Bab 75. Tidak Seperti Biasa

65.6K 6.8K 580
                                        

Urutan Ternajong!

.

.

.

.

Stef, Barta, Romoe, Kevin -


     ***


    "Bee, ayo makan dulu."

Barta mengajak Phoebe setelah selesai mandi. Dia menyampirkan handuk basah di gantungan lalu beralih pada Phoebe yang sedang bermalas-malasan di atas ranjang. Phoebe tidak merespon pertanyaannya, dia yakin istrinya itu belum tidur.

"Bar, geser, Bee nggak bisa nafas." Phoebe mendorong dada Barta yang sedang mengecupi wajahnya.

Barta mencibir, mengecup sekali lagi tanpa mau beranjak dari tempatnya. "Mau makan apa, Bee? Adeknya pengin apa lagi?" Phoebe diam. "Mau makan sate? Nasi goreng?" Barta menawarkan makanan kesukaan istrinya.

Phoebe menggeleng. "Bee nggak pengen makan apa-apa. Bee masih kenyang." Jawabnya menghela nafas berat lalu memejamkan mata. Sepertit tidak ada efek lagi Barta ada di sana bersamanya.

"Terakhir makan sore, sekarang kamu harus makan lagi." Biasanya Phoebe masih minta makan kalau sudah malam. Dari pada repot, Barta mengajaknya makan lagi sebelum tidur.

"Bee males makan." Jawab Phoebe enggan.

"Bee!" Barta tidak puas dengan respon Phoebe, dia kembali mengecupi wajah istrinya agar kembali seperti semula.

"Bee pengin tidur, Bar. Jangan ganggu." Phoebe kembali mendorong Barta dari tubuhnya lalu mengambil tempat memunggungi suaminya. Barta mengernyit, biasanya Phoebe manja dan nggak bisa jauh darinya. Lalu sekarang? Apa-apaan ini?

"Yaudah kita tidur aja." Kata Barta akhirnya. Sepertinya mood Phoebe memang benar-benar buruk. Dia tetap diam ketika Barta memutar tubuhnya dan memeluk perut buncitnya. Barta mengecup bertubi-tubi dan mengelus-elus lembut.

"Bee pengin tidur, Bar. Jangan ganggu." Phoebe menutup perutnya serta menjauhkan dari wajah Barta.

"Aku pengin tidur sama adek bayinya, Bee. Bukan ganggu kamu." Elaknya. Phoebe diam lalu membiarkan Barta kembali mengecupi perutnya. "Dek, mama kamu kenapa nggak mau makan, hem? Ngambek kenapa lagi?" Tanya Barta pada perut Phoebe.

"Bar, jangan bersuara. Bee pengin tidur!" Phoebe kembali sewot. "Matiin lampunya, Bee nggak bisa tidur!"

Barta memutar bola mata, selain keras kepala, istrinya juga tukang perintah. Dia beringsut mengganti lampu tidur, lalu kembali berbaring dengan wajah di perut Phoebe. Sedangkan istrinya berada pada posisi biasa dengan kepala di ujung ranjang.

Nanti kalau Phoebe lapar pasti bangun malam. Barta tidak merasa khawatir dengan kebiasaan tersebut. Barta kembali mengalah untuk istrinya, asal Phoebe senang dan tidak rewel lagi.

Tetapi hingga keesokan harinya, Phoebe sama sekali tidak bangun. Barta bangun lebih dulu dan menemukan dirinya masih pada poisisi sebelum tidur. Mengecup perut Phoebe lalu beralih pada dahinya, Barta turun dari ranjang untuk lari pagi.

Pagi subuh mengelilingi komplek dan kembali ketika matahari mulai meninggi. Phoebe pemalas baru bangun dan merengek minta ini itu. Barta sudah terbiasa dengan semua keribetan istrinya. Di mulai dari hal terkecil yang tidak berguna hingga ke hal yang lebih serius. Semua harus dibantu oleh Barta.

His Girlfriend [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang