Bab 35. Di(polos)in

91.5K 5.9K 195
                                        

 "Wah, pasar malam ini lebih rame dan mainannya tinggi-tinggi banget."

Zen dan Phoebe paling antusias, ada Bunga juga di samping cewek itu. Ketiganya menengadahkan kepala menatap bianglala yang sangat tinggi. Terkagum-kagum karena belum pernah melihat yang luar biasa seperti ini.

"Zen mau naik semua." Zen mengangkat kedua tangannya tinggi tinggi membentuk sebuah bola raksasa.

"Bee juga mau semua."

"Bunga juga, kak." Bunga tidak mau kalah. Lalu mereka berteriak senang, melompat-lompat sembari bertos ria.

Barta meringis melihat kelakuan istrinya yang sangat kekanak-kanakan. Cowok sekali berteman dengan anak seusia Zen dan Bunga. Mereka bertiga seolah seperti anak sebaya. Sama sekali tidak mau berteriak dan melompat-lompat girang.

"Bee, perut kamu. Jangan lompat-lompat!" Barta menghentikan cewek itu.

Phoebe menyengir lebar, meraih lengan Barta dan memeluk erat sembari menyengir lebar. "Bee senang banget di ajakin ke sini. Bee belum pernah ke tempat seramai ini. Bee juga belum pernah melihat permaian seluar biasa ini."

Barta mencibir. Istrinya anak rumahan yang tidak pernah main ke tempat-tempat umum dan ramai. Arin berhasil mengisolasikan anak satu-satu yang dimilikinya. "Jangan lebay." Kata cowok itu mengingatkan.

Phoebe tidak terpengaruh, Zen dan Bunga mengajaknya main biang lala. Mainan kesukaan Zen. Paling suka jika dia berada paling puncak. Dia akan berteriak kencang dan melihat sekitar pasar malam yang luas.

"Bar, Bee mau main bianglala sama Zen dan Bunga ya." Katanya sembari berlari.

"Jangan lari, Bee!" Barta makin geram. Cewek itu tetap tidak peduli. Ketiganya sudah mengantri untuk naik.

"Lo ikutin mereka, Bar." Suruh Kevin kemudian. Barta berdecak, dia memang tidak mungkin membiarkan ketiganya naik tanpa pengawasan darinya. "Ayo ikut naik." Kali ini Kevin mengajak Citra.

"Nggak mau." Kata Citra menggeleng.

"Kenapa?"

"Nggak kenapa-napa." Balas cewek itu membuang pandangannya.

Kevin memutar bola mata, meraih tangan Citra dan membawa pada keranjang raksasa tersebut. Mereka berdua ada di belakang rombongan Barta dan Phoebe, sangkar raksasa itu tidak akan mampu menampung mereka berenam.

Meskipun Citra menolak, tapi cowok itu selalu semena-mena seperti biasa. Lain lagi dengan Barta yang sangat telah menyesal mengajak Phoebe ke tempat tersebut. Cowok itu tidak tahan dengan teriakan mereka bertiga. Sudah cocok menjadi orang utan.

Phoebe duduk di kursi besi berjaring-jaring itu karena tidak bisa berdiri, sedangkan kedua anak kecil itu berdiri di sampingnya. Mereka memegang besi dan kembali berteriak histeris seiring berputarnya bianglala tersebut.

"Aaaa... tinggi banget." Teriak Phoebe kencang.

"Kak, Bee, itu yang di bawah kecil-kecil banget." Kata Zen antusias.

"Dada... dada..." Bunga sibuk melambaikann tangan sambil berteriak.

Barta menyedekapkan tangan di dada. Memperhatikan ketiganya, dia duduk tenang tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Dengkusan kesalnya teredam teriakan mereka bertiga.

"Jangan didorong. Nanti kita jatuh." Kata Phoebe ketika Bunga menggoyang-goyangkan pintu besi keranjang raksasa itu. "Bunga geser sini ya."

Gadis kecil itu menurut tanpa rasa takut. Dia kembali menggenggam erat besi lalu berteriak, disusul teriakan Zen dan Phoebe kemudian.

His Girlfriend [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang