Sebelum baca, siapin hati dulu gengs!
Sudah siap?!
***
"Ini lho, Bee, rumah sakitnya. Lea seneng banget sama dokternya, baik banget. Susternya juga ramah banget." Sejak tadi Azalea tidak berhenti bercerita. "Lea kan pernah pake seragam buat konsultasi. Terus dokternya cuma senyum maklum aja. Sama sekali nggak marah atau sinis gitu. Malah berpesan sama Lea biar jagain dede bayinya."
Entah kenapa bayangan seseorang terlintas begitu saja dalam benak Phoebe. Senyum tipisnya terpantri indah di wajahnya. Azalea begitu bersemangat mendapat teman satu konsultasi dengannya.
Mereka berdua mengenakan sweater untuk menutupi badan yang mulai terbentuk. Arin menyuruh Phoebe untuk mengenakan seragam yang lebih longgar agar perutnya tetap nyaman. Sedangkan Azalea dari dulu memang senang mengenakannya.
"Lea udah janji sama dokternya. Kita masuk aja langsung, ini lagi nggak ada antrian." Azalea menarik tangan Phoebe memasuki ruangan yang tiba-tiba membuat jantung Phoebe berdetak lebih cepat.
Dia terhenyak, langsung menyadari jika dia tidak salah dengan firasatnya. Kedua matanya membola dan sama sekali tidak mendengarkan suara Azalea menyapa dokter tesebut.
"Kak Bintang." Phoebe berguman pelan.
Pemilik nama itu mengerutkan dahi melihat perubahan Phoebe yang memucat. "Bee?" Panggilnya. "Kamu kenal sama Azalea? Eh, seragam kalian sama. Satu sekolahan ya? Atau satu kelas?"
"Sa-satu sekolahan, kak." Cicit Phoebe nyaris tak terdengar.
Azale mengerutkan dahi melihat mereka yang sepertinya sudah mengenal. "Dokter Bintang udah kenal sama Bee ya? Ini temen Lea yang tadi certain di telpon." Ceritanya bersemangat.
"Teman kamu yang...?" Bintang sama sekali tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Azalea mengangguk masih begitu semangat. "Iya, dok. Lea nggak nyangka ternyata Bee juga hamil seperti Lea."
"Lea, bisa saya bawa Bee keluar sebentar?" Azalea mengerutkan dahi tidak mengerti. Tiba-tiba Bintang memotong pembicaraannya. "Sebentar ya. Kamu tunggu di sini." Cewek itu kemudian mengangguk.
Sedangkan Bintang langsung membawa Phoebe keluar dari ruangan tersebut dengan langkah tergesa-gesa. Phoebe meringis kesakitan, tetapi tidak berani menyangkal Bintang yang sedang marah.
Phoebe menyadari amarah lelaki itu. Bintang jarang marah, tetapi sekali marah wajahnya memerah dan urat-urat lehernya menegang.
Bodohnya Phoebe yang sama sekali tidak menyadari bahwa rumah sakit yang mereka datangi adalah tempat bekerja Bintang dan Arin. Selama hampir dua minggu tidak bertemu dengan Bintang, Phoebe tidak menyadari tempat yang selama ini dia kunjungi.
"Bee, bisa kamu jelaskan sekarang?" Suara Bintang dingin. Dia melepaskan cewek itu setelah mereka berada di sebuah ruangan.
"Kak, maaf." Cicit Phoebe pelan.
"Siapa, Bee?"
"Barta."
"Siapa dia?!" Suara Bintang makin meninggi.
"Su-suami, Bee." Badan Bintang meluruh seperti tidak memiliki tulang. Cewek itu berkata lirih, namun begitu jelas di pendengarannya.
"Kamu sudah menikah?" Bintang kembali bertanya dengan suara bergetar.
"Maaf, kak. Bee nggak bisa nunggu kakak pulang." Phoebe memberanikan diri menatap wajah Bintang di depannya. Wajah lelaki itu semakin mengeras emosi, Phoebe semakin menciut. Baru kali ini melihat amarah Bintang yang tak terkendali.
"Bee..., kakak udah bilang sama kamu buat jaga diri. Jangan pacaran." Phoebe mengangguk pelan. "Semua itu kakak lakukan biar Bee bisa jaga diri. Bee nggak kelepasan sampai ke pergaulan bebas."
