Bab 45. Pilihan

72K 6.3K 314
                                        



            Hingga pulang sekolah, Phoebe tidak tenang dengan perkataan Barta di gudang tadi. Cewek itu banyak melamun dan mengasingkan diri. Jika biasanya masih mau berbicara panjang lebar dengan temannya, kali ini Phoebe menutup semua akses kepedualiannya.

"Bee nggak mau pulang." Gumannya pelan.

Phoebe membiarkan teman-temannya berhamburan keluar dari kelas. Waktunya pulang begini sangat ricuh. Phoebe ingin menenangkan diri dengan kesunyian. Dia menyusun bukunya ke dalam tas dan keluar paling akhir. Phoebe menundukkan kepala dan cemberut, tetapi di depan kelasnya dia berhenti serta mengangkat kepala.

Ada Barta di depannya.

Phoebe menahan nafas, dia mulai salah tingkah diperhatikan intens begitu oleh suaminya. Akhirnya dia memilih kembali menunduk dan pura-pura tidak menyadari keberadaan Barta di sana. Dia kembali melanjutkan langkahnya dan diikuti dari belakang. Koridor sekolah sudah mulai sepi. Kekuatan jam pelajaran selesai, semua langsung berhamburan meninggalkan sekolah.

Entah apa yang dikejar, belum tentu semuanya langsung pulang ke rumah masing-masing. Selalu ada beberapa yang mampir kemana-mana dulu, pulangnya baru tengah malam. Itu juga karena ditelponin dari rumah nyuruh pulang.

Phoebe menggoyang-goyangkan salah satu kakinya dan masih menunduk. Kedua tangannya berada di bagian pinggang memegang tali ranselnya. Entah apa yang menarik di sepatunya, cewek itu berdiri di depan sekolah menunggu kedatangan Bintang.

Sedangkan Barta berdiri tidak jauh darinya. Memperhatikan Phoebe dengan seksama. Cewek itu mengenakan seragam khusus sekolah mereka, sepatu putih, ransel merah jambu dan cardigan berwarna hitam. Dia juga menguncir rambutnya dengan pita warna merah jambu.

Kekanak-kanakan!

Barta menahan nafas. Bocah seperti itu yang telah menjadi istrinya dan sekarang sedang mengandung anaknya.

Dia menoleh pada perut Phoebe. Cewek itu masih seperti posisi semula. Perutnya belum kelihatan membesar. Seragam yang Phoebe kenakan tidak ketat, masih ada ruang sehingga pernafasannya juga tidak terganggu.

"Bee, maaf ya. Kakak terjebak macet."

Barta memperhatikan interaksi mereka. Phoebe menyengir maklum dan menggeleng ceria. Sama sekali tidak menunjukkan wajah muramnya tadi. Cewek itu pandai sekali menyimpan perasaannya.

"Bee juga baru kok, kak. Tadi Bee keluar paling akhir dari kelas." Jawab Phoebe.

Bintang mengangguk dan mengacak-acak rambutnya. "Mau makan dulu atau langsung ke rumah sakit?" Lalu dia tersadar dengan tatapan dari samping mereka. "Bee, kamu mau pulang?" Tanya Bintang memandang Barta.

Phoebe menggeleng dan ikut menoleh pada Barta. "Nggak, kak. Bee mau sama kakak."

Bintang tersenyum tipis. "Kalau mau pulang nggak masalah, Bee. Kamu ditungguin tuh." Katanya lembut.

Phoebe menggeleng. "Bee nggak mau pulang." Kukuhnya.

"Yaudah, pamit dulu sama Barta. Jangan dicuekin."

Phoebe langsung cemberut, tidak menyadari Barta yang ternyata sudah ada di sampingnya. "Saya mau bawa Phoebe pulang." Cewek itu terkejut dan menoleh ke samping. Barta menggenggam tangannya erat.

Bintang yang dewasa tersenyum maklum. "Bee..."

"Nggak mau." Potong Phoebe cepat dengan tangisan dan melepaskan genggaman tangan Barta. "Bee mau pulang sama kak Bintang."

His Girlfriend [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang