"Phoebe, apa ini?!"
Arin berteriak keras di kamar cewek itu. Phoebe yang masing tidur di atas ranjang langsung bangun. Dia melihat Arin mengepalkan tangan sembari menahan emosi. Phoebe langsung sadar, dia bangun dan beringsut ke kepala ranjang.
"Ma..." Cicitnya ketakutan.
"Bisa kamu jelaskan benda-benda ini sekarang?" Arin menunjukkan alat-alat pendeteksi kehamilan itu di tangannya.
Phoebe meneteskan air mata ketakutan. "Ma, maafin, Bee." Ucapnya. Phoebe tidak membuangnya, dia menyimpan alat-alat tersebut di laci nakasnya. Tidak menyangka jika Arin mendapatkannya.
"Jelaskan!!" Arin makin emosi.
"Bee, ha-hamil, ma." Jawabnya bersamaan dengan air matanya kembali tergenang.
Nafas Arin tercekat. Meskipun sudah tahu, tetapi mendengar secara langsung dari Phoebe malah semakin menyakitkan. Wanita itu meluruhkan bahunya lemas. "Apa dosa mama, Bee? Kenapa Bee merusak kepercayaan mama?"
"Maafin, Bee, ma." Tubuh Phoebe bergetar hebat. Tamat sudah riwayatnya sekarang.
"Mama nggak butuh maaf dari kamu. Mama butuhnya penjelasan kamu!" Arin menggeleng tidak sanggup menerima kenyataan ini. "Siapa pelakunya? Mama kenal?"
Phoebe menggeleng takut-takut. "Teman sekolah, Bee."
Arin menghela nafas kasar. Air matanya tidak bisa dibendung lagi, sebisa mungkin menahan diri agar buliran itu tidak menetes di depan Phoebe.
"Dia mau tanggung jawab?" Phoebe makin sedih. Dia menggeleng pelan dan menundukkan kepala. Barta tidak mau menikahinya, tetapi cowok itu berjanji tidak akan menjauhinya lagi. Air mata Arin langsung menetes. Dunianya hancur, Arin gagal menjaga harta yang dimilikinya selama ini. Arin kecolongan, dia pikir sudah maksimal menjaga Phoebe. "Bee, kamu tahu kan bagaimana rasanya nggak punya papa?"
Air mata Phoebe mengalir deras. "Maafin, Bee, ma." Cicitnya pelan.
"Apa yang Bee rasakan selama ini, akan anak Bee rasain juga." Jelas Arin lembut. Tidak ada gunanya marah-marah jika sudah terlanjur begini. Menghukum Phoebe dengan cara apapun bahkan memukulnya, keadaan tidak akan kembali seperti sebelumnya. "Nanti anak Bee nanyain papanya, Bee sanggup jelasin?"
"Ma, Bee takut." Phoebe tidak bisa berpura-pura tegar di hadapan Arin. Sejak mengetahui kehamilannya, Phoebe ketakutan hingga ke persendian meskipun dia selalu tersenyum di depan Barta. Namun dalam hatinya selalu ketakutan.
Arin menggeleng. "Dimana rumah laki-laki itu? Mama akan bicarakan ini sama orang tuanya." Phoebe terkejut. Dia mengerjap tidak percaya bahwa Arin sebijak ini. "Bee yang bikin kesalahan, Bee harus nanggung akibatnya. Apapun keputusannya, Bee harus terima."
Phoebe mengangguk pelan. Dia beringsut pada Arin lalu memeluk wanita itu erat. "Maafin, Bee, ma. Bee salah. Bee udah ngecewain mama."
"Kamu udah periksa adek bayinya?"
Bee mengangguk. "Kata dokternya Bee harus jaga kesehatan."
"Kapan periksanya?"
"Seminggu yang lalu."
"Di mana? Bintang tahu keadaan kamu?" Arin masih memeluk Phoebe, mengelus-elus lembut kepalanya. Cara didik Arin memang berbeda, sebagai dokter, wanita itu lebih dewasa dan perpikiran luas. Dia tidak pernah memarahi atau memukul Phoebe. Psikolognya akan terganggu jika anak memiliki masalah tetapi orang di sekitarnya semakin membuatnya tertekan.
"Di daerah Tangerang. Barta temenin Bee periksa waktu mama tugas." Kejadian Phoebe hampir keguguran tidak ada yang boleh tahu, dia sudah berjanji pada Barta untuk tidak membuka mulut.
Arin melepas pelukannya sembari tersenyum. "Barta ngasih solusi apa buat bayinya?" Tanyanya lagi.
Phoebe cemberut makin sedih. "Barta suruh Bee gugurin." Jantung Arin berdetak nyeri. Kurang ajar, dia membatin. "Tapi Bee nggak mau. Bee selalu ingat kata kak Bintang, nggak boleh gugurin anak. Anaknya nggak berdosa, mamanya yang salah." Jelasnya. "Terus, Barta juga nggak nyuruh Bee gugurin lagi. Barta nggak akan ninggalin Bee."
Arin tersenyum sembari menghapus air mata Phoebe. Putrinya semakin desawa, sudah bisa mengambil keputusan bijak meskipun menghancurkan masa depannya.
"Kamu mandi dulu. Kita ke rumah Barta sekarang!" Phoebe mengangguk, sekali lagi memeluk erat tubuh Arin. Dia kembali menangis, bukan karena sedih. Tetapi karena Arin begitu baik padanya. Tidak pernah kasar maupun menyudutkannya.
Phoebe kecewa pada dirinya sendiri, dia telah mengecewakan wanita tersebut karena egonya yang masih labil. Dia juga berbohong bahwa kemarin hendak membunuh anaknya. Sudah terlanjur, Phoebe tidak ingin menambah masalah lagi.
***
Jakarta, 25.09.18
Ketauan kan, Bee...
kwkkww
Siap-siap Bar dihajar sama mama Arin hihi
Sekarang Barta tamat Riwayatnya!
ig. ila_dira dan Novel.dira
KAMU SEDANG MEMBACA
His Girlfriend [TERBIT]
Ficção AdolescenteSUPAYA NGGAK BINGUNG, BACA SESUAI URUTAN! 1. CRAZY POSSESSIVE (TERBIT) - SELF PUBLISH, PESAN DI GUA AJA - 2. EX (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA - 3. HIS GIRLFRIEND (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA - 4. QUEEN (PROSES TERBIT) ADA JUGA SPIN OF YANG BERHUBUNGAN DE...
![His Girlfriend [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/148670398-64-k272907.jpg)