Bab 10. Panik

107K 6.8K 191
                                        


Barta berdecak kesal, ponselnya berbunyi nyaring sejak tadi. Tadi malam lupa menonaktifkan suaranya. Sekarang cowok itu menangguk sendiri kecerobohannya. Dia menempelkan ke telinga tanpa melihat layar terlebih dahulu. Kedua matanya terekat seperti kena lem. "Bar..., tolongin, Bee. Perut Bee sakit."

Suara Phoebe di seberang line dibarengi dengan tangis. Barta langsung bangun, mengecek ponselnya sekali lagi dan suara Phoebe kembali memanggilnya.

"Kamu menapa?" Barta bertanya panik. Pasalnya suara tangis Phoebe makin menjadi-jadi.

"Sakit...."

"Tunggu, aku datang." Entah sejak kapan Barta duduk dan langsung mengganti celananya. Meraih kunci mobil dari laci dan kemudian berlari menuruni tangga. Barta melaju membelah embun malam dengan kecepatan tinggi. Kepanikannya mengalahkan rasa takut yang kemungkinan besar ada begal di jalanan.

Sekitar sepuluh menit kemudian, Barta tiba di rumah Phoebe. Mengambil kunci terlebih dahulu di bawa pot lalu berlari ke kamar cewek itu tanpa menutup pintu lagi.

Barta melihat Phoebe tergeletak tak berdaya di lantai sambil menangis. Barta meraih tubuhnya dan menyingkap rambut yang menutupi wajah. "Kamu kenapa, Bee?"

Tangis Phoebe makin kencang. "Sakit." Ucapnya sembari memberikan botol kecil pada cowok itu. Barta melebarkan mata, di antara paha Phoebe mengeluarkan darah. Langsung membawa cewek itu dalam gendongannya.

Jantung Barta berdetak tak menentu. Tidak ada pilihan lain, menyetir sembari menenangkan Phoebe yang semakin lemah. Cowok itu bergetar, makin lama tubuh Phoebe tak terdengar lagi. Hingga akhirnya dia pingsan dalam kegelapan.

"Bee, jangan...! Bangun, Bee..."

Cewek itu tetap damai dengan mata tertutup. Barta parkir sembarangan di rumah sakit terdekat dan mengangkat cewek itu keluar dari mobil. Berteriak nyaring meminta bantuan agar Phoebe langsung ditangani.

***


"Maaf..." Barta masih belum pulih dari kepanikannya. Sekarang sudah pagi, dari tengah malam tadi Barta sama sekali tidak bisa tenang. "Bee nggak bisa minum semua. Rasanya nggak enak, terus Bee langsung kesakitan." Cewek itu kembali melanjutkan.

"Jangan minum lagi!" Jawab Barta serak.

Phoebe mengangguk lemah. Dia baik-baik saja bersama kandungannya. Beruntung segera ditangani dan obat penghancur kandungannya tidak diminum semua. "Kamu masih mau janji nggak ninggalin aku?"

Barta mengangguk, lalu mendekap cewek itu lembut. Phoebe tersenyum senang, membalas pelukan Barta tak kalah erat. Mereka berdua diam, membiarkan rasa ketakutan tersebut menguap.

Barta bodoh. Mengiming-imingi Phoebe agar menggugurkan kandungannya. Dia memberikan obat cair di botol kecil untuknya. Hasutan Barta membuat Phoebe berpikir dua kali untuk mempertahankan kandungannya.

Dia cewek lemah yang tidak bisa menahan rasa sakit dan pusing seperti beberapa hari ini. Sehingga ketika Barta memberikan penjelasan bahwa Phoebe akan mengalaminya selama kehamilan, Phoebe langsung panik.

Barta berjanji akan selalu bersamanya jika cewek itu menuruti perkataannya. Semakin menguatkan tekad Phoebe untuk menyingkirkan calon buah hatinya.

