Bab 85. Perjuangan Berat

69.1K 8K 1K
                                        

Urutan paling mandiri

Citra -

Nina -

Phoebe -

Queensha -

***

            Sekarang sudah subuh, sekitar lima jam yang lalu Phoebe menahan kesakitan yang tiada tara dan tiada berpenghujung. Mungkin bagi orang calon ibu lainnya tidak akan seheboh Phoebe menunggu masa bukaan.

Barta dan Phoebe pasangan muda yang masih gampang panik, sehingga meskipun dokter sudah mengingatkan jauh-jauh hari, tetap saja keduanya tidak bisa berpikir jernih dan tetap tenang.

Sekarang sudah bukaan sepuluh, wajahnya bengkak karena tangis. Terutama sejak Barta pergi dan tak kembali sekitar satu jam yang lalu untuk membeli makanan permintaan istrinya. Arin menyuruhnya makan bubur untuk mendapatkan tenaga, tetapi Phoebe inginnya bubur di komplek rumah suaminya.

"Ma, Barta kemana? Bee npengin Barta ada di sini?" Suara Phoebe parau. Arin berhasil membujuknya makan bubur yang dibeli Bintang dari kantin rumah sakit karena Barta tidak bisa dihubungi.

"Sebentar lagi datang, Bee. Kamu harus kuat. Sekarang waktunya kamu lahiran." Phoebe menggeleng, masih keukeuh menunggu Barta sebelum melahirkan.

"Bee nggak mau. Bee mau nunggu Barta datang." Dada Phoebe naik turun, nafasnya tersenggal-senggal kelelahan.

"Kamu ditemenin sama mama, sama kak Bintang, sama mama Rachel." Bujuk Arin. Rachel mengangguk di sampingnya sambil mengelus kepala menantunya.

"Nggak mau!"

"Bee, kamu pasti bisa. Barta lagi nunggu tukang buburnya buka. Dia lupa bawa ponsel." Bujuk Rachel lembut. "Mama dan dokter bantuin kamu lahiran, ya."

Phoebe kembali mengeluarkan air mata. "Bee mau Barta, ma."

"Nanti Barta datang, nak." Rachel mengecup puncak kepalanya. "Ayo sekarang, Bee, lahirin adek bayinya."

Phoebe memandang wajah Rachel sendu. Wanita itu lebih lembut dari Arin, meskipun Phoebe keras kepala tetapi mertuanya itu tetap baik padanya. Phoebe akhirnya mengangguk dan menarik nafas dalam-dalam. "Ma, peluk, Bee." Katanya sambil meraih lengan mertuanya.

"Iya, Bee. Mama peluk kamu. Mama bantu kamu, sayang." Jawabnya.

Arin tersentuh dengan interaksi mereka. Tidak menyangka jika anaknya begitu dekat dengan besannya tersebut. Dia tersenyum tipis, lalu menginteruksi dokter lain membantu Phoebe melahirkan.

"Ma, Bee pengin Barta cepat datang."

"Iya, nak. Papa udah nyusul Barta. Sabar ya." Ucapnya sembari mengecup wajah bengkak Phoebe. "Ayo, Bee, kamu kuat, nak." Phoebe mengejan, wajahnya semakin memerah dan hampir menyerah.

Kekuatan Phoebe sudah menipis karena tangisnya tak henti-henti. Mereka semua yang ada di ruangan tersebut memberikan dukungan untuknya agar kuat.

Phoebe menggeleng dan hampir menyerah. Dia tidak kuat lagi. Tubuh bagian bawahnya seperti berputar-putar tiada terkira.

Phoebe mengerang kesakitan, menarik nafas pendek-pendek sekali lagi.

Arin mengelap keringatnya, mereka berhenti sejenak. Kerongkongan Phoebe kering dan serat, Arin mengangsurkan minum padanya.

"Ayo,nak, sekali lagi." Ucap mereka bergantian.

Phoebe mencoba lagi, berteriak kuat mengerahkan semua kekuatannya. Suara khas bayi menghempaskan kesadaran Phoebe. Suara raungan itu seperti sebuah protesan bagi mereka yang telah mengganggu tidur nyamannya. Jantung Phoebe berdentam kuat, perlahan mengeratkan cengkeraman tangannya di lengan mertuanya.

His Girlfriend [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang