SUPAYA NGGAK BINGUNG, BACA SESUAI URUTAN!
1. CRAZY POSSESSIVE (TERBIT) - SELF PUBLISH, PESAN DI GUA AJA -
2. EX (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA -
3. HIS GIRLFRIEND (TERBIT) - ADA DI GRAMEDIA -
4. QUEEN (PROSES TERBIT)
ADA JUGA SPIN OF YANG BERHUBUNGAN DE...
Cengir cewek itu bersemangat. Barta menggeram, Phoebe sama sekali tidak bisa mengerjalan soal essay yang diberikannya. Itu pelajaran yang sangat mudah. Bukan dari jurursannya, tapi hanya melihat beberapa saat Barta langsung paham dan mampu mengerjakan soal pertanyaan.
Phoebe mengalihkan perhatian Barta karena sudah bosan belajar. Phoebe hampir menangis karena sama sekali tidak bisa mengerjakannya, sehingga suara Barta semakin meninggi. Emosinya terpancing hanya mengajari cewek itu.
"Nggak bisa! Kerjain ini dulu." Barta menggeeleng sembari mengangsurkan bukunya.
"Bee, nggak bisa ngerjain." Cewek itu cemberut. "Bee lupa."
Barta berdecak. "Terus apa yang kamu kerjain selama tiga tahun sekolah?" Tanyanya. "Bentar lagi ujian, Bee. Menguji pengetahuan kamu selama tiga tahun." Cewek itu malah semakin cemberut.
"Ini pertanyaannya susah. Seingat Bee ini pake rumus panjang." Belanya.
Barta meringis. "Lebih panjang mana dari ini?" Barta menunjukkan buku tulisnya. Phoebe melebarkan mata, satu soal saja jalan penyelesaiannya hampir dua lembar buku.
"Cara selesaiinnya sepanjang ini?" Tanyanya tidak percaya.
"Menurut kamu?!"
Phoebe cemberut lagi. "Bee nggak hapal kalau sepanjang ini." Barta berdecak kesal. Ingin sekali menguliti cewek itu hidup-hidup.
Ternyata seperti ini yang dirasakan oleh Romeo selama ini mengajari Queensha. Cewek itu lebih parah dari Phoebe. Otaknya nol, sama sekali tidak bisa mengerjakan tugasnya sendiri. Wajar jika Romeo mengosilasikannya dan sama sekali tidak ada yang tahu keberadaannya selain teman-teman terdekatnya.
Barta mendengkus. Kenapa cewek kerap kali lebih bodoh dari cowok? Apa susahnya seperti Nina yang masuk akselerasi? Atau Citra yang selalu menjadi juara paralel di sekolah? Kevin dan Stef pasti bangga banget punya cewek macem mereka.
Tidak seperi Barta dan Romeo yang bisanya gigit jari kalau ditanya tentang cewek mereka. Bikin kesal ingin menabok muka cantik mereka.
Tapi dosa. Durhaka sama istri.
"Bar..." Cewek itu memanggil merengek.
"Kita mulai dari pelajaran kelas satu." Kata Barta akhirnya. Meraih buku paduan milik Phoebe dan meletakkan di depan cewek itu. "Pelajari dulu, nanti aku kasih pertanyaan." Lanjutnya.
Phoebe langsung malas, ingin sekali menutup semua buku itu dan tidur. Belajar bukan keinginan Phoebe, dia pusing melihat semua bacaaan dan angka-angka yang tertera di sana.
"Besok lagi aja bisa? Bee udah ngantuk." Ucapnya.
"Nggak bisa!" Bart menggeleng. "Kamu lulus seenggaknya punya nilai pas-pasan, nggak boleh minus."
"Tapi ini susah. Terus ujian juga seminggu lagi kan."
"Justru itu. Seminggu ini kamu nggak boleh keluar rumah. Belajar di rumah setiap hari. Pulang sekolah langsung belajar." Kata Barta galak.
Barta menggeram. "Nanya sekali lagi, kamu tidur di luar!"
Phoebe langsung menutup mulut rapat-rapat. Mana mau dia tidur sendiri di luar. Meskipun Barta sering memunggunginya jika kesal, tetap saja Barta tidak bisa berpisah darinya. Sejak mereka sering tidur bareng, Phoebe tidurnya tidak pernah pulas lagi.
"Tapi kamu janji akan rajin makan sayuran dan minum susu kalau Bee rajin belajar ya." Kata cewek itu memberi kesepakatan. "Tiap Bee bisa jawab soal pertanyaan, kamu juga harus minum susu."
"Terserah!" Balas cowok itu malas. "Sekarang pelajarin dulu!"
Phoebe mengangguk, dia mulai mempelajari bukunya kelas satu dulu. Sedangkan Barta menulis soal pertanyaan di buku lain.
Mereka berdua belajar di kamar. Duduk berdampingan di atas karpet beludru dengan meja kecil berbentu persegi di depan keduanya.
Sesekali Phoebe mengintip Barta yang sedang menulis, lalu dia membaca materi yang akan di uji. Dia tersenyum senang, lalu berkomat-kamit untuk menghapalnya.
Sekitar setengah jam kemudian, Barta mengangsurkan soal pertanyaan untuk Phoebe. Cewek itu menahan nafas dan hanya memandangi soal pertanyaan tersebut. Sekilas masih ingat bahwa semua itu ada di buku yang dia pelajari tadi. Tapi sudah lupa, Phoebe mengembulkan pipinya dan memukul-mulu pelan dengan balpoin.
Dia menyengir, ternyata Barta memandangnya tajam. Cewek itu salah tingkah, lalu menunduk sembari menggigit bibir bawahnya. Barta menunggunya Phoebe menyelesaikan soal pertanyaan tersebut.
***
Jakarta, 16.11.18
Sudah ada ig tokoh cerita gue. Silahkan add ig-nya
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.