Bab 42. Tragedi Tengah Malam

76.6K 6.6K 825
                                        



Duaaaarrrrr...

Barta langsung bangun. Jantungnya berpacu lebih cepat. Dia menarik nafas panjang lalu meraih ponsel dari atas nakas. Menghidupkan lampu senter, cowok itu menoleh pada sisi ranjang sebelahnya. Lampu padam, kemungkinan besar kabolnya tertimpa dahan pohon yang rubuh. Kilatan petir dari luar, semakin menyilau dari balik gorden yang tipis.

Barta memang tidak suka kalau kamarnya tertutup rapat gorden tebal. Biasanya dia selalu menyisakan lapisan gorden yang tipis berwarna putih atau cream.

Dia tersentak, baru menyadari jika Phoebe tidak ada di sana. Ingatannya kembali pada tadi malam. Dia mengusir Phoebe tidur di luar karena sama sekali tidak bisa menjawab soal pertanyaan yang diberikannya.

Buru-buru beranjak dari ranjang, cowok itu turun ke bawah sembari memanggil istrinya. Sama sekali tidak ada sahutan kecuali kilat dan petir yang menyambar. Barta mulai was-was, Phoebe tidak suka tempat gelap. Cewek itu penakut.

Sama sekali tidak menemukan di sofa, Barta mengerutkan dahi. Mengarahkan cahaya senter pada penjuru ruangan. Di sudut sofa, sebuah gundukan mengagetkannya.

Dia mendekat, lalu membuka gundukan tersebut dengan perlahan. Barta menahan nafas, gundukan itu istrinya. Sedang duduk menutupi seluruh tubuhnya karena ketakutan. Dia juga menangis, tubuhnya gemetaran hebat.

"Bee..." Kata Barta serak.

Phoebe tidak menyahut. Tidak mau mengangkat wajahnya. Dia menelungkupkan wajahnya di antara kedua kakinya yang ditekuk. Memeluk dirinya sendiri dan terlihat sangat mengenaskan.

"Bee..." Panggil Barta sekali lagi.

"Bee mau pulang." Jawabnya serak sembari mengangkat kepala.

"Pulang?" Tanya Barta pelan.

"Bee mau sama mama. Bee nggak mau di sini. Bee takut." Tubuh cewek itu masih gemetaran. Dia menggeleng lalu menyeka wajahnya kasar. "Anter Bee pulang."

"Mama kamu nggak di sini."

Phoebe menggeleng, terlihat sangat kesusahan berbicara karena sesegukan. "Anter... anter Bee ke rumah kak Bintang." Pintanya.

"Bee, maaf."

Phoebe kembali menggeleng. "Bee nggak mau di sini. Bee mau pulang."

Barta diam, mendekat pada Phoebe dan menggendong cewek itu yang masih terbalut selimut. Phoebe diam, tidak berontak sama sekali. Ketakutan masih mendominasi dirinya, Phoebe ingin pulang ke rumah Arin.

Phoebe membawa cewek itu kembali ke kamar. Meletakkan pelan-pelan di atas ranjang, lalu dia ikut bergabung. Membawa ke pelukan sembari mengusap-usap wajah Phoebe agar tenang. Barta sangat bersalah kali ini.

"Anter Bee pulang." Pintanya sekali lagi.

"Kamu nggak akan kemana-mana, Bee."

Phoebe menggeleng. "Nggak mau. Bee mau pulang. Bee takut."

"Aku jagain kamu."

"Nggak mau!" Phoebe kembali menggeleng. "Bee mau kak Bintang." Racaunya. "Bee mau nelpon kak Bintang."

"Hujan. Nggak mungkin dia datang."

"Bee mau nelpon kak Bintang." Cewek menjauhkan tubuhnya dan mengambil alih ponsel Barta lalu menekan beberapa nomor. Barta melongo, cewek itu hafal nomor Bintang. "Ka-kak, je-jemput Bee sekarang. Bee takut. Bee di rumah Barta." Cewek itu menggigiti kukunya. "Bee mau sekarang. Bee nggak mau di sini."

His Girlfriend [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang