowok itu tidak pernah lagi merokok di depannya.
"Udah?" Phoebe mengangguk, selembar handuk putih membalut tubuhnya yang belum kering. Cowok itu hendak menciumnya, tapi Phoebe tidak suka dicium jika mulutnya bau nikotin.
Mereka gantian mandi. Jantung Phoebe berdetak lebih cepat kali ini. Meremas kedua tangannya, harap-harap cemas dengan keberadaan mamanya.
Barta keluar dari kamar mandi sepuluh menit kemudian. Phoebe langsung bersiap-siap mengumpulkan tas dan mengenakan sepatu sekolahnya lagi.
Phoebe menutup wajahnya ketika keluar dari hotel, tidak berani menatap orang-orang yang mereka lewati karena sudah jelas mereka melanggar aturan. Mereka bahkan belum mengganti seragam sekolahnya.
Dia baru bisa menghela nafas lega setelah di mobil. Barta cuma cuek aja, mengangkat bahu dan mereka mulai membelah angin malam.
Sepanjang jalan Phoebe tidak tenang duduk di tempatnya. Beberapa kali meringis dan menoleh ke samping. Menatap jajaran bangunan di pinggir jalan. Barta menangkap kegelisahannya, tapi tetap saja dia diam.
"Udah nyampe." Barta mengagetkan Phoebe. Cewek itu menggigit bibir bawahnya sembari meremas kedua tangannya. "Rumah kamu mati lampu. Mama kamu kemungkinan belum pulang." Ucapnya.
Phoebe menoleh, benar saja. Lampu rumahnya mati semua. Dia mengerutkan dahi, tidak biasanya lampu rumahnya mati semua.
Lalu beberapa saat kemudian Phoebe tersadar. "Oh..., Bee baru ingat. Mama pergi bantuin warga yang kena bencana alam. Kata mama tadi pagi korban kebanjiran." Barta menatap Phoebe tidak percaya. "Tapi Bee lupa kemana."
"Ck!" Barta berdecak kesal. Dari tadi jantungnya juga berdetak tak karuan, sepanjang jalan menyusun alasan mengantar anak gadis orang larut malam.
"Maaf ya, Bar, Bee suka lupa kalau panik gini." Phoebe memohon melalui tatapannya. "Mama pergi selama beberapa hari dan katanya di sana nggak ada sinyal."
"Kamu!" Barta mengepalkan tangan.
"Bar, nginap di rumah Bee aja. Temenin Bee." Pinta Phoebe harap.
"Kamu takut?"
Phoebe mengangguk ragu. "Bee sering ditinggal mama. Mulai sekarang Barta temenin Bee ya kalau mama pergi tugas lagi."
Barta menghela nafas panjang. "Kamu masuk, aku pulang."
"Bar..." Phoebe mengerucutkan bibirnya. "Nggak akan ketahuan kok. Nggak ada pembantu di rumah, nggak ada orang."
"Iya."
"Barta mau nginap?"
Barta mengangguk. Phoebe berteriak senang, memutar tubuhnya dan memeluk Barta senang sembari mengecup bibirnya sekilas. Barta tersenyum tipis, lalu melajukan mobilnya ke carport.
***
Jakarta, 17.09.18
Barta cie... makin menjadi-jadi sama Bee.
Bedewe, Phoebe dibaca Pibi ya.
Ada nama kecilnya yang lebih singkat, yaitu Bee.
Follow ig. ila_dira dan Novel.dira
KAMU SEDANG MEMBACA
His Girlfriend [TERBIT]
Fiksi RemajaSUPAYA NGGAK BINGUNG, BACA SESUAI URUTAN! 1. CRAZY POSSESSIVE (TERBIT) - SELF PUBLISH, PESAN DI GUA AJA - 2. EX (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA - 3. HIS GIRLFRIEND (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA - 4. QUEEN (PROSES TERBIT) ADA JUGA SPIN OF YANG BERHUBUNGAN DE...
![His Girlfriend [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/148670398-64-k272907.jpg)