"Maaf, kak."
Bintang menghela nafas berat. "Kapan kamu nikah?" Tanyanya sembari menetralkan emosi.
"Seminggu yang lalu, kak." Bintang menahan nafas, "Kata mama udah kirim email buat kak Bintang." Cowok itu memejamkan mata.
Dia memang tidak membuka email dari seminggu yang lalu. Baru kemarin Bintang kembali dari Paris, menghadiri pernikahan kakak tertuanya. Lelaki itu menunda kepulangannya sehingga sampai saat ini Phoebe baru bertemu dengannya, itu juga tanpa sengaja.
"Dia cowok yang sering kamu certain?"
Phoebe mengangguk pelan. Bintang kembali menghela nafas panjang. Sudah terlanjur dan dia kecolongan. Cewek yang dicintainya sudah jadi milik orang lain. Bintang mengepalkan tangan, rasa egoisnya tiba-tiba mendominasi.
"Maaf, kak." Phoebe menggeleng sembari meneteskan air mata. Dia menyeka kasar dan menundukkan kepala. Tubuhnya masih bergetar hebar, emosi Bintang mulai melunak. Dia memang tidak bisa melihat cewek itu menangis.
"Ayo ke ruangan. Kakak periksa kandungan kamu."
"I-iya, kak."
Masih banyak yang hendak Bintang ungkapkan. Kekecewaan dan rasa cintanya yang sama sekali belum di ungkapkan selama ini. Sengaja menunggu Phoebe lulus sekolah dulu baru ingin mengikatnya.
Keinginan cewek itu yang hanya sederhana seringkali membuat senyum Bintang tersungging tanpa sadar. Phoebe akan mendapatkan keinginannya untuk menikah setelah lulus sekolah. Bintang sudah menyiapkannya jauh-jauh hari sebelumnya.
Arin juga tidak pernah menyangkah perasaan Bintang untuk Phoebe. Wanita itu terkesan mendukung, terlihat dari selama ini membiarkan Bintang membawa Phoebe pergi dengannya. Menitipkan Phoebe padanya ketika wanita itu sedang sibuk di luar kota.
Nyatanya semenyakitkan ini. Bintang kecewa pada dirinya sendiri. Menyesal karena tidak pernah menyinggung perasaannya pada cewek tidak peka itu. Bintang yang selalu mendengarkan keluh kesah Phoebe di sekolah. Menceritakan teman sekolahnya yang suka tebar-tebar pesona tetapi Phoebe juga menyukainya.
"Kak, kakak nggak marah sama Bee, kan?" Phoebe memastikan bahwa Bintang tidak marah dengan apa yang dilakukannya. "Maafin, Bee, kak. Bee janji akan bahagia sama pernikahan, Bee. Sama keluarga kecil, Bee."
Jika sudah seperti ini. Bintang mana sanggup mengelak lagi. Dia hanya bisa tersenyum miris sembari mengacak-acak rambut Phoebe. "Bee bahagia nikah sama dia?"
Phoebe mengangguk sumringah. "Bee udah naksir Barta sejak masuk sekolah."
Hancur sudah hati Bintang kendengarnya. Dia melirik sekali lagi wajah Phoebe yang berseri-seri. Tidak ada lagi kesedihan dan penyesalan seperti beberapa saat yang lalu di salah satu ruangan rumah sakit tersebut.
***
Jakarta, 08.10.18
Siapa nih tebakannya bener?!
Lu pada emang pinter ya hahaha.
Bedewe EX agak lama ya.
Kalogak rabu ya kamis.
Follow ig.
ila_dira
novel.dira
KAMU SEDANG MEMBACA
His Girlfriend [TERBIT]
Novela JuvenilSUPAYA NGGAK BINGUNG, BACA SESUAI URUTAN! 1. CRAZY POSSESSIVE (TERBIT) - SELF PUBLISH, PESAN DI GUA AJA - 2. EX (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA - 3. HIS GIRLFRIEND (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA - 4. QUEEN (PROSES TERBIT) ADA JUGA SPIN OF YANG BERHUBUNGAN DE...
![His Girlfriend [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/148670398-64-k272907.jpg)