Yuhu... siapa yang kangen sama gue?
*
"Bar, kamu udah makan?"
Barta menyipit, Phoebe belum tidur padahal sudah tengah malam. Biasanya ketika cowok itu pulang, Phoebe sudah berkelana ke alam mimpi. Sama sekali tidak menyadari kedatangan Barta lagi.
"Kenapa belum tidur?" Barta melepas semua pakaiannya dan mengganti dengan pakaian tidur. Phoebe mengambil alih dan memasukkan ke dalam keranjang kotor. Sudah menjadi rutinitas mereka, setiap Barta mengganti pakaiannya selalu tercecer di lantai. Kadang di atas tempat tidur, cowok itu paling tidak bisa rapi dengan pakaiannya jika sudah mau naik ke tempat tidur meskipun Phoebe sudah mengingatkan.
"Nggak bisa tidur." Kata Phoebe mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa lagi?" Barta malas menanggapinya. Dia langsung berbaring di samping Phoebe yang sudah kembali ke atas tempat tidur sambari memeluk salah satu boneka panda kecil.
"Bar, Bee pengen makan." Kata Phoebe pelan.
Cowok itu mendengkus. Paling males kalau sudah begini. Bukannya selalu menolak, tapi kenapa baru sekarang mengatakannya sih? Dari tadi kemana aja? Mengapa di saat Barta masih diluar Phoebe tidak meminta?
"Makan yang ada aja dulu, Bee."
"Tapi nggak ada makanan lagi." Ucapnya sedih. Cewek itu menatap punggung telanjang Barta. Cowok itu berbaring memunggunginya, tangan Phoebe terulur menggambar pola-pola abstrak di sana.
Barta bedecak, tidak menjawab lagi. Dia sangat mengantuk sekarang. Sedangkan Phoebe kembali mengerucutkan bibirnya karena Barta tak kunjung merespon. Dia akhirnya memutar tubuhnya dan memeluk boneka panda lagi.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Barta terkejut dan membuka kedua matanya tiba-tiba. Langsung duduk dan menyingkap selimut Phoebe. Cewek itu ikut terkejut, tapi tidak mau memutar tubuhnya.
"Kamu udah makan atau belum?" Barta bertanya tajam membuat Phoebe ketakutan. "Jawab!" Cewek itu menggeleng pelan. "Dari kapan?"
"Da-dari siang." Jawab Phoebe serak. Barta terkejut, cewek itu menangis. Dia meraih lengan Phoebe dan memaksanya duduk.
"Kenapa nggak makan?" Darah Barta mendidih. Berani-beraninya cewek itu mempermainkannya.
"Nggak ada makanan." Jawab Phoebe pelan.
"Nggak ada gimana?" Barta tidak mengerti. "Mereka nggak masak? Nggak siapin makanan buat kamu?" Phoebe menggeleng pelan tanpa berani menatap suaminya. "Kenapa nggak order online?"
"ATM Bee diminta."
"Siapa?!"
"Kak Niken."
Barta melebarkan mata tidak percaya. "Anjing!" Umpatnya marah. "Kenapa nggak lapor sama aku? Hah?"
"Dilarang sama mereka." Phoebe menjawab sepelan mungkin karena masih ketakutan dengan Barta yang marah.
"Dilarang gimana? Di ancam?" Phoebe mengangguk. "Apa?" Suara Barta semakin meninggi, cewek itu beringsut ke ujung ranjang.
"Kamu jangan marah, Bee takut." Cewek itu meremas kedua tangannya. Barta melihat tangan Phoebe ada yang tidak beres.
"Apa?" Barta tidak peduli.
"Me-mereka bakalan pisahin Bee dari kamu." Phoebe mencicit.
"Apa maksudnya?!" Barta mengepalkan tangan. Dia tahu jika Phoebe hanya memiliki satu ATM. Sengaja biar dia tidak boros, Arin juga berpesan pada Barta untuk tidak memberikan masalah keuangan untuk cewek itu. Kalau bukan habis dibelanjakan pasti hilang. Sehingga Arin mengisinya pas-pasan sejak dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
His Girlfriend [TERBIT]
Teen FictionSUPAYA NGGAK BINGUNG, BACA SESUAI URUTAN! 1. CRAZY POSSESSIVE (TERBIT) - SELF PUBLISH, PESAN DI GUA AJA - 2. EX (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA - 3. HIS GIRLFRIEND (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA - 4. QUEEN (PROSES TERBIT) ADA JUGA SPIN OF YANG BERHUBUNGAN DE...
![His Girlfriend [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/148670398-64-k272907.jpg)