"Bee, maafin mama ya. Mama harus ikut sama papa."
Phoebe mengangguk sambil tersenyum tipis. Rachel merasa sangat bersalah pada menantunya. "Nggak apa-apa, ma. Barta dan Bee pasti baik-baik aja di sini." Ucapnya menenangkan.
"Mama nggak bisa ninggalin kalian berdua di sini. Asisten rumah tangga sedang cuti. Mama nggak bisa biarin kamu tanpa ada yang bantuin nyiapin kebutuhan kamu." Wanita itu memang sangat meyayangi Phoebe melebihi anaknya sendiri. Sehingga dengan kepergian mereka untuk perjalanan bisnis begitu menyiksanya.
"Ada Barta, ma, yang bantuin Bee." Phoebe tersenyum hangat.
Rachel menggeleng. "Barta suka lupa. Mama khawatir." Phoebe tergelak. "Pokoknya mama harus cari asisten rumah tangga sementara buat kalian." Rachel menolak alasan apapun dari Phoebe.
"Mama pergi cuma beberapa minggu, bukan selamanya. Ribet banget dari tadi!" Barta menjawab cuek. Sama sekali tidak merasa terbebani melihat Rachel dan Phoebe yang sedak tadi tidak mau dipisahkan.
"Bar!" Rachel meninggikan suaranya. "Walaupun pergi sehari, tetap harus diperhatikan. Bee lagi hamil, nggak boleh dibiarin gitu aja!!"
"Iya, semerdeka mama aja." Barta mengangkat bahu lalu pergi meninggalkan mereka. Rschel makin geram, tetapi Phoebe berusaha menenangkan sebisa mungkin. Wanita itu menahan nafas untuk menetralkan emosinya.
Kadang berbicara dengan Barta harus menyediakan stok kesabaran sebanyak-banyaknya jika tidak ingin mati mendadak. Seperti ini, dengan cueknya melenggang pergi meninggalkan mereka berdua masih sibuk dengan petuah-petuah lainnya.
"Iya, ma. Nggak apa-apa. Bee pasti baik-baik aja sama Barta di sini." Phoebe kembali menenangkan Rachel yang sepertinya tidak menyukai perjalanan ini. "Bee akan jaga dede bayinya, ma."
Kedua alis Rachel menukik, "Mama akan suruh ponaan mama ke sini buat jagain kamu. Mama nggak bisa percaya sepenuhnya sama Barta!" Katanya.
"Keponakan mama?"
Rachel mengangguk membenarkan. "Iya. Mama punya dua keponakan yang masih kuliah. Kemarin katanya lagi libur kuliah. Nanti suruh ke sini aja sekalian liburan."
Phoebe sumringah setuju. "Boleh, ma." Katanya. "Nanti Bee ajakin jalan-jalan."
"Iya, tapi nggak boleh capek-capek ya. Bee harus perhatikan semua, mulai dari makanan, istirahat cukup, nggak boleh capek-capek."
"Iya, ma, siap!" Phoebe bersemangat sehingga Rachel menghela nafas lega. Sudah mendapatkan jalan keluar sehingga dia tenang meninggalkan Phoebe dan Barta di rumah. "Nggak perlu cari asisten sementara ya, ma."
"Iya." Rachel kembali membenarkan. "Nanti mereka yang ngurus rumah. Mereka sudah biasa ngekos sendiri, pasti bisa ngurus rumah."
***
Barta mengerutkan dahi melihat Phoebe di sampingnya. Mereka mengantar kepergian Rachel dan Rudi hingga di depan pintu. Phoebe terlihat begitu senang, senyumnya masih terpantri lebar di wajahnya.
"Kenapa?"
Senyum Phoebe memudar. "Mama nggak jadi nyari asisten sementara." Ceritanya. "Tapi mama mau nyuruh keponakannya datang ke sini. Bee seneng banget. Bee punya temen lagi."
Barta mencibir lalu mengangkat bahu. Dia memutar tubuhnya dan meninggalkan Phoebe masih menatap kepergian mertuanya meskipun mobil yang mereka kendarai sudah tidak terlihat lagi.
Phoebe mengikuti Barta ke dalam rumah. Cowok itu sedang menonton televisi di ruang tamu sambil makan cemilan. Phoebe ikut bergabung dengannya, meraih toples lain dan mulai makan.
KAMU SEDANG MEMBACA
His Girlfriend [TERBIT]
Teen FictionSUPAYA NGGAK BINGUNG, BACA SESUAI URUTAN! 1. CRAZY POSSESSIVE (TERBIT) - SELF PUBLISH, PESAN DI GUA AJA - 2. EX (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA - 3. HIS GIRLFRIEND (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA - 4. QUEEN (PROSES TERBIT) ADA JUGA SPIN OF YANG BERHUBUNGAN DE...
![His Girlfriend [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/148670398-64-k272907.jpg)