"Bar, ini Bee suka banget."
Entah sudah yang keberapa kalinya Phoebe meneriakkan kalimat tersebut setiap kali menemukan hal baru. Baik itu menemukan burung, kadal, buaya, harimau, rusa, bahkan monyet. Sepertinya cewek itu memang menyukai semua binatang.
Gemas sekali melihat hewan-hewan tersebut. Tapi cewek itu langsung ngacir kalau salah satu hewan tersebut mendekat ingin mengambil makanan di tangan Phoebe.
"Jangan kasih makan." Seru Barta. "Denda kalau dilanggar."
Phoebe menatap barta harap. "Bayar nggak apa-apa, ya. Bee mau ngasih makan monyetnya."
"Nggak!" Barta menggeleng. "Rugi!"
"Bar, jangan pelit." Phoebe menggoyang-goyang lengan Barta manja.
"Nggak!" Barta tetap keukeuh. "Kalau ngotot, aku pulang duluan!"
Phoebe cemberut, tidak lagi merayu Barta. Lalu kembali pada hewan-hewan tersebut. Phoebe tidak akan berhasil meluluhkan Barta yang keras kepala dan pelit. Lebih baik Phoebe bersenang-senang dengan hewan-hewan tersebut.
Barta geram, ingin menjitak kepala istrinya. Bikin malu. Teriak-teriak nggak jelas, lari-lari dan menyapa semua hewan yang ditemuinya. Cowok itu menutup kepalanya dengan topi, sehingga orang-orang tidak melihat jelas wajahnya.
Cowok itu mendekat, menahan tangan Phoebe tetap masuk ke dalam kandang. Phoebe berteriak ketakutan melihat monyet besar mendekat. Dia menutup mata, Barta sama sekali tidak tidak mau melepaskannya.
Phoebe berteriak. Monyet itu terkejut, langsung ngacir naik ke pohon. Teriakan Phoebe tidak sekecil badannya. Cewek itu menyeramkan kalau lagi berteriak seperti itu. Monyet aja takut.
"Nggak mau. Nggak mau lagi." Phoebe memeluk Barta dan menyembunyikan wajahnya di dada cowok itu.
Barta berdecak. "Kenapa masih ngotot kalau takut?"
"Serem. Tangan monyetnya dingin. Bee nggak mau lagi." Katanya menolak. Menggeleng keras dan tubuhnya masih gemetaran.
"Ayo makan dulu."
Barta mengajaknya meninggalkan kandang monyet. "Pandanya gimana?" Phoebe masih ingat tujuan mereka mendatangi kebun binatang adalah untuk bertemu dengan panda. Tapi Terlanjur seru melihat hewan lain, sehingga mereka memutuskan antri kalau sudah sore.
"Nanti." Jawab Barta meraih tangannya.
"Bar, janji kan?"
"Iya." Barta mengangguk.
Phoebe menurut, pasrah kemana Barta membawanya. Banyak penjual makanan di sana, tapi cowok itu sepertinya belum menemukan tempat yang cocok.
Phoebe berbinar, dia melihat kandang burung merak. Banyak orang mengelilingi kandang tersebut untuk melihat keindahan bulunya yang lebar. "Bar, ke sana dulu. Bee mau lihat."
"Nanti aja."
"Tapi itu lagi mekar bulunya." Phoebe mengerucutkan bibirnya. Barta menghela nafas panjang, mengangguk dan mereka memutar haluan.
Phoebe sangat senang sekali. Cewek itu memotret burung merak sedang melebarkan bulunya. Berdecak kagum dan semakin mendekat. Phoebe tidak peduli ketika beberapa orang mengernyit padanya ketika berdesak-desakan ingin berdiri paling depan.
Barta meringis melihat kelakuan istrinya. Sebentar lagi menjadi seorang ibu, tapi kelakuan tetap bocah. Keliatan banget nggak pernah kemana-mana. Sekalinya pergi langsung heboh dan udik seperti ini.
Ini cewek hidup jaman kapan sih? Parah banget nggak pernah jalan sana sini. Kemana aja selama ini? Mendem? Bertelor?
Barta mendengkus. Cewek itu menyuruh Barta membidik fotonya bersama burung merak. Barta menerima kamera dan mengeluarkan kemampuannya. Phoebe sangat puas, dia tersenyum lebar dan nangih.
Minta Barta ikut dengannya. Selfi beberapa kali dan menyuruh orang lain membidik foto mereka. Phoebe paling antusias, menggandeng lengan Barta dan menyengir lebar. Sama sekali tidak cocok menjadi cewek ala-ala selebgram.
Gayanya aja gitu doang. Kalau nggak nyengir lebar sambil mengacungkan dua jari pasti melet atau mengerucutkan bibirnya. Fotonya juga kebanyakan setengah badan aja. Barta heran, untuk apa berfoto jauh-jauh ke kebun binatang kalau cuma mau ngerekam muka doang?
"Terima kasih." Kata Barta menerima kameranya. Cowok yang bersedia membidik foto mereka mengangguk sambil tersenyum. Phoebe emang begitu, minta tolong sama siapa aja tanpa rasa curiga. Dia menganggap semua orang baik dan lugu seperti dirinya.
Phoebe tersenyum lebar. Sangat puas dengan foto mereka. Dia menunjuk pada Barta, cowok itu berdehem dan mereka melanjutkan jalan mencari makanan.
"Makan apa?" Tanya Barta menoleh.
"Apa aja Bee mau kok. Tapi mau jajan sossis juga ya." Katanya berbinar.
Phoebe mencibir. "Hem." Jawabnya berdehem.
"Sama kacang rebus, Bee mau. Terus jangung rebus juga."
"Kamu bisa makan semua?" Tanya Barta menoleh lagi.
"Bisa." Phoebe mengangguk. "Sekarang, Bee, lapar banget. Perut Bee sampe sakit."
Cowok itu meringis. "Dari tadi di ajakin nggak mau." Cibirnya.
Phoebe menyengir lagi. "Makan jangung dulu ya. Terus nyari makan yang lain."
Barta memesan dua jagung rebus. Satu untuk Phoebe dan satu lagi untuknya. Mereka makan sambil jalan, cewek itu kembali meminta mampir untuk beli minum. Barta memutar bola mata, Phoebe paling banyak permintaan.
***
Jakarta, 24.12.18
EX udah Up ya.
Yuhu, follow akun RP cerita keempat cowok najongnya gue dengan sang ciwi-ciwi imut nan menggemaskan, anjay.
Kevin => Axeankevin
Citra => AleandraCitra
Barta=> Bartaaratha
Phoebe => Phoebe_Sasikirana
Romeo => Reynaldi_romeo
Queensha => Queenshaqyra
Stef => Stefanquand
Nina => Aurellianina48
Dira => ila_dira
KAMU SEDANG MEMBACA
His Girlfriend [TERBIT]
Teen FictionSUPAYA NGGAK BINGUNG, BACA SESUAI URUTAN! 1. CRAZY POSSESSIVE (TERBIT) - SELF PUBLISH, PESAN DI GUA AJA - 2. EX (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA - 3. HIS GIRLFRIEND (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA - 4. QUEEN (PROSES TERBIT) ADA JUGA SPIN OF YANG BERHUBUNGAN DE...
![His Girlfriend [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/148670398-64-k272907.jpg)