Tadi malam dia ragu, sampai tidak bisa tidur hingga tengah malam. Menimbang-nimbang sembari menggenggam erat obat tersebut. Dia lebih leluasa karena Arin tidak ada di rumah, mamanya super sibuk itu tidak menyadari perubahan Phoebe kahir-akhir ini.

Hanya minum sedikit, Phoebe langsung mual. Beberapa saat kemudian perutnya sakit. Dia mulai berkeringat dingin dan rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Hanya Barta yang terlintas dalam benaknya ketika hendak meminta pertolongan untuk menyelamatkannya.

"Kita nggak sekolah?"

Barta menggeleng. "Kamu istirahat. Aku temenin." Cewek itu tersenyum senang. Dia memperbaiki posisi tidurnya lalu Barta menyelimuti hingga dada. "Mama kamu kapan pulang?"

"Nanti malam." Kata Phoebe pelan.

Barta menghela nafas panjang. "Aku cari makan dulu." Phoebe mengangguk. "Nanti sore kamu udah bisa pulang, nanti jangan sampe mama kamu tahu ya." Cewek itu kembali mengangguk. Lalu setelahnya Barta pergi meninggalkannya sendiri di kamar tersebut.

Phoebe langsung kembali terlelap. Efek obat masih bekerja dalam tubuhnya, tetapi melihat Barta ada di sana untuknya, cewek itu tidak memejamkan mata meskipun sudah berat sekali.

Cewek itu tidak tahu berapa lama Barta pergi, ketika dia kembali bangun, cowok itu ada di kamar inapnya. Sedang tidur tengkurap di sofa. Phoebe langsung bangun, menghampiri Barta dan membangunkannya.

"Jangan tidur di sini. Nanti badan kamu sakit." Ucapnya.

Barta meleguh, dia sangat mengantuk. Baru beberapa menit yang lalu bisa memejamkan mata. Phoebe kembali membangunkannya sehingga cowok itu duduk dan menguap sekali lagi.

"Kamu makan dulu." Kata Barta kemudian. "Kembali ke bangsal, nanti kamu sakit." Phoebe menurut, dia duduk di bangsalnya dan mulai makan. Barta membantunya makan, menyuapi Phoebe yang masih lemah.

"Kenapa kamu nggak makan duluan?" Tanya Phoebe mengernyit.

"Nunggu kamu bangun." Cewek itu tersipu malu. Diam-diam melirik Barta yang sedang makan lahap. Cowok itu mengangkat kepala merasa di awasi. Phoebe langsung mengalihkan pandangannya lagi.

Barta membantunya ke kamar mandi, lalu menyuruh Phoebe istirahat setelah dokter mengunjunginya. Perawat dan dokter tersenyum maklum pada mereka, ini bukan kali pertama menemukan pasangan seperti mereka.

"Kamu tidur di sini." Ajak Phoebe menepuk sebelah bangsalnya.

"Jangan berisik, Bee. Cepet tidur!"

"Bee, nggak bisa tidur kalau kamu tidur di situ. Badan kamu pasti sakit." Cewek itu bersikukuh. Barta menurut, menaiki bangsal dan langsung tidur. Phoebe tersenyum senang, mengelus wajah Barta lembut dan mengecupnya.

"Kamu udah nggak sakit lagi?" Barta mengernyit.

Phoebe menggeleng semangat. "Bee nggak sakit lagi kalau udah lihat kamu." Jawabnya malu-malu.

Barta terkekeh. Senang jika Phoebe tidak kesakitan lagi. "Baiklah, sekarang tidur biar makin pulih. Besok sekolah." Cowok itu memeluk perut Phoebe lalu mereka melanjutkan tidur.



***


Jakarta, 24 September 2018


Barta semakin menjadi-jadi.

Makin pea-in si Bee nyuruh gugurin kwkwkwkkw

Bee pea mau-mau aja kan -_-


menurut lo, Barta spesies apa nih cocoknya?



Follow ig. ila_dira dan novel.dira


His Girlfriend [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang