"Bar, Bee takut kalau manjat setinggi ini."
Phoebe menggeleng enggan. Barta mengajaknya naik pagar di belakang sekolah. Mereka sudah pasti terlambat masuk, tapi Phoebe tidak tahu jika mereka harus memanjat seperti ini untuk masuk kelas.
"Bawel!" Barta berdecak. "Ayo, aku bantuin!"
"Nanti kalau ada apa-apa sama dede bayinya gimana?"
"Jangan kenceng-kenceng!" Barta melotot kesal. Cewek itu cemberut dan meraih tangan Barta yang masih terulur. "Besinya jangan sampe kena perut." Phoebe mengangguk, lalu menaikkan sebelah kakinya pada tumpuan pagar besi yang tinggi.
Tepat di atas pagar, jantung Phoebe semakin berdetak kencang. Barta menyuruhnya memegang pagar besi kuat-kuat agar tidak jatuh, sementara dia sudah turun duluan.
"Bar, takut."
"Ayo sini." Barta siap menangkapnya.
"Nggak mau."
Barta berdecak. "Sini!" Dia meraih tangan Phoebe dan membawanya turun. Cewek itu semakin ketakutan sehingga meremas tangan Barta kuat. "Cepet, Bee. Nanti ketahuan." Phoebe mengangguk, menjatuhkan tubuhnya dan segera ditangkap oleh Barta. Cewek itu tidak berani membuka mata. Dia memeluk erat leher Barta. "Udah, turun." Barta mengagetkannya.
Phoebe membuka mata lalu turun dari gendongan Barta. Cowok itu parkir sembarangan di luar. Sudah biasa jika terlambar seperti ini. Pemilik kantin di luar sudah kenal betul dengannya.
"Bar, kalau dikelas Bee udah ada guru, gimana?"
"Ini baru bubar upacara. Ngasih alasanlah kalau udah ada."
"Alesannya apa?" Begonya Phoebe kumat. Barta geram ingin menjitak kepalanya.
"Ke toilet atau apa gitu!" Ucapnya. "Lo bego banget jadi orang! Heran, sama sekali nggak punya alesan apapun di otaknya!" Maki Barta tidak tahan lagi menghadapi istrinya.
Phoebe hanya mengerucutkan bibirnya. Barta melempar tas pada Phoebe, tapi cewek itu tidak berhasil menangkapnya. Malah jatuh ke tanah yang berumput. Dia memungutnya dan mengibas-ibaskan dari noda yang menempel.
Barta terlebih dahulu mengantar Phoebe ke kelasnya. Kembali meraih tas cewek itu dan melempar dari jendela. Sudah ada beberapa yang di kelas, Barta menyuruhnya untuk meletakkan di meja Phoebe. Lalu menarik tangan cewek itu menuju depan kelas.
"Masuk sana." Suruh Barta kemudian setelah mereka di ujung koridor. Phoebe menoleh padanya. "Sekarang! Belum ada guru."
Phoebe mengangguk, lalu cowok itu berlalu melewatinya. Jantung Phoebe berdetak cepat lagi. Kali ini bukan karena takut, tapi begitu bahagia karena Barta memperhatiannya. Cowok itu mengantarnya ke kelas. Selama mereka dekat hingga menikah, baru kali ini Barta mau begitu perhatiannya padanya.
Kelas mereka tidak begitu berjarak. Phoebe masih bisa mendengar percakapan cowok itu dengan Stef yang tiba-tiba nongol dari kantin pastinya atau dari toilet.
"Dari mana lo? Bolos upacara sama siapa?" Tanya Stef mengerutkan dahi.
"Sama cewek gue!" Balas Barta sekenanya.
Stef menggeleng haru. "Wah, sekarang lo ngajak Phoebe bolos. Ngajarin sesat lo, njir!"
"Berisik!" Barta melewati Stef memasuki kelasnya. Sama sekali tidak tertarik meladeni kicauan Stef yang upnormal.
***
Phoebe tak sabaran ingin tiba di rumah karena hari ini sepupu Barta akan datang untuk menemani mereka selama mertuanya melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Barta sedikit heran melihatnya. Kali ini Phoebe tidak bersama Azalea ketika pulang sekolah, cewek itu sudah ada di parkiran menunggu kedatangan Barta.
KAMU SEDANG MEMBACA
His Girlfriend [TERBIT]
Teen FictionSUPAYA NGGAK BINGUNG, BACA SESUAI URUTAN! 1. CRAZY POSSESSIVE (TERBIT) - SELF PUBLISH, PESAN DI GUA AJA - 2. EX (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA - 3. HIS GIRLFRIEND (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA - 4. QUEEN (PROSES TERBIT) ADA JUGA SPIN OF YANG BERHUBUNGAN DE...
![His Girlfriend [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/148670398-64-k272907.jpg)