Phoebe dan Barta pulang sekitar jam tujuh malam dari mall. Langsung ke rumah Arin yang baru juga pulang dari luar kota. Phoebe sangat merindukan Arin, sehingga ketika sudah sampai di perumahan senyumnya tidak memudar.
Dia turun lebih dahulu dari mobil, mencari keberadaan Arin di rumah sambil memanggil-manggilnya. Phoebe menemukan Arin sedang menyiapkan makan malam mereka di dapur, tersenyum lebar dan mereka berpelukan erat.
"Bee kangen banget, ma." Katanya tersenyum lebar.
"Mama juga." Jawab Ari tersenyum. "Kamu gimana selama mama tinggal? Sehat? Adek bayinya juga sehat?
Phoebe mengangguk membenarkan, lalu "Barta mana? Kemana ditinggal?"
"Ada di luar." Jawab Phoebe tidak mau tahu. Mereka kedian menoleh melihat Barta datang, otomati mengurai pelukan keduanya dan Arin menerima sambutan tangan Barta untuk menyalaminya.
"Gimana kabar mama?" Tanya Barta.
"Alhamdulillah sehat." Jawab Arin tersenyum. Barta langsung ke kamar Phoebe setelah berbasa basi sedikit, sedangkan istrinya masih bermanja-manja dengan mertuanya.
Phoebe kembali ke kamar untuk membersihkan badannya ketika Barta sudah selesai mandi. Dia duduk santai sambil menyandar pada ujung ranjang.
Lalu setelah Phoebe selesai mandi, mereka kembali menemui Arin di ruang makan. Dia sangatb antusias, Arin memasak beberapa jenis makanan kesukaannya. Mencicipi satu persatu dan memuji semuanya sangat enak.
Barta tersenyum lebar meskipun sedikit meringis dengan kelakuan kekanak-kanakan istrinya. Makin hari makin bocah, Phoebe tidak mudah berubah menjadi dewasa seperti keinginannya.
Tetapi semua butuh proses. Barta tahu akan hal itu, sehingga dia tidak pernah memaksa Phoebe atau memarahinya lagi seperti awal-awal pernikahan.
"Bee, hebat bisa dapat nilai enam. Lebih tinggi dari nilai sebelumnya." Puji Arin tersenyum bangga.
Phoebe mengangguk semangat dan menelan makanannya, "Iya, ma. Barta yang ngajarin Bee sampe bisa. Tiap hari dan malam di ajarin, terus Barta bikin banyak catatan di buku dan ditempelin di dinding. Bee suka banget, makin gampang belajarnya."
Arin tersenyum dan menoleh pada Barta yang tengah makan, tidak terpengaruh dengan pujian Phoebe yang berlebihan untuknya.
"Tidurnya selalu di atas jam dua belas malam. Cuma sekali Barta nyuruh Bee nggak belajar lagi jam sepuluh malam. Katanya Barta kang..."
"Sh..." Barta terkejut dan langsung meraih tangan Phoebe di atas meja. Menggenggam erat agar Phoebe tidak melanjutkan ceritanya lagi.
"Bar, kenapa? Kamu mau nambah?" Tanya Phoebe mengeryit, berhenti berbicara ketika Barta meraih tangannya.
"Iya." Jawab Barta mengangguk.
Phoebe mengernyit, piring Barta masih penuh tetapi minta tambah. "Ini kan piring kamu masih..."
"Mau sambel di samping kamu." Jawab Barta cepat.
Phoebe menoleh ke samping dan menyengir lebar, "Maaf, Bar. Bee lupa geserin." Kata Phoebe menggeser wadah sambal di sampingnya pada Barta.
"Kamu selesaiin makan dulu baru cerita nanti lagi. Mama baru pulang udah di ajak cerita panjang lebar." Cibirnya meringis.
Phoebe menoleh pada Arin yang tersenyum maklum, "Maaf, ma. Bee kangen jadinya kelepasan cerita panjang lebar."
KAMU SEDANG MEMBACA
His Girlfriend [TERBIT]
Teen FictionSUPAYA NGGAK BINGUNG, BACA SESUAI URUTAN! 1. CRAZY POSSESSIVE (TERBIT) - SELF PUBLISH, PESAN DI GUA AJA - 2. EX (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA - 3. HIS GIRLFRIEND (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA - 4. QUEEN (PROSES TERBIT) ADA JUGA SPIN OF YANG BERHUBUNGAN DE...
![His Girlfriend [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/148670398-64-k272907.jpg)