Bab 59. Sensi

65.4K 6.7K 279
                                        

Sebelum baca, vote dulu.

Setelah baca, comment kemudian, gaes.



***


            "Bar, ajarin Bee mainnya lebih cepet lagi."

Phoebe merengek bagai anak kecil, dia mengerucutkan bibir dan menyandar pada suaminya sehingga tak jarang pengunjung menoleh dua kali pada mereka. Mereka terlalu memamerkan kemesraan di depan umum, hal yang masih gamang di khalayak masyarakat.

Tetapi Phoebe tidak menyadarinya, dia memang selalu seperti itu pada Barta. Menempel dan merengek manja. Bahkan di rumah, di depan Arin juga seperti itu. Arin bahkan heran melihatnya, Phoebe tidak separah itu sebelumnya.

Bintang yang selama ini menjadi teman dekatnya tidak pernah mau semanja pada Barta. Phoebe memang kekanak-kanakan, tetapi dia tidak sampai menempel sana sini seperti koala.

"Segini aja. Nanti kamu jatuh." Barta menggeleng tidak mau menuruti kemauan istrinya. Setelah beberapa hari tidak sekolah lagi, beberapa kali keduanya keluar rumah kala sore hari untuk mengurangi rasa bosan di rumah.

Barta belum disibukkan dengan persiapan kuliah, tetapi teman-temannya sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Seperti halnya dengan Kevin yang sampai saat ini belum kembali dari Solo bersama Citra.

Romeo masih ada, tetapi dia juga sibuk sendiri. Masalahnya dengan teman lamanya belum sepenuhnya selesai. Banyaknya masalah yang menghampiri Romeo sejak beberapa bulan yang lalu menjadikannya tidak seperti dulu.

Lain lagi dengan Stef yang mulai sibuk mengurus pernikahannya dengan Nina. Memang Stef selalu ingin menikahi Nina, selalu menagih janji pada calon mertuanya.

Kadang Barta ingin Stef menggantikan posisinya, menikah cepat. Namun takdirnya berbeda, Barta yang ingin bebas malah sudah menikah lebih duluan karena kebobolan dengan cewek yang baru akrab dengannya.

"Pelan-pelan aja." Barta menginterupsi Phoebe. Baru sekali main ice skating sekitar tiga minggu lalu, hari ini Phoebe ingin main lagi.

Phoebe bandel ingin berlari-larian seperti anak kecil, tetapi Barta selalu mengawasi dan melotot kalau Phoebe mulai kumat.

"Bar, Bee pengin kelilingin lapangannya. Sampe ke sana." Tunjuk Phoebe pada lapangan ice skating.

"Jauh, nanti kamu kecapean." Larang Barta menolak.

"Nggak. Bee nggak akan kecapean." Phoebe menggeleng yakin, bersikukuh ingin main ice skating mengelilingi pinggiran area tersebut.

"Kamu bandel ya, Bee. Susah dibilangin." Kata Barta berdecak.

"Bar, Bee, pengin." Phoebe menggoyang-goyang lengan suaminya sambil mengerjap banyak.

"Nanti malam kalau nggak bisa tidur, jangan ganggu aku. Kamu tidurnya di luar." Ancam Barta.

"Iya." Jawab Phoebe semangat.

"Hem." Barta mengalah, menggenggam tangan Phoebe dan mereka mengelilingi dari bagian pinggir area. Phoebe berteriak gembira, beberapa kali memeluk Barta dari belakang.

"Bar, Bee suka banget." Seru Phoebe tersenyum lebar.

"Hem." Barta berdehem, meraih tubuh Phoebe yang sudah ada di depannya, dia mendekap dari belakang, sehingga laju mereka sama. Phoebe memegang kedua tangan Barta yang ada di perutnya.

"Bar, nanti kita sering-sering ke sini ya." Katanya.

"Kalau kamu bandel, nggak mau." Jawab Barta ringan.

Phoebe langsung menggeleng cepat. "Bee nggak pernah bandel." Elaknya. "Bee selalu nurut sama kamu."

Barta mencibir, "Nurut apanya? Kamu bandel, Bee. Bandel banget." Jawab Barta geram.

Phoebe mengerucutkan bibirnya, mood-nya langsung berubah. Dia melepaskan tangan Barta yang sedang menggenggamnya. "Bee nggak mau lagi. Bee mau pulang sekarang."

Barta mencibir, "Tuh, kamu ngambekan sekarang. Makin parah."

"Nggak" Phoebe makin bandel. "Bee nggak begitu. Kamu aja yang sensi." Kedua mata Phoebe memerah menahan tangis.

Barta meringis dan mendekat, dia kembali menggenggam tangan phoebe dan membawanya main lagi. Phoebe masih cemberut, dia tidak suka main lagi sekarang. "Nanti mau makan apa?" Tanya Barta kemudian.

"Bee nggak lapar." Phoebe semakin hari semakin berani dan permintaannya banyak. Paling sensi kalau Barta sudah mengungkit semua keburukannya, Phoebe yang sekarang bukan lagi yang seperti dulu.

Sekarang lebih keras kepala dan keinginannya harus dipenuhi.

"Yaudah," Barta balas cuek. "Nanti nggak jadi dong ya ke rumah mama kamu?" Pancingnya menyeringai.

Phoebe langsung menoleh dan cemberut, "Jadi." Jawabnya. "Kalau kamu nggak mau, Bee bisa pergi sendiri."

Tuh, baru saja dikatakan Phoebe itu keras kepala, sekarang cewek itu menunjukkan di tempat umum.

"Iya, iya. Nanti jadi ke rumah mama kamu."

"Habis dari sini langsung ke rumah mama." Potong Phoebe cepat.

"Hem."

"Sekarang Bee lapar." Tambahnya lagi.

Barta mencibir, makin teraniaya karena istrinya. "Makan apa?"

"Makan sop kambing."

Barta terkejut bukan main, "Sejak kapan kamu suka? Katanya bau."

"Sejak sekarang!"

Barta mendengkus, akhirnya menuruti keinginan istrinya. Mereka sudah kembali di tempat semula. Barta membuka sepatunya, lalu beralih membatu membuka sepatu Phoebe yang duduk tenang di kursi.



***


Jakarta, 30.12.18


Gak lama ternyata, bisa cepet up gegara stress hahaha.


Gada bonus foro ya, udah ngantuk cuy.


Jangan lupa follow, gengs. 

Aktivitas cowok-cowok najong dan cewek-cewek imut ada di ig ya.

Jangan lewatkan berita dari mereka.


Kevin => Axeankevin

Citra => AleandraCitra

Barta=> Bartaaratha

Phoebe => Phoebe_Sasikirana

Romeo => Reynaldi_romeo

Queensha => Queenshaqyra

Stef => Stefanquand

Nina => Aurellianina48

Dira => ila_dira

His Girlfriend [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang