"Bee, kamu kenapa?"
Azalea mengernyit melihat Phoebe yang sedang mengerucutkan bibirnya. "Bee mau pulang." Katanya pelan.
"Pulang?" Azalea mengernyit. "Kamu pucat lho, Bee. Kamu kurang istirahat atau kecapean?" Cewek itu memperhatikan Phoebe yang memang berubah selama hampir satu minggu ini. Lebih cepat pulang dari biasanya dan tidak semangat lagi. "Kamu lagi hamil, Bee. Jangan stress. Jangan banyak gerak, nggak boleh kecapean."
Wajahnya pucat seperti tidak terurus. Phoebe mengerucutkan kembali bibirnya lalu memeluk Azalea tiba-tiba. Azalea tidak siap sehingga tubuhnya hampir terjungkal ke belakang. "Bee cuma kecapean mungkin." Katanya bohong.
"Bee lagi ada masalah sama Barta ya? Barta jahatin Bee?" Azalea dengan sabar mengelus-elus punggung Phoebe. "Atau Barta nggak mau nerima dede bayinya?" Phoebe menggeleng pelan.
"Bee kangen sama mama." Phoebe meneteskan air matanya semakin deras.
"Mama Bee kapan pulangnya?" Tanyanya lembut.
"Nggak tau." Jawab Phoebe sesegukan.
Azalea tersenyum tipis, "Bee, Lea panggil Barta mau?" Phoebe menggeleng enggan. "Jadi maunya apa sekarang?" Cewek itu tetap menggeleng. "Kita ke dokter aja yuk. Bee kan pernah cerita kalau dokter Bintang temennya Bee dari kecil. Kali aja kangennya Bee berkurang kalau udah ke rumah sakit."
"Bee takut kalau kak Bintang tau Bee sedih. Nanti ditanya ini itu. Bee takut nggak bisa bohong." Katanya lagi.
"Emang Bee bohong apa? Kan Bee cuma kangen sama mama Bee."
Phoebe menggeleng. Mereka kembali duduk di kafe langganan tidak jauh dari sekolah. "Sebenarnya Bee udah nikah sama Barta." Akunya pelan.
"Hah? Kapan?" Azalea melebarkan mata tidak percaya.
"Suara Lea jangan kenceng-kenceng." Phoebe memperingati. "Nanti ada yang denger, kita masih pake seragam sekolah."
"Iya, iya. Maaf, Bee." Azalea merasa bersalah. "Habisnya Bee nggak pernah cerita sih. Hamil aja baru tau kemarin kan."
Phoebe mengerucutkan bibirnya. "Barta nggak mau ada yang tahu. Barta marah kalau sampe anak-anak tahu." Ceritanya. "Lea jangan nyebarin sama anak-anak lain ya. Bee nggak mau kalau Barta marah."
"Iya, Bee. Kita kan teman. Nggak mungkin Lea nyebarin. Lea juga sama seperti Bee. Bedanya Lea belum nikah. Kak Zafran nikahin Bee kalau udah lulus sekolah."
"Sabar ya, Lea."
Azalea menggeleng. "Lea yang nggak mau nikah. Lea yang minta nikahnya kalau udah selesai sekolah." Phoebe mengangguk paham. "Eh, tapi ngomong-ngomong, nikahnya Bee dan Barta kapan? Kita kan sekolah."
"Waktu itu hari minggu, pas sekolah libur."
"Oh..., jadi sekarang Bee tinggal di rumah Barta?"
"Iya." Phoebe mengangguk membenarkan.
"Terus apa hubungannya sama kak Bintang?"
Phoebe kembali sedih. "Kak Bintang nggak suka Bee nikah cepet. Kak Bintang udah beda sekarang, nggak mau nelpon Bee lagi. Nggak pernah ngajak makan. Cuek begitu." Azalea mengangguk paham. "Kak Bintang nyuruh Bee belajar dan lulus dengan baik. Jangan pacaran dulu, tapi tau-taunya udah nikah dan hamil dulu."
Cewek di depan Phoebe berdehem sembari tersenyum misterius. "Mungkin kak Bintang suka sama Bee. Makanya kak Bintang kecewa jadi ngambil jarak dari Bee."
"Masa sih?" Phoebe mengernyit tidak percaya.
"Iya." Azalea mengangguk membenarkan. "Sama seperti Barta. Kata kak Zafran, Barta sepertinya suka sama Lea." Phoebe langsung mayun. Tidak suka mendengar hal tersebut. "Tapi Lea nggak merasa, soalnya Barta emang baik kan? Terus Barta juga nggak pernah bilang suka sama Lea. Jadi kak Bintang sama seperti Barta, mendem perasaan."
"Emang bisa begitu?" Phoebe malah makin oon.
Azalea gemas. "Sama seperti Bee yang suka sama Barta. Tapi nggak pernah nembak kan?"
Wajah Phoebe memerah. "Tapi Bee beberapa kali naruh cokelat di lokernya." Katanya pelan.
Azalea tergelak. "Kata kak Zafran, cewek sama cowok beda. Cowok lebih bisa mendam perasaan tapi selalu memperhatikan. Sedangkan cewek lebih suka caper-caper biar cowok peka."
"Begitu?" Phoebe tidak pernah mendengar filosofi tersebut.
"Iya." Azalea membenarkan.
"Jadi kak Bintang suka sama Bee?"
"Iya, bisa jadi."
Phoebe langsung murung. "Bee udah ngecewain kak Bintang. Bee jahat banget." Kedua matanya kembali berkaca-kaca. "Kak Bintang berpesan untuk Bee selalu bahagia." Cewek itu makin sedih, "Bee nggak bermaksud jahat sama kak Bintang. Kalau tau kak Bintang suka sama Bee. Bee pasti berusaha suka sama kak Bintang juga. Tapi sekarang Bee juga udah jarang ke rumah sakit."
"Yaudah, ayo sekarang ke rumah sakit. Biar kak Bintang semangat lagi. Kak Bintang pasti seneng banget lihat kamu bahagia." Ajak Azalea semangat. "Pokoknya kamu jangan nunjukin muka kecut. Bee haru terlihat bahagia biar dede bayinya juga bahagia. Ayo Bee, semangat!!" Azalea mengepalkan tangannya.
"Se-semangat!"
***
Jakarta. 29.10.18
Akhirnya Pibi lelah juga hahaha.
Pada saat di posisi Pibi, emang gada tempat lain bisa bikin tenang.
maunya sama mama. Melum mama. Nangis sambil meluk mama.
Plong banget dah.
Follow ig.
ila_dira
novel.dira
KAMU SEDANG MEMBACA
His Girlfriend [TERBIT]
Teen FictionSUPAYA NGGAK BINGUNG, BACA SESUAI URUTAN! 1. CRAZY POSSESSIVE (TERBIT) - SELF PUBLISH, PESAN DI GUA AJA - 2. EX (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA - 3. HIS GIRLFRIEND (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA - 4. QUEEN (PROSES TERBIT) ADA JUGA SPIN OF YANG BERHUBUNGAN DE...
![His Girlfriend [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/148670398-64-k272907.jpg)